
Jam sepuluh malam di perjalanan pulang...
"Ampuni aku, Tuhan. Maafkan aku, Tuhan", batin Jerry yang terus meminta ampun kepada Tuhan karena kekhilafannya tadi.
Hampir saja dia melakukan dosa besar.
Lagi-lagi Yura yang menyadarkannya. Yaa walaupun kali ini Yura hadir melalui pikiran Jerry.
"Aku tidak boleh lagi datang ke apartemen Fely. Dia akan terus menggodaku. Aku lelaki normal. Pertahananku bisa runtuh kalau Fely terus menggodaku dengan tubuh seksinya. Yaa meskipun dia kekasihku, tapi dia tidak boleh menggodaku seperti itu", Jerry berbicara dalam hatinya.
Tiga puluh menit kemudian Jerry sudah tiba di rumah pribadinya.
"Pak, berhenti ya", Jerry menyapa Supir Taksi yang ditumpanginya.
Karena tadi siang Jerry membawa mobil Fely ketika menghantarkan Fely pulang, jadi malam ini dia menggunakan taksi ke rumahnya.
"Terimakasih, Pak", kata Jerry setelah membayar ongkos taksinya lalu dia turun.
"Mas, kamu sudah pulang? Bagaimana hari ini? Sepertinya kamu sangat bahagia ya, Mas", Yura menyapa Jerry yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"Sedang apa kamu di kamarku?", tanya Jerry dengan ketus.
__ADS_1
"Aku baru saja selesai menyetrika, Mas. Sekarang sedang merapikan pakaian kamu di dalam lemari", jawab Yura dengan lembut.
"Oh, setelah selesai kamu boleh keluar. Aku mau mandi, terus aku mau tidur", kata Jerry.
"Kamu sudah makan, Mas? Aku sudah masak loh. Tadi aku pulang cepat, jadi aku bisa masak untuk makan malam. Oh iya, aku sudah makan, Mas. Jadi kalau Mas Jerry lapar, bisa ambil sendiri di dapur ya", Yura berbicara dengan sabarnya.
"Yasudah kalau begitu aku makan dulu. Kebetulan tadi belum sempat makan", kata Jerry.
"Emang kamu dari mana, Mas? Tega sekali kekasihmu itu tidak menyiapkan makan malam untukmu", sindir Yura.
"Bukan urusanmu", jawab Jerry sambil keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil makan malam setelah itu dia ke meja makan.
"Masakan Yura benar-benar enak, dia memang ist...", belum selesai Jerry berbicara dalam hatinya sambil menikmati makan malamnya, dia tersadar akan ucapannya (dalam hati) barusan.
"Ist-ri?" tanya Jerry kepada dirinya sendiri.
"Aku bahkan tidak pernah memperlakukannya layaknya seorang istri. Bahkan di rumah ini dia seperti pembantu. Dia harus membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyetrika, mencuci piring, bahkan dia memasak untukku. Nafkah lahir dan batin juga tidak pernah aku berikan kepada Yura. Aku juga tidak pernah mau berangkat kerja bersama dia. Dan kejadian di kantor tadi siang pasti sangat menyakiti hatinya", Jerry berbicara pada dirinya sendiri.
"Apa aku layak disebut sebagai suami?" tanyanya lagi.
Setelah selesai menghabiskan makan malamnya, Jerry kembali ke kamar tidurnya.
__ADS_1
"Hei, kenapa kamu belum kembali ke kamarmu? Kenapa malah tidur di ranjangku?" Jerry terkejut melihat Yura tidur di ranjangnya.
"Mas, mulai malam ini aku tidur disini. Kamar kamu adalah kamarku juga. Kamu suamiku, Mas jadi kita tidak boleh tidur terpisah", jawab Yura sambil tersenyum ke arah Jerry.
"Barang-barangku besok saja aku pindahin, aku sudah sangat lelah hari ini, Mas. Lelah lahir dan batin", kata Yura.
"Yasudah, sekarang kamu mandi terus istirahat. Kamu pasti sangat lelah hari ini. Entah apa yang sudah kamu dan kekasihmu lakukan", sindir Yura tanpa melihat Jerry.
"Aku tidur ya, Mas" kata Yura lagi lalu menutup matanya sambil memeluk bantal guling kesayangan Jerry.
Hehehe.. Yura sudah mulai berani sindi-sindir sekarang.
"Hah? Ada apa dengan dia? Tidur seranjang denganku? Dia memeluk bantal guling kesayanganku pula", batin Jerry yang masih berdiri di depan pintu.
"Aishh bodo amatlah. Aku mau mandi dulu." Kemudian Jerry membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Jerry langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Yaa, saat ini Yura sudah tidur dengan lelap menghadap ke arah Jerry.
Sejenak Jerry memperhatikan wajah cantik istrinya.
"Selamat tidur, Yura. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaanmu", batin Jerry lalu dia tidur memunggungi Yura.
__ADS_1