Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Gara-Gara Dave


__ADS_3

Empat hari kemudian...


"Selamat ya, Bro, akhirnya sah. Lu bisa bebas mau enak-enak tanpa alasan khilaf", ucap Jerry sambil memeluk Ryan.


"Asli. Udah gak sabar gue, Bro", balas Ryan.


"Selamat ya, Ry. Semoga segera diberi momongan", ucap Yura yang berada di belakang Jerry.


"Thanks ya, Nyonya CEO", jawab Ryan dengan senyum sumringahnya.


"Bel, sabar-sabar ngadepin Ryan sang penakluk ini. Harus banyak makan, biar stok energi kamu banyak untuk melayani dia", ucap Jerry kepada Bella.


"Papi, ngomong apa sih? Itu kan privasi Ryan dan Bella", Yura mencubit lengan Jerry.


"Gak apa-apa Bu Yura. Pak Jerry benar, aku harus punya banyak stok energi untuk melayani naf-su li-ar nya Ryan. Liat aja tuh matanya bu-as banget ngeliatin aku", jawab Bella yang membuat Ryan gemas kepadanya.


"Tunggu beberapa jam lagi ya, Sayang", bisik Ryan yang membuat Jerry, Yura, dan Bella tertawa.


"Udah agh, ayok, Pa. Kelamaan kita berdiri disini, orang-orang antri mau salaman juga", ajak Yura.


"Oh iya", ucap Jerry menoleh ke belakang tanpa mengeluarkan suara.


"Ry, Bel, kami balik ke kursi ya", ucap Jerry sambil melambaikan tangannya.


Di kursi tamu...


"Apaan sih nih cewek, ga jelas banget", gerutu Dave yang sedari tadi merasa terganggu dengan notifikasi yang masuk ke handphone nya.


"Dave, kenapa? Kayak suntuk bener?", Jerry dan Yura menghampiri Dave.


"Gimana gak suntuk, Pak. Si Joanna udah dua minggu ini WA in saya terus", jawab Dave.


"Joanna?", tanya Yura.


"Joanna mana sih, Dave? Manajer HRD yang di Palembang?", tanya Jerry.


"Iya, Pak Jerry. Siapa lagi. Si centil itu gangguin saya terus", jawab Dave.


"Kog bisa?", tanya Jerry lagi.


"Kenapa, Papi? Cemburu?", tanya Yura.

__ADS_1


"iih, apaan sih, Mam. Justru Papi senang, akhirnya Papi terbebas", jawab Jerry sambil mengu-lum senyum dan melirik ke arah Dave.


"Gak tau tuh, Pak. Semenjak ketemu di supermarket dua minggu lalu, dia jadinya WA in saya terus. Ngomongin hal gak penting", jawab Dave.


Flashback on.


Sepulang dari Cafe, Rio dan Joanna mampir ke Supermarket. Rio menunggu di mobil, hanya Joanna yang masuk untuk membeli minum.


Kebetulan saat itu Dave juga sedang berada di supermarket yang sama, karena supermarket itu milik Pak Edward, Papanya Dave, jadi Dave sering kesana untuk sekedar melihat-lihat (iyalah, iyalah, iya Author tahu, itu kan bakal jadi milik Dave. Jadi Dave harus memastikan kalau supermarkat yang sangat besar itu berkembang dengan sehat).


"Bu Joanna, ngapain disini?", tanya Dave saat Joanna sedang duduk sambil meneguk air minumnya.


"Hei, kamu Dave kan? Sekretarisnya Pak Jerry?", Joanna balik bertanya yang dibalas anggukan oleh Dave.


"Saya haus, jadi mampir beli minum. Kamu sendiri ngapain?", tanya Joanna lagi.


"Oh, saya mau beli makanan ringan. Buat teman main game", jawab Dave asal.


"Oh, gitu", balas Joanna.


"Yaudah, Bu Joanna, lanjutin minumnya. Saya tinggal ya", ucap Dave.


"Eh, Dave, tunggu. Boleh minta nomor kamu?", Joanna memanggil Dave yang sudah berjalan tiga langkah.


"Oh, bo..bolleh sih, Bu", jawab Dave terbata.


"Masukin nomor kamu disini", Joanna menyodorkan handphonenya.


"Ini, Bu", ucap Dave setelah menyimpan kontaknya di handphone Joanna.


"Yaudah, saya tinggal ya, Bu", ucap Dave lagi dengan ramah dan sedikit terburu-buru (karena Dave sebenarnya malas lama-lama dekat si centil Joanna. Hahaha).


"Thank you, Dave", balas Joanna.


"Ganteng juga brondong satu itu", batin Joanna sambil tersenyum sumringah.


Flashback off.


"Dia naksir sama kamu berarti", ledek Jerry.


"Apaan sih, Pak Jerry. Dia kan naksir berat sama Pak Jerry. Jangan pura-pura gak tahu deh, Bos", Dave meledek balik sambil melirik Yura yang langsung memelototi Jerry.

__ADS_1


"Eh eh eh, kog malah jadi saya. Udah udah udah. Kamu urusin aja si Joanna itu. Saya sama Yura mau pulang. Baby Charlie kami titipin di rumah Mama. Kayaknya sudah haus, pengin minum ASI Maminya. Jadi kami gak boleh lama-lama", Jerry langsung menggandeng Yura dan mengajaknya pulang.


"Ayok, Mami", ajak Jerry.


"Dave, kami duluan ya", ucap Yura dengan wajah datar.


"Iya, Bu", jawab Dave sambil menahan tawa.


"Emang enak dijutekin Nyonya CEO. Lagian pake acara ngeledekin saya sih pak Jerry", batin Dave yang akhirnya tertawa kecil setelah Jerry dan Yura pergi.


Di mobil...


"Mami, kog diem aja dari tadi?", tanya Jerry sambil tetap fokus menyetir.


"Emang harus ngomongin apa?", tanya Yura dengan jutek.


"Yah gak ada apa-apa sih", jawab Jerry dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Seneng ya, ditaksir berat sama Joanna. Seneng bangetlah pasti", sindir Yura.


"Mami, kog jadi ngomongin dia? Kan sekarang dia sukanya sama Dave, bukan Papi lagi", ucap Jerry sedikit merengek.


"Oh, jadi Papi ngaku nih kalo Joanna pernah suka sama Papi", balas Yura.


"Papi bukannya ngaku, Mam, tapi semua orang juga tahu. Hehehehe. Tapi yang penting sekarang kan dia sukanya sama Dave", jawab Jerry.


"Gara-gara, Dave nih. Bini gue jadi cemburu dan cemberut gini", batin Jerry sambil melirik ke arah Yura yang duduk di sebelahnya.


"Mam, jangan cemberut lagi ya. Senyum lagi donk. Biar Papi semangat. Papi udah puasa beberapa minggu loh, Mam. Masa' Mami cemberutin Papi lagi karena hal ini. Plis, Mam", bujuk Jerry.


"Hufth. Awas ya kalo Papi macem-macem di belakang Mami", ucap Yura.


"Gimana mau macem-macem coba kalo punya istri sesempurna kamu, Mam", goda Jerry.


"Udah agh, fokus nyetir aja. Gak usah ngegombal", jawab Yura yang tidak bisa menyembunyikan senyum manisnya.


"Nah, gitu donk. Kan Papi senang, Papi semangat kalo Mami senyum", ucap Jerry sambil tangan kirinya meraih tangan kanan sang istri, lalu menciumnya.


"I love you", ucap Jerry.


"I love you too, Papi", balas Yura.

__ADS_1


__ADS_2