Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Kembalilah, Sayang


__ADS_3

"Halo, Jer, udah sehat lu?", tanya Ryan melalui sambungan telepon.


""Gue sehat kog, Ry. Tapi kayaknya selama beberapa hari ini gue gak ke kantor dulu ya, Ry. Tolong lu bilang sama Dave, biar dia reschedule jadwal gue sampai hari Jumat nanti. Gue belum simpen kontaknya Dave, jadi gak bisa telepon dia", jawab Jerry.


"Ada sesuatu yang terjadi kah, Jer? Cerita sama gue", ucap Ryan yang mengkhawatirkan Jerry, mengingat tadi siang ketika meeting, raut wajah Jerry tidak seperti biasa.


"Gak terjadi apa-apa, Ry. Semua baik-baik aja", jawab Jerry.


Yaa, Jerry tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi tadi siang kepada Ryan. Apalagi kata-kata Jerry yang sangat keterlaluan. Rasa cemburunya benar-benar membuat otaknya tersumbat, jadi tidak bisa berpikir jernih. Kalau sampai Ryan tahu apa yang Jerry lakukan kepada Yura, sudah dipastikan dia akan mendapat bogeman lagi dari Ryan, seperti yang pernah Ryan lakukan dulu ketika Jerry memeluk Fely di hadapan Yura. Karena Ryan tidak akan terima apabila Jerry bersikap kasar kepada Nyonya CEO nya. Sama halnya dengan Albert, Ryan sangat memperhatikan Yura. Bedanya, Albert mencintai Yura, walaupun orangtua Yura menganggapnya seperti anak sendiri, sedangkan Ryan menganggap Yura seperti adiknya sendiri, mengingat Ryan adalah anak tunggal.


"Yakin, Jer?", tanya Ryan lagi.


"Iya, Ry. All is well. Kalau ada apa-apa yang benar-benar genting di kantor, hubungi gue ya. Tapi kalau semua aman-aman saja, tolong lu handle dulu sampai gue masuk kantor lagi. OK", titah Jerry.


"Gue lagi pengen jadi kaum rebahan dulu, Ry. Sekalian nemenin Yura yang lagi seneng mageran. Hehehe", bohong Jerry.


Padahal sebenarnya Jerry takut kalau Yura nekat pergi dari rumah apabila dia sedang tidak berada di rumah, walaupun hanya ke kantor. Sampai dia memastikan bahwa Yura sudah benar-benar memaafkan dirinya dan tidak ingin bercerai lagi, barulah dia yakin untuk kembali ke kantor atau meeting ke luar kota.


"Pokoknya lu jangan mendam masalah lu sendiri ya, Jer. Lu bisa cerita sama gue", balas Ryan.

__ADS_1


"Iya, Ry. Thanks karena sudah jadi sahabat baik gue. Yaudah, gue tutup teleponnya yaa. Gue mau ngelonin istri gue", Jerry mengakhiri percakapan mereka.


"Enak banget yang udah punya istri. Doain gue biar cepat nikah, biar bisa kayak lu Jer, bisa bermesraan sama istri", ucap Ryan.


"Yaudah, gue gak mau ganggu kalian. Gue tutup teleponnya ya", Ryan mengakhiri panggilannya.


Tiga jam kemudian...


Tok.. tok.. tok..


"Sayang, bukain pintunya sebentar donk", panggil Jerry.


"Sebelum tidur, minum dulu susunya", kata Jerry sambil memberikan segelas susu hamil kepada Yura.


"Langsung diminum ya, Sayang, mumpung hangat", tambah Jerry dan dibalas anggukan oleh Yura.


"Terimakasih, Mas", Yura mengembalikan gelas yang sudah kosong.


"Sebelum tidur, jangan lupa berdoa ya, Sayang. Yaudah, tutup lagi pintunya", ucap Jerry.

__ADS_1


Yaa, malam ini Yura kembali tidur di kamar lamanya, sedangkan Jerry tidur di sofa. Bukan sofa depan TV seperti waktu itu, tetapi sofa ruang keluarga yang berada di lantai dua. Jadi Jerry tidur di ruang keluarga? Tidak. Jerry menarik sofa itu ke depan kamar Yura. Dia tidur pas di depan pintu kamar Yura.


Sepertinya Jerry terlalu takut ditinggalkan sang istri.


Rasa takutnya itu sampai terbawa ke dalam mimpi.


"Yura!!! Dimana kamu?? Aku mohon, jangan siksa aku dengan cara ini. Kembalilah, Sayang.. mari kita mulai semua dari nol. Lebih baik aku mati dari pada aku harus kehilangan kamu. Yura, aku mohon, kembalilah, Sayang", Jerry menangis dan menjerit dalam tidurnya.


Karena merasa seperti ada yang memanggil namanya, Yura bangun dari tidurnya dan berjalan menuju pintu kamar, untuk memastikan apakah dia benar-benar mendengar seseorang meneriakkan namanya.


"Astaga, Mas Jerry", Yura terkejut ketika dia membuka pintu, ternyata Jerry tidur di sofa pas di depan pintu kamarnya. Dilihatnya suaminya itu yang masih tertidur namun menangis dan meracau.


"Hikkss.. hikss.. Aku mohon kembalilah, Sayang. Jangan tinggalkan aku, hikss.. hikss", racau Jerry.


"Mas, aku disini", ucap Yura lembut sambil mengelus kepala sang suami.


"Mas, jangan menangis lagi", Yura menghapus air mata Jerry.


Karena merasa pipinya seperti disentuh oleh seseorang, Jerry pun membuka matanya. Spontan dia langsung memeluk Yura ketika melihat istrinya itu duduk di pinggir sofa sambil memandanginya.

__ADS_1


__ADS_2