
"Yura, kamu bicara apa, Sayang?", Bu Mery memeluk Yura.
"Kamu istrinya Jerry. Hanya kamu yang berhak mendapatkan cinta Jerry", Bu Mery menguatkan Yura.
"Mama minta maaf, Sayang. Mama baru tahu kalau ternyata Jerry kembali menjalin hubungan dengan Fely. Tapi kamu harus percaya sama Mama, dalam waktu dekat, Jerry akan sangat mencintaimu", kata Bu Mery meyakinkan Yura.
"Mama, tidak mungkin Mas Jerry mencintaiku. Dihatinya hanya ada Fely. Selama ini Mas Jerry tidak pernah mengakuiku sebagai istrinya kepada Fely. Bahkan tadi Fely datang ke kantor, dia baru mengetahui kalau aku adalah istri Mas Jerry. Fely menangis, Ma. Tapi Mas Jerry malah memeluk Fely dan mengatakan kalau dia hanya mencintai Fely dan dia juga bilang kalau pernikahan kami tidak berlandaskan cinta jadi tidak akan bertahan lama. Mas Jerry sama sekali tidak memikirkan perasaanku saat dia mengatakan itu semua kepada Fely", Yura kembali menangis.
"Nak, lihat Mama. Tadi pagi Fely mengunjungi rumah Mama. Tadinya mama kira dia ingin mengirim undangan pernikahannya dengan lelaki pilihannya yang membuat dia dulu pernah meninggalkan Jerry. Ternyata dia hanya ingin mendekati Mama lagi", kata Bu Mery.
"Mama yang menceritakan tentang pernikahan kalian kepada Fely. Bahkan mama menunjukkan foto pernikahan kalian", kata Bu Mery lagi.
"Sayang, kamu mencintai Jerry kan? Mama bisa melihat itu dari matamu", tanya Bu Mery.
"Iya, aku mencintai Mas Jerry, Ma. Tapi semakin dalam perasaanku, semakin sakit juga hatiku. Bahkan Mas Jerry tidak pernah menyebut namaku, Ma", Yura mengadu kepada Ibu Mertuanya.
"Ya Tuhan, keterlaluan kamu, Jer", batin Bu Mery sambil terus mengelus punggung Yura.
"Sayang, maaf kalau mama harus bertanya. Selama kalian menikah, apakah Jerry pernah menyentuhmu?", tanya Bu Mery.
__ADS_1
Yura menggeleng. "Tidak, Ma. Bahkan kami tidur di kamar yang berbeda", jujur Yura.
"Astagaaa", kata Bu Merry.
"Yura, mulai malam ini kamu harus tidur sekamar dengan Jerry. Kamu harus menjadi wanita yang tegas, Nak. Dia suamimu. Dia milikmu. Tuhan yang mempersatukan kalian berdua. Ayo, Yura, jangan lemah ya, Nak. Jangan menyerah. Kamu harus yakin kalau Jerry pasti akan mencintaimu", Bu Mery mendukung Yura.
"Tapi, Ma.." belum selesai Yura berbicara, Bu Mery langsung memotongnya.
"Percaya sama Mama, Nak. Jerry pasti akan mencintaimu", kata Bu Mery.
"Amin. Doakan kami ya, Ma", pinta Yura.
"Iya, Sayang. Mama selalu mendoakan kalian", Bu Mery kembali memeluk Yura.
"Yura, Mama pulang dulu ya, Nak. Kamu beristirahatlah. Tenangkan hatimu. Ingat pesan Mama, mulai malam ini kalian harus tidur satu kamar", kata Bu Mery.
"Hhhmmm... Bisakah ini menjadi rahasia kita berdua, Nak? Mama minta tolong supaya Papa Yudo, Pak Bram, dan Bu Sinta jangan sampai mengetahui semua ini", pinta Bu Mery.
"Iya, Mama. Aku tidak akan menceritakan apapun tentang masalah ini kepada mereka", Yura memegang tangan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Terimakasih, Sayang", kata Bu Mery.
Jadi sudah terjawab ya, kenapa semalam Yura tiba-tiba tidur di kamar Jerry. Hehehehe.
"Ini bahan meeting siang ini", Yura menyadarkan lamunan Jerry.
Baru saja Yura mau berbalik badan menuju pintu, tiba-tiba Jerry memegang tangannya dan tentu saja langkah Yura terhenti.
"Yura, maafkan aku", Jerry menyebut nama Yura untuk pertama kalinya di hadapan Yura tapi tetap saja Jerry tidak menatap Yura.
"Kamu menyebut namaku, Mas?" tanya Yura.
"Maafkan semua perbuatanku kepadamu selama ini", kata Jerry dan kini dia menatap Yura.
"Aku tidak mau membuatmu terus merasa sedih. Kamu bisa menceraikanku, Yura", kata Jerry lemah.
"Apa maksud kamu, Mas? Cerai? Mas, kamu tahu kan, apa yang sudah Tuhan persatukan tidak boleh diceraikan manusia kecuali maut yang memisahkan", jawab Yura.
"Ada apa denganmu, Mas?" tanya Yura bingung.
__ADS_1
"Tapi aku tidak mencintaimu, Yura", Jerry menatap Yura.
"Tapi aku mencintaimu, Mas", jawab Yura tegas.