
Malam harinya...
"Semoga kita berhasil ya, Sayang. Maaf karena aku sudah membuatmu sangat lelah", Charly memeluk erat tubuh sang istri yang sudah tertidur lelap karena kelelahan setelah permainan pan-as mereka.
Bagaimana tidak? Empat ron-de tanpa jeda, Dita melayani sang suami malam ini.
Tidak hanya malam hari, tadi pagi setelah Pak Edward, Dave, dan Reza pulang, Dita pun langsung melayani Charly. Kemudian tadi sore saat mereka baru bangun dari tidur siang, Charly lagi-lagi meminta haknya. Hari ini Charly dan Dita benar-benar aktif melakukan proses produksi seperti yang dikatakan Charly kepada Pak Edward tadi pagi.
"Tidur nyenyak, Bidadariku. Mimpi yang indah ya. Aku sangat mencintaimu", bisik Sang Dokter tampan tersebut.
Sementara itu di rumah Ryan...
"Bella, tolong kamu jelaskan, apa maksud foto itu!", Ryan marah besar kepada calon istrinya, Bella, setelah Jerry mengirimnya foto mesra Bella dan lelaki asing, saat berada di Coffee Shop kemarin malam.
"Siapa lelaki itu, Bella?!", Ryan semakin meninggikan suaranya.
Bella yang berada di ujung telepon, hanya diam tak bergeming.
"Bella!", bentak Ryan.
"Dari mana kamu mendapatkan foto itu, Ry?", tanya Bella lemah.
"Gak penting aku dapat dari mana, sekarang jawab pertanyaanku, siapa lelaki itu?! Apa maksudnya semua ini? Pernikahan kita sudah di depan mata, Bella!", Ryan masih belum bisa meredam emosinya.
"Dia Rio. Cinta pertamaku dan juga pacar pertamaku, Ry", jawab Bella.
"Apa?", tanya Ryan tanpa mengeluarkan suara.
Ryan melemah, kepalanya disandarkan pada sofa yang sedang didudukinya saat ini.
"Rio baru kembali dari Papua, selama ini dia bekerja di sana", ucap Bella.
"Sebenarnya selama ini kami masih menjalin komunikasi. Dua hari yang lalu, saat tiba di Makassar, Rio menghubungiku dan mengajak untuk bertemu. Kami pun bertemu di salah satu coffee shop. Awalnya aku kira hanya sebatas ketemuan biasa, Ry, tapi..", Bella menggantung kalimatnya.
"Tapi?", selidik Ryan.
"Ternyata dia melamarku", tangis Bella tak dapat dibendung lagi.
"Apa arti dari tangisanmu itu, Bella?", tanya Ryan.
"Maafkan aku, Ry, karena selama kita pacaran, aku tidak jujur sama kamu. Aku juga tidak berterus terang kepada Rio kalau aku mau menikah", jawab Bella yang masih menangis.
"Kamu menerima Rio?", tanya Ryan lagi.
"Gak, Ry. Aku menolaknya. Aku tidak mungkin mengkhianati kamu. Akhirnya, kemarin malam aku jujur kepada Rio kalau aku mau menikah dengan seorang lelaki yang sangat baik bahkan sudah sangat sabar mengikuti semua keinginanku. Aku memilih kamu, Ry, kamu yang akan menjadi suamiku", Bella mencoba meyakinkan Ryan.
"Lalu, apa arti pelukan itu, Bella? Kenapa kamu memeluknya sangat erat dan mesra?", Ryan kembali menginterogasi sang kekasih.
"Rio mengalah, Ry. Dia merelakan aku untuk menikah dengan lelaki pilihanku. Dia ingin agar aku memeluknya selama beberapa menit, untuk terakhir kalinya", jawab Bella.
"Bahkan sampai berciuman?", selidik Ryan.
"Gak, Ry, percaya sama aku, kami tidak berciuman", jawab Bella.
Apakah Xaviera Bella sedang berkata jujur?
__ADS_1
Oke, Author kasih tahu kebenarannya yahh...
Rio Alexandertama, seorang mahasiswa jurusan teknik pertambangan, lelaki tampan dan sangat cerdas, bahkan dia adalah Gubernur Mahasiswa di Fakultas Teknik, di Universitas tempat dia menimba ilmu. Hemmm sudah pasti Rio menjadi incaran para wanita.
Namun hatinya sudah digembok oleh seorang gadis cantik, yang menjadi kekasihnya sejak duduk di bangku SMA, hanya gadis itu yang memegang kunci yang menggembok hati sang arjuna. Yaa, dia adalah Xaviera Bella.
Lulus dari SMA, keduanya kuliah di Universitas yang berbeda, bahkan di Kota yang berbeda pula. Tapi hal itu tidak membuat komunikasi keduanya terputus.
Lima tahun lamanya mereka menjalin hubungan pacaran jarak jauh, tidak membuat perasaan Rio berubah sedikit pun terhadap Bella. Bella adalah satu-satunya wanita yang layak untuk menjadi istrinya suatu hari nanti, menurut Rio.
Yaa, cintanya hanya untuk Bella.
Hingga saat Rio diterima bekerja di Papua, pun Rio tidak mencoba untuk membuka hati untuk wanita lain. Baginya, hatinya hanya milik Bella, sang pemilik kunci.
Lain halnya dengan Bella, saat kuliah tingkat empat, saat sedang sibuk dengan tugas akhir, dia bertemu Ryan yang juga sedang menyelesaikan skripsinya. Waktu itu, keduanya sedang mencari literasi dan buku pendukung di Perpustakaan Daerah, di Kota tempat mereka berkuliah.
Berawal dari saling berbagi informasi dan bertukar pikiran, hubungan keduanya semakin intens, hingga mereka pun berpacaran. Setelah wisuda, Bella kembali ke Makassar. Jerry, sahabat Ryan yang juga berdomisili di Makassar, mengajak Ryan untuk bergabung di Perusahaannya, yaitu Jerryan Corps. Ryan yang seorang fresh graduate, waktu itu, merasa mendapatkan durian runtuh. Bagaimana tidak? Baru saja wisuda, dia sudah mendapat tawaran pekerjaan, dengan gaji yang sangat menggiurkan, di Kota tempat pacarnya berada pula.
Hemm, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui kan? Hehehehe.
Pekerjaan dapat, gaji gede, kekasih hati juga dekat.
Jerry dan Ryan yang sama-sama cerdas dan kompeten, berhasil menjadikan Jerryan Corps menjadi Perusahaan yang semakin bonafit bahkan memiliki cabang di beberapa Kota.
Ryan sangat mencintai Bella. Lima tahun lamanya mereka berpacaran, setelah tiga kali lamarannya ditolak oleh Bella, akhirnya kurang dari tiga minggu lagi mereka akan menikah. Walaupun rencana pernikahan ini bisa terjadi karena waktu itu Ryan pernah khilaf sampai merenggut mahkota keper-awanan Bella. Mungkin kalau kejadian waktu itu tidak ada, Bella sampai sekarang belum mau dinikahi oleh Ryan. Dengan berbagai alasan lah. Hehehehe.
Namun, tidak disangka, ternyata hati Bella belum sepenuhnya menjadi milik Ryan.
Rio, sang cinta pertama, yang kembali dari Papua, karena sedang mengambil cuti, datang untuk melamar Bella, yang selama ini masih dia anggap menjadi pacarnya.
"Honey, sibuk gak? kita jalan yokk", Rio mengirim pesan singkat kepada Bella.
"Ha? Emang kamu dimana, Bee?", balas Bella.
"Aku di rumah, donk, baru aja sampe semalem", balas Rio.
"What? Kog gak ada ngabarin sih", balas Bella.
"Biar surprise donk, Honey. Aku jemput kamu jam tujuh malam ya. Aku kangen banget sama kamu. Banget banget bangeeeet. Pengen peluk kamu", balas Rio.
"Aku juga kangen banget sama kamu, Bee. Gak usah jemput ya, kita ketemuan aja langsung di Coffee Shop Z ya, Bee", balas Bella.
"Siap, Tuan Putri. Dandan yang cantik ya, Honey", balas Rio.
"Spesial untuk kamu, Bee, pasti aku dandan yang cantik", balas Bella.
Dua anak manusia itu pun bertemu di tempat yang sudah ditentukan.
Mereka duduk di bangku yang berada di sudut ruangan. Duduk dengan jarak yang sangat dekat, saling bercerita, bersenda gurau, dan terlihat cinta di mata keduanya.
Tanpa mereka sadari, seseorang memergoki kemesraan mereka dan memotret bahkan merekam mereka dari jarak yang lumayan dekat. Yaa, dia adalah Jerry.
"Honey, kamu sangat cantik, semakin cantik. Aku sangat merindukanmu. Menikahlah denganku", ucap Rio, setelah mereka puas bersenda gurau, sambil memberikan satu kotak kecil berwarna navy kepada Bella.
Belum sempat menjawab lamaran Rio, Bella langsung mematung karena Rio mengecup bibirnya.
__ADS_1
"Bee", Bella reflek menjauhkan dirinya dari Rio.
"Bee, apa ini?", tanya Bella.
"Cincin?", gumam Bella saat membuka kotak tersebut.
"Will you marry me?", tanya Rio sambil mengambil cincin tersebut dan akan memasangkannya ke jari manis Bella.
"Bee...", Bella menggantung kalimatnya.
"Aku juga sangat merindukanmu bahkan aku juga masih mencintaimu. Tapi...", Bella terjeda.
"Masih? Tapi apa, Honey? Kamu mau kan tinggal bersamaku? Kita akan hidup bersama, selamanya", tanya Rio lembut.
"Aku.. Aku akan menikah dengan orang lain , Bee. Maafkan aku", jawab Bella sambil menunduk.
Cincin yang dipegang Rio, kembali dimasukkan ke dalam kotak kecil tersebut. Lelaki tampan itu menarik nafas dalam-dalam untuk mengatur perasaannya.
"Kamu sudah yakin dengan hatimu?", tanya Rio yang membuat Bella ragu.
"Ntahlah, Bee. Tapi kami sudah berpacaran selama lima tahun ini. Dia sangat baik dan sabar. Namanya Ryan. Maafkan aku karena aku seling-kuh di belakangmu, Bee", Bella menangis.
"Honey, lihat aku", Rio memegang dagu Bella agar gadis itu menegakkan kepalanya.
"Aku tidak akan menyalahkanmu karena aku tahu, kamu butuh orang yang bisa selalu ada di dekatmu. Selama ini, aku memang tidak pernah bisa selalu ada untukmu. Aku sadari itu. Kalau memang Ryan sudah menjadi lelaki pilihanmu, aku rela, Honey, asal itu bisa membuat kamu bahagia. Aku berharap, lelaki yang akan menjadi suamimu itu, benar-benar tulus mencintaimu", ucap Rio.
"Kamu gak marah, Bee?", tanya Bella.
"Marahku tidak akan mengubah keadaan, Honey. Sakit hati? Sangat. Aku sangat sakit. Karena aku sangat mencintaimu. Tapi aku juga tidak boleh egois. Walaupun aku jujur, selama dua belas tahun, kunci hatiku masih dipegang olehmu, sampai saat ini. Disini hanya ada kamu, Honey", Rio memegang dadanya.
"Tapi kalau ternyata keadaan tidak berpihak kepadaku dan kamu bukan jodohku, aku bisa apa?", tambah Rio.
"Maafkan aku, Bee", ucap Bella yang masih menangis.
"Kamu mencintainya?", tanya Rio.
"Iya, Bee, aku juga mencintainya. Aku mencintai kalian berdua", jujur Bella.
"Tapi kamu sudah memilih salah satu dari kami, Honey", ucap Rio lembut.
"Ambillah cincin ini, anggap saja itu adalah oleh-oleh yang aku belikan untukmu. Jangan dibuang ya", tambah Rio sambil memberikan kotak kecil itu ke tangan Bella, dengan tersenyum.
"Maafkan aku, Bee", kembali Bella meminta maaf.
"Terimakasih", ucap Bella lagi sambil menggenggam erat kotak kecil berwarna navy pemberian Rio.
"Bolehkah aku minta sesuatu, Honey?", tanya Rio.
"Apa, Bee?", Bella balik bertanya.
"Peluklah aku dengan erat dan mesra dalam beberapa menit, agar rasa rinduku terobati. Setelah itu, tidak ada lagi Bee dan Honey, sepasang kekasih sejak SMA. Yang ada hanya Rio dan Bella, sahabat sejati. Dan tolong kembalikan kunci itu, agar suatu hari nanti aku bisa memberikannya kepada seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku", pinta Rio.
Bella pun langsung memeluk Rio dengan erat, sangat erat.
"Maafkan aku, Bee", ucap Bella lagi.
__ADS_1