
Di rumah Jerry...
"Papi, bangun, kamu gak kerja?", Yura membangunkan Jerry yang akhirnya tidur di ruang keluarga yang ada di lantai dua.
"Kerja", jawab Jerry dengan suara khas orang yang baru bangun tidur, sambil mengucek matanya.
"Kamu marah sama aku?", tanya Yura yang tidak direspon oleh Jerry.
"Aku mau mandi", ucap Jerry sambil berjalan menuju kamar mereka, meninggalkan Yura.
Sepuluh menit kemudian...
"Papi, sarapan dulu ya. Aku masakin telor mata sapi", ajak Yura yang saat ini duduk di pinggir ranjang mereka.
"Aku gak laper", jawab Jerry sambil berjalan keluar dari kamarnya, hendak berangkat ke kantor.
"Papiii, Mami gak diajak ke kantor?", Yura pun ikut keluar dari kamarnya, memanggil Jerry yang sedang menuruni anak tangga.
Tanpa menjawab, Jerry terus saja berjalan dan keluar dari rumahnya.
"iihh, Papi nyebelin", gerutu Yura yang kembali masuk ke kamarnya.
Padahal Yura sudah bersiap untuk ikut ke kantor Jerry.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi", demikian pesan operator saat Yura menghubungi Jerry.
"Apaan sih, pake acara matiin handphone segala!", gerutu Yura lagi.
Sesampainya di kantor, Jerry terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Dia sama sekali tidak mengaktifkan handphonenya, apalagi untuk menghubungi Yura. Yaa, sepertinya Jerry masih sangat kesal dengan permintaan Yura yang memaksa agar Albert datang dari Jakarta untuk makan sate padang di rumah mereka. Namun demikian, pada akhirnya Jerry tetap meminta Albert untuk datang hari ini demi mewujudkan permintaan istrinya walaupun hal itu belum diketahui oleh Yura.
Tok.. Tok.. Tok..
"Permisi, Pak Jerry", Dave masuk ke ruangan Jerry.
"Ya, Dave, ada apa?", tanya Jerry.
"Pak, Bu Yura barusan menelepon saya, katanya Pak Jerry tolong aktifin handphone", ucap Dave.
"Oh iya, oke oke. Thanks ya, Dave", balas Jerry.
"Sama-sama, Pak Bos. Kalau begitu, saya permisi balik ke meja kerja saya ya, Pak", pamit Dave.
"Oke, Dave. Lanjutkan pekerjaanmu ya", jawab Jerry.
Setelah Dave kembali ke meja kerjanya, Jerry pun melanjutkan pekerjaannya, mengecek laporan keuangan yang dikirim Manajer keuangan ke emailnya. Suami dari Cyntiara Jenya itu tidak juga mengaktifkan handphonenya.
"Kalau handphone gue aktifin, paling juga Mami nelpon buat maksa lagi biar Albert datang ke rumah. Mending handphone tetap gue matiin aja", batin Jerry.
__ADS_1
Sekitar pukul lima sore, ketika Yura sedang ngobrol dengan Bu Asih, tiba-tiba perutnya merasa mules.
Namun ketika Yura di toilet, rasa mules itu pun hilang.
"Kog aneh, sih", batin Yura.
Yaa, hari ini Yura sudah merasa mules sebanyak empat kali.
Ting.. Tung..
Ting.. Tung..
"Selamat sore, Bu, Yura nya ada?", tanya seorang lelaki saat Bu Asih membuka pintu.
"Maaf, Mas nya siapa ya? Apakah sudah ada janji sebelumnya sama Bu Yura?", tanya Bu Asih.
"Saya Albert, Bu. Sahabatnya Yura dari Jakarta", jawab Albert dengan ramah dan tersenyum menawan.
"Kalau begitu, silahkan masuk, Mas. Silahkan duduk di ruang tamu ya. Bu Yura nya lagi di belakang", jawab Bu Asih.
"Terimakasih, Bu", ucap Albert.
Ini dia nih, wajah tampannya Albert Juanda alias Albert, sahabat lama sekaligus cinta pertama Yura. Ganteng kan..
"Siapa, Bu Asih?", tanya Yura.
"Katanya sahabatnya Bu Yura dari Jakarta, namanya Albert", jawab Bu Asih.
"Albert? Yaudah, Bu Asih tolong buatin kopi ya", pinta Yura.
"Baik, Bu", jawab Bu Asih.
"Hai, Al, sama siapa?", tanya Yura sambil menghampiri Albert yang sedang duduk di ruang tamu.
"Halo, Cantik. Aku datang sama ini", jawab Albert sambil mengangkat bungkusan yang dia bawa.
"Apaan?", tanya Yura sambil menerima bungkusan dari tangan Albert.
"Wah, sate padang. Kog kamu tahu kalau...", belum selesai Yura bicara, Albert memotong kalimatnya.
"Kalau kamu lagi pengen lihat aku makan sate padang di rumah kamu, iya kan?", ucap Albert.
"Mas Jerry yang kasih tahu kamu ya?", tanya Yura.
"Semalam dia nelepon aku", jawab Albert sambil berjalan ke arah kursi makan.
__ADS_1
"Jerry belum pulang?", tanya Albert.
"Belum. Kayaknya dia lembur deh", tebak Yura.
"Permisi, silahkan diminum ya, Mas", ucap Bu Asih sambil meletakkan kopi untuk Albert di meja makan.
"Terimakasih ya, Bu", jawab Albert.
"Sama-sama, Mas. Hhemm, Bu Yura, saya boleh pamit pulang ya, Bu", ucap Bu Asih setelah membuatkan kopi untuk Albert.
"Oh iya, Bu Asih, boleh kog, udah jam segini juga, hati-hati ya", balas Yura.
Setelah Bu Asih pulang, Yura mengambilkan piring dan sendok untuk Albert.
"Awhh", tiba-tiba Yura kembali merasa mules saat memberikan piring dan sendok kepada Albert.
"Bentar ya, Al, aku mau ke toilet", ucap Yura.
"Yaudah buruan, biar aku makan sate padangnya. Kebetulan lagi laper nih", jawab Albert yang dibalas anggukan oleh Yura.
Sesampainya di toilet, rasa mules Yura kembali hilang.
"Sebenarnya kenapa sih? Hari ini sudah lima kali aku mules mules terus hilang lagi, terus mules lagi. Aneh banget", gumam Yura sambil keluar dari toilet.
"Sorry ya, Al", ucap Yura lalu duduk di kursi makan, berhadapan dengan Albert.
"Jadi, aku bisa makan sekarang?", tanya Albert yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Yura.
"Kamu aneh banget sih, Yur, kenapa harus aku yang makan sate padangnya? Kan ada suami kamu", ucap Albert sambil mengunyah makanannya.
"Gak tahu juga, Al. Mintaan si baby nih kayaknya", jawab Yura santai, sambil memperhatikan Albert makan.
"Emang kapan perkiraan lahirannya, Yur?", tanya Albert.
"Kalau gak meleset sih delapan hari lagi, Al", jawab Yura.
"Wah, bentar lagi donk. Gak sabar deh mau lihat keponakanku", ucap Albert.
"Eh, ini sate padangnya enak banget, Yur. Kamu gak ikut makan?", tanya Albert.
"Hheemm, boleh deh. Lihat kamu makan kayaknya enak banget", ucap Yura sambil mengambil satu tusuk sate padang dari piring Albert.
"Iya, Al, enak banget", ucap Yura lalu mengambil satu tusuk lagi.
"Awh, kog mules lagi ya", gumam Yura.
"Kenapa, Yur?", tanya Albert yang melihat wajah Yura tiba-tiba pucat.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Al", jawab Yura mencoba tenang.