
Sore hari sekitar jam enam, Charly terlihat khawatir karena sang istri belum pulang dari dinas paginya.
"Kenapa dia belum pulang? Harusnya kalau dinas pagi, jam empat sore sudah pulang, dan jam lima setidaknya paling lambat dia harusnya sudah di apartemen", batin Charly. Dokter tampan itu mondar mandir seperti setrikaan sambil matanya terus melihat jam dinding.
"Apa aku susul aja dia ke rumah sakit? Ahh, tapi nanti dia keGeeRan lagi", Charly kembali berkata dalam hatinya.
"Lebih baik aku tunggu dia sampai jam tujuh, kalau dalam satu jam lagi dia tidak juga pulang, aku harus menyusulnya ke rumah sakit", guman Charly yang saat ini duduk di sofa depan tivi.
Sementara itu...
"Dita, kamu setuju kan dengan rencana Papa?", tanya Pak Edward yang duduk di sebelah Dave.
__ADS_1
"Iya, Mbak, aku yakin kalau rencana Papa akan berhasil", Dave meyakinkan Dita.
"Tapi bagaimana kalau ternyata Mas Charly tetap tidak membuka hatinya, Pa? Apa aku harus terus bertahan?", tanya Dita melemah.
"Kalau memang seperti itu, kamu berhak untuk memutuskan kelanjutannya, Nak. Karena kamu juga layak untuk bahagia", jawab Pak Edward.
"Kami akan mendukung apapun keputusan Mbak Dita, apabila rencana Papa kali ini tidak berhasil", ucap Dave.
"Baiklah, kalau begitu, aku akan ikuti rencana Papa", jawab Dita.
Yaa, kemarin siang tanpa disengaja, Pak Edward melihat Dita datang ke rumah sakit menggunakan motor, tidak diantar oleh Charly. Padahal mereka sudah menikah dan juga Charly pasti ada di apartemennya, karena Pak Edward tahu kalau setiap weekend Charly tidak berangkat ke rumah sakit, dan lagi pula saat ini Charly masih dalam masa cuti menikah. Setidaknya Charly mengantarkan istrinya untuk bekerja, apalagi kemarin adalah hari pertama Dita kembali bekerja setelah menikah.
__ADS_1
Tadi pagi, Pak Edward menelepon pihak rumah sakit, untuk berkoordinasi dengan sekuriti, agar melaporkan apakah Dita datang masih menggunakan motornya. Dan benar saja, pihak rumah sakit mengatakan bahwa Dita memang datang seorang diri menggunakan motor, tanpa diantar Charly. Pak Edward pun merasa bahwa Charly belum menyadari perasaannya terhadap Dita.
"Wah, kalau begini terus, kapan aku bisa dapat cucu?", batin Pak Edward setelah menerima informasi dari pihak rumah sakit.
Padahal, beberapa hari sebelum pernikahan Charly dan Dita, Pak Edward sangat yakin kalau sebenarnya si anak sulungnya itu mencintai Dita, mengingat Charly yang sangat frustasi saat Dita menghilang.
Oleh karena itu Pak Edward tadi sore menelepon Dita, agar setelah shift nya selesai, Dita langsung ke rumah mewahnya, karena ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan.
Sesampainya Dita di rumah sang mertua, Pak Edward menanyakan bagaimana sikap Charly yang sudah menjadi suami Dita selama satu minggu. Awalnya Dita tidak mau terbuka dengan sang mertua dan adik iparnya, namun ketika Pak Edward menanyakan perihal perasaan Dita terhadap Charly, akhirnya Dita pun mengakui kalau sebenarnya dia sudah mencintai Charly sejak lama. Dan Dita pun jujur tentang semua yang terjadi dalam rumah tangga mereka selama satu minggu ini, termasuk mengenai enam belas perjanjian aneh, kemudian Charly merevisi perjanjian itu, dan kemudian Charly merobek perjanjian tersebut.
"Nak, maaf kalau Papa bertanya hal yang terlalu pribadi. Apakah Charly sudah menyentuh kamu?", tanya Pak Edward.
__ADS_1
"Belum, Pa. Kami memang tidur bersama, tapi tidak terjadi kontak fisik di antara kami", jawab Dita.
Mendengar semua penjelasan Dita, Pak Edward pun menyusun satu rencana, untuk membuat Charly mengakui perasaannya kepada Dita. Kira-kira apa rencana mertua Dita tersebut?