
"Papi, sebelum pulang ke rumah, kita mampir ke rumah makan Padang dulu yok. Mami pengen makan ayam sayur dan rendang untuk makan malam nanti", ajak Yura.
"Dengan senang hati, Mami. Kebetulan Papi juga lagi pengen makan rendang", jawab Jerry.
"ihh, Papi ikut-ikut loh", ledek Yura dengan gaya manjanya.
"Bukan ikut-ikut, Mam, itu namanya kita sehati, sepikiran, seselera, dan senaf-su", balas Jerry sambil meremas tangan Yura yang saat ini berada di atas pahanya.
"Senaf-su? Mulai deh Papi ngomongnya. Ini masih sore loh, Papi", ucap Yura sambil tertawa kecil.
"Ini lagi, remas-remas tangan Mami. Apa ini maksudnya?", tanya Yura sambil menyipitkan matanya yang membuat Jerry tertawa.
"Kamu gemesin banget sih, Mam. Pokoknya malam ini Papi mau nagih janji Mami semalam", jawab Jerry lalu mencium tangan istrinya.
"Janji apaan, Pa?", tanya Yura pura-pura lupa.
"Mam, kepala Papi semalam sakit banget gara-gara si adik gak jadi masuk ke rumahnya. Jangan siksa Papi lagi malam ini", rengek Jerry yang membuat Yura tertawa lepas.
"Maaf ya, Papi, semalam Mami udah ngantuk berat. Malam ini yaa", ucap Yura sambil mengelus pipi sang suami.
"Yesss.. beneran ya Mam. Papi pengen menengok Charlie", pinta Jerry.
"Iya, Suamiku Sayang. Sekarang kita beli ayam sayur dan rendang ke rumah makan padang yok. Keburu mood Mami berubah nih", ucap Yura.
"Siap, Nyonya CEO", jawab Jerry lalu melajukan mobilnya.
Malam harinya, Jerry pun menagih kembali janji Yura. Dan malam itu mereka kembali melakukan penyatuan cinta yang membuat keduanya merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada tara.
__ADS_1
Di apartemen Charly.
"Halo, Nak, kamu dimana? Papa baru saja sampai di rumah. Kata Dave kamu tadi baru pulang jam tiga subuh ya? Nah sekarang sudah jam sepuluh malam, kamu kemana? Ingat loh, Nak, pernikahan kamu hanya tinggal beberapa hari lagi. Jangan lagi keluar hingga larut malam bahkan hingga subuh", Pak Edward memborong pembicaraan melalui telepon kepada Charly.
"Papa sehat kan? Syukurlah kalau Papa sudah sampai di rumah. Malam ini aku menginap di apartemen ya, Pa. Besok aku pulang ke rumah", jawab Charly dengan suara yang lemah dan lemas.
Bagaimana dia tidak menjadi lemas, satu hari ini dia berkeliling mencari Dita namun tidak juga berhasil. Bahkan Charly tidak makan dan minum. Tenaganya hanya dari sarapan pagi yang dia nikmati tadi pagi sebelum mencari Dita. Sementara dia tidak berani untuk menceritakannya kepada Pak Edward dan Dave. Karena sudah pasti mereka akan kecewa dan bahkan Charly akan menerima kemarahan dari papanya.
"Papa sehat. Charly, apakah kamu sedang sakit? Suaramu terdengar sangat lemah", tanya Pak Edward.
"Enggak kog, Pa. Aku tadi sebenarnya sudah tidur, pas Papa nelepon, aku terbangun", bohong Charly.
"Yasudah kalau begitu, kamu lanjut lagi tidurnya ya. Sampai ketemu besok di rumah ya, Nak. Jaga kesehatan kamu", ucap Pak Edward.
"Baik, Pa. Aku tutup teleponnya ya, Pa. Selamat malam", Charly mengakhiri panggilannya bersama sang papa.
"Maafkan aku, Dita", ucapnya sambil memejamkan mata. Charly sangat berharap ada mujizat supaya dia bisa bertemu Dita dan Dita tidak membatalkan pernikahan mereka.
Sementara itu...
"Halo, Selamat malam, Pak Edward", Dita menerima panggilan telepon dari Calon Papa Mertuanya.
"Halo, Nak Dita, maaf Papa menggangu ya. Papa cuma mau tanya, kalian berdua baik-baik aja kan?", tanya Edward.
Yaa, meskipun Charly dan Dita belum menikah, Pak Edward sudah menganggap Dita adalah anaknya. Makanya dia menyebut dirinya Papa, ketika berbicara dengan Dita, meskipun Dita masih memanggilnya Pak Edward.
"Maksudnya gimana ya, Pak?", Dita balik bertanya.
__ADS_1
"Tidak terjadi sesuatu di antara kalian berdua kan, Nak? Karena tadi Papa telepon Charly, sepertinya dia lagi ada masalah. Suaranya terdengar sangat lemah. Papa sangat mengenal Charly, Nak. Kalau dia sedang ada masalah atau sedang sakit, suaranya pasti langsung berbeda. Walaupun tadi dia bilang kalau dia sebenarnya sudah tidur dan terbangun ketika mendengar suara telepon dari Papa, tapi Papa tahu kalau sebenarnya dia sedang memendam sesuatu", ucap Pak Edward.
"Maaf, Pak Edward. Sebenarnya kemarin kami sempat berselisih paham. Dan memang dari kemarin kami tidak ada saling komunikasi. Saya juga memilih menginap di Hotel R supaya Mas Charly tidak bisa menemui saya di kostan, karena saya masih mau menenangkan diri", jawab Dita dengan jujur.
Mendengar jawaban Dita, Pak Edward justru tersenyum. Karena dia yakin kalau anak pertamanya, yaitu Charly Brotoseno, saat ini sedang galau karena Dita sedang menghindarinya. Artinya, saat ini Charly sudah mulai menyukai Dita, walaupun mungkin Charly belum menyadari itu.
"Sampai kapan kamu menginap di Hotel R, Nak?", tanya Pak Edward.
"Mungkin Kamis malam saya baru check-out dari Hotel, Pak Edward", jawab Dita.
"Baiklah kalau begitu. Jaga kesehatan kamu ya, Nak. Tapi kalian tetap menikah kan?", selidik Pak Edward.
"Kami tetap menikah kog, Pak", jawab Dita dengan tersenyum dan dibalas anggukan dan senyuman oleh Pak Edward dari ujung telepon. Sepertinya mereka bisa saling melihat respon bahasa tubuh satu sama lain. Hehehe.
"Papa lega mendengarnya. Jaga diri kamu ya, Nak Dita", ucap Pak Edward.
"Pak Edward, saya minta tolong, jangan beritahu Mas Charly kalau saya sekarang sedang menenangkan diri di Hotel R", pinta Dita.
"Baik, Nak. Papa tidak akan memberitahukannya kepada Charly. Sampai dia menemukan kamu dengan caranya sendiri", jawab Pak Edward.
"Terimakasih, Pak Edward", ucap Dita.
"Yasudah, kalau begitu, Papa tutup teleponnya ya, Nak. Selamat malam", kata Pak Edward.
"Baik, Pak. Selamat Malam", balas Dita.
Yaa, tadi pagi ketika mengaktifkan handphonenya, Dita memang langsung memblokir kontak Charly. Itulah sebabnya sampai malam ini Charly tidak bisa menghubungi Dita.
__ADS_1