Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Emosi Jerry


__ADS_3

"Apa maksud kamu, Pa?", tanya Yura dengan suara yang melemah karena shock melihat tatapan tajam sang suami.


"Kamu pikir aku gak tahu kalau kamu dan selingkuhanmu itu tadi berduaan di Restoran F?", sarkas Jerry.


"Aku bahkan ada disana. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kalian duduk bersama dan selingkuhanmu itu mencium mata kamu", ucap Jerry yang saat ini berdiri dan meletakkan jas nya di sofa.


"Selingkuhan? Siapa yang kamu maksud, Mas?", tanya Yura yang semakin bingung.


"Jangan pura-pura polos, Yura!", jawab Jerry dengan emosi yang meledak-ledak yang membuat Yura terkejut karena Jerry memanggilnya tidak dengan sapaan Sayang seperti biasa.


"Kamu bilang hari ini kamu tidak mau menemaniku ke kantor karena kamu ingin rebahan di rumah. Tapi nyatanya apa?! Kamu malah pergi berdua dengan lelaki itu! Dari awal juga aku sudah curiga, karena kamu terlalu mengidolakan Dokter Kandungan yang terkenal itu. Dari awal kamu sudah menaruh hati padanya kan?! Atau jangan-jangan kamu memang sudah lama memiliki hubungan dengan dia, iya?!!", Jerry menuduh Yura.


"Kamu bersikap seolah-olah kamu baru mengenal dia ketika untuk pertama kalinya memeriksakan kehamilanmu, kamu pura-pura mengidolakan ketampanannya, padahal sebenarnya kalian sudah main gila dibelakangku!", Jerry berteriak di dalam kamar mereka.


Yura mematung mendengar setiap kata-kata yang dituduhkan Jerry kepada dirinya.


"Mas...", suara Yura sangat lemah, hanya air mata yang mendominasi perasaannya saat ini.

__ADS_1


Yura terduduk lemas di lantai kamar mereka. Dia tidak mengerti, apa alasan Jerry menuduh dia selingkuh dengan Dokter Charly. Sesekali dia mengelus perutnya yang terasa kencang.


Jerry berjalan mendekati Yura dan berjongkok di hadapan Yura.


"Aku curiga, jangan-jangan bayi yang kamu kandung ini bukan anakku", ucap Jerry yang membuat Yura menutup mulut dengan kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya.


Plakk!!! Yura menampar pipi Jerry.


"Apa yang kamu katakan, Mas?", tanya Yura sambil terisak.


Yura mencoba untuk berdiri sambil berpegangan pada pinggir ranjang mereka. Sekuat tenaga dia kumpulkan, diaturnya nafasnya, agar dia bisa berbicara dengan jelas.


"Aku pikir kamu benar-benar mencintaiku. Aku pikir kamu bisa melindungiku. Aku pikir kamu bisa menjaga mataku agar tidak menangis. Tapi ternyata, kamulah yang sudah melukai hatiku. Kamulah yang sudah menghancurkan perasaanku. Dimana janji manismu yang mengatakan bahwa kamu akan selalu membuat aku bahagia, Mas?", teriak Yura.


"Aku gak tahu apa alasanmu tadi bersikap tidak ramah kepada Dokter Charly. Aku tidak tahu apa alasanmu menuduhku berselingkuh. Apa kamu sadar akan ucapanmu tadi? Kamu menuduh aku mengandung anak dari lelaki lain! Dimana akal sehatmu, Mas?! Sama saja kamu menghina aku dan bayiku. Kamu menganggapku sebagai perempuan yang sangat hina", Yura kembali terisak dan dia terduduk di pinggir ranjang.


"Awwh", Yura memegang perutnya yang terasa kencang.

__ADS_1


"Sakit", gumam Yura sambil menangis dan masih memegang perutnya.


"Maafin Mama, Nak", ucap Yura yang kini mengelus perutnya.


Jerry yang saat ini berdiri di dekat meja rias, hanya diam mendengar setiap ucapan Yura. Ada rasa bersalah di hatinya karena sudah menuduh istrinya dengan kata-kata yang sangat tidak pantas untuk diucapkan. Apalagi saat Yura merasakan sakit pada perutnya, hati Jerry pun terasa sakit. Ingin rasanya dia mendekati istrinya itu. Tapi ego dan emosinya lebih menguasai dirinya saat ini.


Yura meremas sprei ranjang mereka. Sekuat tenaga dia kumpulkan untuk berdiri dan berjalan ke arah lemari pakaian. Yura mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari dan memasukkannya ke dalam koper. Jerry yang saat ini duduk di pinggir ranjang hanya memperhatikan Yura. Dia berpikir pasti istrinya itu akan kembali ke kamarnya ketika mereka masih tidur terpisah.


Tok..tok..tok...


"Ya, ada apa Bu Asih?", tanya Jerry yang membukakan pintu kamar mereka.


Readers jangan khawatir, Bu Asih tadi tidak mendengar keributan yang terjadi di kamar mereka, karena kamar Jerry dan Yura dipasang kedap suara.


"Maaf, Pak Jerry, saya mau izin pulang. Tetangga sebelah rumah saya meninggal, jadi saya mau melayat, Pak", ucap Bu Asih.


Yura yang mendengarnya diam saja sambil terus memasukkan pakaiannya ke dalam koper.

__ADS_1


"Oh iya, Bu Asih. Tidak apa-apa. Biar saya antar ke bawah", ucap Jerry sambil menutup pintu kamar dan menghantar Bu Asih ke bawah sekaligus dia akan mengunci pintu ruang tamu.


__ADS_2