Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Charlie Albertsonof Hansel


__ADS_3

Sepuluh menit kemudian Jerry tiba di Klinik tempat Yura sedang berjuang untuk melahirkan bayi mereka.


"Hai, Bro", Albert menyapa Jerry yang terlihat panik.


"Yura menunggumu, masuklah", tambah Albert sambil menunjuk kamar bersalin.


"Thank, Al", jawab Jerry.


Sementara Pak Yudo hanya diam dan menatap tajam menyambut kedatangan Jerry.


"Mam..", sapa Jerry.


"Jer, kamu sudah datang, Nak", jawab Bu Mery yang saat ini menemani Yura.


"Beri semangat untuk Yura. Menurut bidan, sekarang sudah bukaan enam. Mama tunggu diluar ya", tambah Bu Mery.


"Mama aja yang disini, Ma", pinta Yura sambil memegang tangan Ibu mertuanya.


"Tapi Jerry sudah datang, Nak", ucap Bu Mery.


Yura hanya menggeleng.


"Yura gak mau sama dia, Ma", balas Yura.


"Sayang, tidak boleh seperti itu ya. Kamu butuh Jerry, Nak. Anak kalian butuh Papinya. Percaya sama Mama, dengan kehadiran Jerry disini, kontraksi kamu akan semakin bagus", bujuk Bu Mery.


"Mending Albert aja yang jagain aku, Mam", ucap Yura tanpa melihat Jerry.


Bu Mery tidak menghiraukan ucapan Yura. Dia hanya tersenyum. Karena dia tahu kalau menantunya tersebut sedang kesal dengan Jerry. Perlahan Bu Mery menjauhkan tangannya dari tangan Yura.


"Jer, temani Yura. Dia membutuhkanmu", bisik Bu Mery saat akan keluar dari kamar klinik.


"Iya, Ma", jawab Jerry lalu duduk di dekat Yura.


"Sayang, maafin Papi ya. Kalau kamu sudah mau keluar, jangan buat Mami sakit ya, Nak", ucap Jerry sambil mengelus perut Yura.


"Mami, maafin Papi ya. Hari ini Papi keterlaluan", ucap Jerry lagi yang kini mengelus kepala sang istri.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Yura justru mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Papi terima kemarahanmu, Mam, tapi jangan tolak Papi untuk menemani Mami disini ya", bujuk Jerry.


"Awwh", Yura kembali merasakan kontraksi.


"Sayang", ucap Jerry sambil mengelus tangan sang istri.


"Atur nafas ya, relax. Anak kita juga lagi berjuang untuk keluar, Sayang", tambah Jerry lagi.


"Charlie, kerjasama yang baik sama Mami ya, Nak. Papi dan Mami sayang sama kamu", Jerry kembali mengelus perut Yura sambil mengajak anak mereka bicara.


"Awwhh, sakit", Yura kembali meringis dan air matanya pun menetes. Kali ini kontraksinya lebih lama. Yura pun mengubah posisi tidurnya, membelakangi Jerry.


"Semangat ya, Mam. Papi sayang sama Mami", ucap Jerry sambil mengelus punggung Yura.


"Aawwwh", kali ini Yura menangis merasakan gelombang cinta yang semakin panjang.


Karena tidak tega melihat sang istri yang kesakitan, Jerry beranjak dari duduknya dan berlari keluar untuk memanggil tenaga medis.


Dua menit kemudian, Bidan yang sedari tadi menangani Yura datang.


"Sudah bukaan sepuluh nih. Bayinya sudah siap untuk lahir. Saya ambil perlengkapan dan pakai sarung tangan sebentar ya", kata Bidan tersebut.


"Iya, Bu Bidan", jawab Yura dengan lemah.


"Sayang, semangat ya. Atur nafas ya, Mam", ucap Jerry sambil menggenggam dan mencium tangan Yura, yang tanpa disadari air matanya menetes di tangan sang istri.


"Papi, jangan tinggalin Mami", ucap Yura.


"Iya, Sayang", jawab Jerry lalu mencium kening Yura.


"Okey, atur nafasnya ya, Ibu. Sekarang bisa mulai mengejan ya", ucap Bu Bidan.


"Aaaaaa", Yura sedikit berteriak.


"Jangan teriak ya, Ibu. Nanti pita suaranya bisa rusak", jelas Bidan tersebut dengan sabar.

__ADS_1


"Ayo mengejan lagi ya", ucap Bidan itu lagi.


"Sayang, kamu pasti bisa. Kita akan bertemu Charlie, Sayang. Semangat ya", Jerry mensupport Yura.


"aaaaeeeewww", Yura mengejan panjang, dan akhirnya...


"Oouweee, Oouuweee", tangis seorang bayi kecil terdengar memenuhi ruangan persalinan.


"Wah, selamat, bayinya laki-laki", ucap Bidan tersebut.


"Puji Tuhan", ucap Yura.


"Puji Tuhan. Terimakasih, Sayang. Terimakasih", Jerry menciumi wajah Yura.


Lima menit kemudian, setelah dibersihkan oleh Bidan, bayi Yura diletakkan di atas dada maminya.


"Papi, anak kita, Pa", ucap Yura sambil meneteskan air mata bahagia. Saking bahagianya, Yura tidak menyadari kalau jalan tempat bayinya lahir tadi sedang dijahit oleh Bu Bidan.


Jerry pun mengucapkan doa di telinga sang anak.


"Amin", ucap Jerry mengakhiri doanya.


"Kamu sempurna, Nak", Jerry mengelus tangan bayinya yang saat ini masih tengkurap di dada Yura.


"Ibu, saya permisi keluar ya. Empat puluh lima menit lagi, bayinya kami bawa ke ruang khusus bayi ya. Nanti Bapak bisa ikut kami mengantar bayinya", ucap Bidan tersebut.


"Baik, Bu Bidan. Terimakasih", ucap Yura dan Jerry bersamaan.


"Papi, Mami masih gak nyangka kalau Charlie sudah lahir", Jerry kembali meneteskan air mata bahagianya.


"Charlie Albertsonof Hansel", ucap Jerry.


"Siapa, Pa? Kog namanya beda? Bukannya Charly Putra Hansel? Kog ada Albertnya. Albert apa tadi?", tanya Yura yang sedikit bingung.


"Iya, Sayang. Papi menyematkan nama Albert di tengah nama anak kita. Putra Hanselnya direvisi, jadinya Sonof. Tapi penulisannya digabung jadi Albertsonof. Papi berhutang budi sama Albert. Untung ada dia, kalau tidak, Papi gak tahu apa yang terjadi sama kamu", jawab Jerry yang dibalas anggukan lemas oleh Yura.


"Nama lengkap anak kita, Charlie Albertsonof Hansel", tambah Jerry yang membuat Yura tersenyum.

__ADS_1


"Nama yang sangat bagus, Papi", ucap Yura.


__ADS_2