
Di kamarnya Yura masih saja sedih mengingat kedatangan Fely di kantor tadi siang.
"Kenapa aku sesedih ini?" Batin Yura.
Malam itu, ketika Jerry sudah masuk ke kamarnya, Yura membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Yaa semua dia lakukan supaya besok tidak perlu buru-buru. Jadi besok pagi dia tinggal memasak untuk sarapan pagi mereka.
Yura memang hanya memasak untuk sarapan pagi karena siang dan malam mereka biasanya beli dari restoran. Mengingat mereka sampai di rumah paling cepat jam tujuh malam, jadi sangat lelah untuk Yura kalau dia harus memasak makan malam.
Apakah Jerry mengetahui aktivitas Yura setiap malam? Tentu saja tidak. Bahkan Jerry tidak peduli.
Lima hari kemudian...
"Jer, maaf aku besok tidak bisa berangkat untuk mengikuti meeting di Singapura. Aku harus menghadiri acara pernikahan adikku. Aku benar-benar lupa kalau tanggal pernikahannya bertepatan dengan jadwal keberangkatan kita ke Singapura?" kata Ryan ketika bertemu Jerry di ruangannya.
"Adik? Adik kamu yang mana, Ryan? Kamu kan anak semata wayang" tanya Jerry bingung.
"Sepupuku loh Jer, itukan adikku juga. Anak dari adik Papaku akan menikah dua hari lagi. Makanya besok pagi gue harus berangkat ke Semarang. Ini sekalian gue mau nyerahin surat cuti gue ya, Pak Bos" kata Ryan sambil tersenyum lebar.
"Apa tidak bisa ditunda nikahnya, Ry?" tanya Jerry lagi.
"Ajegile lu, Jer, pernikahan ditunda bagaimana ceritanya? Ya ga bisa donk" Jawab Ryan.
"Bapak Jerry yang terhormat, mohon izinnya ya. Aku percaya Nyonya CEO alias Bu Cyntiara Jenya alias Yura bisa menemanimu dan menghandle semua. Pasti meetingnya berhasil" Ryan meyakinkan Jerry.
"Kalau begitu, aku permisi kembali bekerja ya, Pak Jerry" kata Ryan sambil pergi meninggalkan Jerry di ruang kerjanya.
__ADS_1
"Jer, kamu yakin tidak tertarik dengan Yura? kita lihat saja nanti" batin Ryan ketika keluar dari ruangan Jerry dan melewati Yura.
Ryan sepertinya memiliki ide untuk membuat Jerry dekat dengan istrinya.
Keesokan harinya setelah sarapan bersama, Jerry dan Yura berangkat menuju Bandara. Hari ini mereka berangkat dengan mobil yang sama. Yaa Yura ikut mobil Jerry.
"Jangan ada berkas yang tertinggal" ucap Jerry memecah keheningan.
"Iya." Jawab Yura singkat.
Beberapa Jam kemudian di hotel di Singapura...
"Ry, lu ngerjain gue ya. Kenapa hanya pesan satu kamar?" tanya Jerry kepada Ryan melalui teleponnya.
"Astaga, Jer.. Sorry banget. Kenapa kemaren gue batalin kamar yang satu lagi ya. Padahal maksud gue waktu itu kan, gue sekamar sama lu, dan Yura sendiri. Lah kenapa malah gue batalin? Yang gue batalin yang double bed pula, Jer. Aduuhh sory banget ya" jawab Ryan sambil tersenyum riang dari balik telepon.
Mau tidak mau, Jerry dan Yura tidur dalam satu kamar. Karena mau memesan kamar lagi pun percuma, karena semua kamar penuh.
Setibanya di kamar hotel...
"Kamu duluan saja mandinya" kata Jerry kepada Yura.
"Baik, Mas. Aku memang sudah merasa sangat gerah" jawab Yura.
Setelah selesai mandi, alangkah terkejutnya Yura karena dia lupa membawa pakaiannya ke kamar mandi. Bahkan dia lupa membawa pakaian dalamnya juga. Tadi dia hanya membawa handuk dan perlengkapan mandi.
__ADS_1
"Bagaimana ini?" Yura kebingungan.
Akhirnya dia memberanikan diri memanggil Jerry untuk meminta tolong.
"Mas Jerry, aku boleh minta tolong?" seru Yura dari dalam kamar mandi.
"Hemmm, ada apa?" tanya Jerry.
"Aku lupa membawa pakaianku, Mas. Pakaian dalam juga. Tolong ambilkan ditasku" pinta Yura.
"Hah?? yang benar saja kamu? aku mengambil pakaian dalammu?" protes Jerry.
"Tolong, Mas. Sekali ini saja. Aku benar-benar lupa" pinta Yura.
Jerry pun mengambil apa yang diminta Yura.
"Buat repot saja" gerutu Jerry.
Setelah selesai berpakaian, Yura pun keluar dari kamar mandi.
"Mas, terimakasih. Sekarang Mas boleh mandi" kata Yura kepada Jerry.
Ketika Jerry menoleh kearah Yura, alangkah takjubnya dia melihat kecantikan istrinya yang saat ini sedang mengeringkan rambutnya didepan meja rias menggunakan hair dryer.
Bahkan dia sangat menyukai aroma tubuh Yura.
__ADS_1
"Dia memang cantik. Sangat cantik" batin Jerry, lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.