
Setengah jam kemudian...
Jerry tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Dia selalu mengepalkan tangannya sepanjang rapat berlangsung.
"Maaf, Pak Jerry, apakah ada yang salah?", tanya seorang client ketika melihat Jerry menutup mata sambil mengepalkan tangannya.
"Pak Jerry", panggil orang tersebut.
Karena Jerry tidak juga menjawab, Ryan yang duduk di sebelah Jerry pun ikut memanggil Jerry sambil memegang pundak sahabatnya itu.
"Jer, are you, okay?", tanya Ryan dengan lembut.
"Oh, iya, Ry. Maaf, Bapak Ibu yang terhormat, kepala saya sangat pusing, saya boleh izin untuk pulang ya. Meetingnya bisa dilanjutkan dengan Wakil saya, Bapak Gerald Ryando", Jerry balik memegang pundak Ryan.
"Baik, Pak Jerry. Tidak apa-apa. Bapak hati-hati ya", jawab salah satu dari client tersebut.
"Jer, lu bisa pulang sendiri? Kayaknya lu lagi gak baik-baik aja", bisik Ryan yang mulai khawatir dengan Jerry.
"Iya, Ry. Gue bisa kog. Lu tenang aja. Lanjutin meetingnya ya. Gue balik duluan", jawab Jerry dengan suara kecil sambil berdiri.
"Saya duluan ya, Bapak Ibu", ucap Jerry lalu meninggalkan ruang meeting tersebut.
Satu jam kemudian Jerry sudah sampai di rumahnya. Baru saja dia masuk ke pekarangan rumahnya, hati Jerry semakin panas karena melihat Yura yang juga baru sampai di depan rumah mereka dan ternyata dihantar oleh Dokter Charly.
Jerry pun turun dari mobilnya dan memarkirkannya sembarang.
__ADS_1
"Hai, Papi. Udah pulang?", tanya Yura yang melihat Jerry menutup pintu mobil dengan keras.
"Selamat siang, Pak Jerry", sapa Dokter Charly.
"Apakah saya mengganggu acara kalian?", Jerry bertanya dengan wajah yang sangat tidak ramah yang membuat Yura sedikit bingung.
"Ah sudahlah. Saya duluan masuk. Kepala saya pusing", ucap Jerry lagi sambil berlalu meninggalkan Yura dan Dokter Charly.
Melihat sikap Jerry yang sedang tidak bersahabat, Dokter Charly pun langsung pamit undur diri kepada Yura.
"Baiklah Yura, saya pulang dulu ya", ucap Dokter Charly.
"Oh iya, hati-hati ya, Dok. Terimakasih untuk undanganya dan untuk makan siangnya", balas Yura.
Sepeninggalan Dokter Charly, Yura pun masuk ke rumah dan langsung menemui Bu Asih di dapur.
"Bu Asih, Mas Jerry tadi langsung ke kamar ya?", tanya Yura yang tidak melihat Jerry di ruangan lantai bawah.
"Oh iya, Bu Yura. Tadi Pak Jerry langsung ke atas. Maaf, Bu, sepertinya suasana hati Pak Jerry sedang tidak baik. Karena Bu Asih dengar tadi Pak Jerry menutup pintu kamar sangat keras", jawab Bu Asih.
Mendengar pernyataan Bu Asih, membuat Yura bertanya-tanya, "Ada apa dengan Mas Jerry?", batin Yura.
"Kalau begitu aku ke atas dulu ya, Bu Asih", ucap Yura.
Sesampainya di kamar, Yura langsung mendekati Jerry yang ternyata sedang berbaring di ranjang sambil memeluk guling kesayangannya.
__ADS_1
"Pa, kenapa sepatunya gak dilepas? Tuh, jasnya juga belum dibuka", ucap Yura dengan lembut sambil melepas sepatu dan kaos kaki Jerry.
"Kamu kenapa, Pa? Ada masalah? Oh iya, handphone kamu mati ya? Aku hubungi dari pagi gak bisa", tanya Yura namun Jerry tetap bungkam.
Setelah Yura membuka sepatu dan kaos kaki Jerry dan meletakkannya di dekat pintu kamar, Yura kembali duduk di pinggir ranjang.
"Papi, kog diem aja sih?", tanya Yura lagi karena Jerry tidak juga merespon dirinya.
"Buka dulu jasnya, Pa", ucap Yura sambil memegang punggung Jerry.
Bukannya menuruti perkataan Yura untuk membuka jasnya, Jerry justru menepis tangan Yura.
"Gak usah pegang-pegang!", ucap Jerry kasar.
Jerry pun duduk dan menatap wajah istrinya dengan tajam.
"Kamu gak usah sok lembut di depanku. Jangan kamu pikir kalau aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakangku", ucap Jerry sambil menunjuk Yura.
"Kamu kenapa sih, Mas?", protes Yura.
"Harusnya aku yang tanya, KAMU KENAPA?!", bentak Jerry.
Mendengar suara suaminya yang keras, Yura terkejut dan tanpa disadari pipi Yura kini sudah basah karena air matanya.
"Selama ini kamu selingkuh kan?!", Jerry menuduh Yura tanpa memikirkan perasaan sang istri.
__ADS_1