Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Istri Status


__ADS_3

"Sudah jam tujuh malam, Dita belum juga pulang. Sebenarnya kemana dia?", gumam Charly yang semakin gelisah dan khawatir.


"Aku harus menyusulnya ke rumah sakit", ucap Charly lalu dia beranjak dari duduknya dan mengambil kunci mobil.


Ketika Charly sampai di lobby apartemen, dia bertemu dengan Dita. Tanpa rasa bersalah, Dita malah tersenyum ramah dengan sang suami yang sedang mencemaskannya.


"Mau kemana, Mas?", tanya Dita.


Charly yang melihat Dita pun terdiam. Campur aduk yang dia rasakan saat ini. Bahagia karena Dita sudah pulang, kesal karena Dita tidak memberi kabar kepadanya jika harus pulang terlambat, ingin menangis karena rasa khawatirnya terhadap Dita, ada pula keinginan untuk memeluk istrinya tersebut.


"Mas, kog malah diem sih. Mau kemana?", tanya Dita lagi.


"Oh, aku mau cari makan. Laper. Soalnya punya istri, tapi gak mikirin suami", jawab Charly asal, lalu dia berlalu melewati Dita.


Dita yang melihat reaksi Charly pun tersenyum, karena rencana pertama Pak Edward hari ini berhasil. Yaa, Dita berhasil membuat Charly cemas. Dari wajah Charly sangat terlihat kalau dia sebenarnya sedang cemas dan terburu-buru, bukan sedang lapar seperti yang dia katakan.


Pak Edward memang meminta agar Dita tidak menghubungi Charly.


"Kalau pun Charly bertanya kenapa kamu pulang terlambat, bilang saja habis lembur atau jalan sama teman ya, Nak", demikian Pak Edward menyusun rencana pertamanya.


Dita pun kembali ke kamar apartemen mereka.

__ADS_1


"Aku harus benar-benar membeli makanan, biar Dita yakin kalau aku sedang lapar. Tapi memang aku mulai lapar sih", gumam Charly sambil menyetir mobilnya.


"Lagian dia dari mana sih? Bukannya kasih tahu suami kalau pulang terlambat. Ini, pas pulang malah senyum-senyum kayak gak ada salah. Dia gak tahu apa kalau suaminya dari tadi khawatir", gerutu Charly seorang diri.


Tiga puluh menit kemudian, Charly kembali ke apartemennya dengan membawa bungkusan berisi makanan.


"Kamu bawa apa, Mas?", tanya Dita yang sudah selesai mandi dan terlihat lebih segar.


"Nasi Padang", jawab Charly singkat sambil mencuci tangannya dan bersiap untuk makan.


"Kamu beliin untuk aku gak?", tanya Dita yang kini duduk di kursi makan, dekat Charly.


"Hheemm, kalau mau, makan aja, itu aku beliin juga buat kamu. Tapi kalau gak mau, biar aku yang habisin jatah kamu", jawab Charly sambil mengunyah nasi rendang miliknya.


"Ya sangguplah. Apa sih yang aku gak sanggup?", balas Charly.


"Mencintaiku", ucap Dita yang membuat Charly terbatuk, lalu dia segera minum seteguk air.


"Aku bercanda, Mas. Gak usah dipikirin. Yaudah deh, lanjutin makannya ya, Mas. Harus habis loh dua bungkus nasi padangnya", ucap Dita sambil beranjak dari duduknya.


"Emangnya kamu sudah makan?", tanya Charly.

__ADS_1


"Sudah. Tadi aku habis jalan sama temanku, sekalian deh kami makan", bohong Dita yang saat ini menonton tivi. Padahal tadi dia makan di rumah sang mertua. Hahaha.


"Teman? Wanita?", tanya Charly.


"Lelaki donk, Mas", jawab Dita asal yang membuat wajah Charly berubah seperti menahan kesal.


"Kenapa kamu gak kasih kabar kalau pergi sama lelaki lain?", tanya Charly yang mencoba bersikap biasa, sambil mengunyah makanannya.


"Emang harus ya, Mas?", balas Dita.


"Kamu sudah bersuami, Dita. Apa kata orang kalau mereka melihat istri dari seorang Charly Brotoseno jalan dan makan sama lelaki lain?", suara Charly mulai meninggi.


"Kog kamu jadi marah, Mas?", protes Dita.


"Ya wajar kalau aku marah. Kamu itu istri aku", jawab Charly.


"Hanya istri status, Mas. Aku tidak merasa diperlakukan layaknya seorang istri oleh kamu", balas Dita.


"Kamu juga tidak memperlakukanku layaknya seorang suami!", bentak Charly.


"Itu semua karena kamu, Mas", ucap Dita yang kini menangis.

__ADS_1


Yaa, pertengkaran ini murni terjadi, sesuai dengan prediksi Pak Edward.


__ADS_2