
"Za, lagi dimana?", Dave menelepon sahabatnya.
"Di apartemen. Kenapa, Dave?", tanya Reza.
"Kayak gak punya gairah hidup sih, Za. Lemes bener suara lu", ledek Dave.
"Lagi males aja gue. Kenapa sih, Dave?", tanya Reza lagi.
"Gue sama Papa mau ke tempat Mas Charly. Mau ikut gak lu?", ucap Charly.
"Pengen sih, tapi..", Reza menggantung kalimatnya.
"Tapi apa? Lu takut dijutekin Mas Charly lagi?", tanya Dave sambil tertawa.
"Lu tau sendiri lah kan, Mamas lu itu cemburu banget sama gue. Kayak beberapa waktu itu, pas gue anter pakaiannya Dita, kebetulan banget Mas Charly yang bukain pintu. Tanpa basa-basi, dia langsung ambil bungkusan yang gue pegang, terus nutup pintu apartemennya. Bilang makasih nya aja lewat WA. Kan edan", jawab Reza.
"Hahaha. Yah, mungkin aja waktu itu mereka lagi nanggung, Za. Kita kan gak tahu. Lagipula pasti Mas Charly gak mau kalau istri cantiknya itu direbut sama lu", ledek Dave.
"Siapa juga yang mau ngerebut", balas Reza.
"Emang cantik banget sih Mbak gue tu", ledek Dave lagi.
"Dave, gue gak ikutan lah malam ini. Mau tiduran aja gue. Salam untuk Om, Mas Charly, dan Dita ya", ucap Reza.
"Yaudah deh kalo gitu. Jangan kebanyakan galau lu, Za. Inget, masih banyak cewek di luar sana", balas Dave.
"Cewek di luar emang banyak, Dave. Tapi gak ada yang bisa nyantol di hati gue", jawab Reza lagi.
__ADS_1
"Ah udah ah, ngomong sama orang galau, gue bisa mati kutu. Bye, Za", Dave mengakhiri panggilan teleponnya.
Sesampainya di apartemen Charly.
"Papa, Dave, ayo masuk", Dita mempersilakan mertua dan adik iparnya untuk masuk.
"Iya, Nak", jawab Pak Edward sambil menerima sungkem tangan dari Dita.
"Charly mana, Nak?", tanya Pak Edward.
"Mas Charly lagi mandi, Pa", jawab Dita.
"Wangi bangeet. Mbak Dita masak apa?", tanya Dave dengan wajah yang berbinar.
"Ayo tebak, Mbak masak apa", ucap Dita.
"Aku gak jago tebak menebak masakan, Mbak. Aku langsung ke dapur deh", ucap Dave sambil berjalan ke dapur.
"Beres, Mbak", jawab Dave.
"Aku bahagia sekali, Sayang", batin Pak Edward sambil melihat foto sang istri di layar handphonenya.
"Kamu tidak salah memilih menantu untuk kita", batinnya lagi.
"Hai, Pa", Charly menghampiri lalu langsung mencium tangan sang Papa.
"Eh, hai, Nak. Seger banget kayaknya", ucap Pak Edward.
__ADS_1
"Namanya juga habis mandi, Pa. Kan pake air, makanya seger", jawab Charly sambil menyenderkan tubuhnya ke sofa.
"Segernya beda, Nak. Kamu terlihat lebih tampan. Auranya itu beda", Pak Edward menggoda anak sulungnya.
"Papa kayak gak ngerti aja sih, Pa", jawab Charly sambil memainkan alisnya.
"Hahaha.. iya iya, Papa paham", balas Pak Edward.
"Oh iya, Nak, kamu belum mau pindah ke rumah sakit kita?", tanya Pak Edward lagi.
"Sudah ada rencana sih, Pa", jawab Charly.
"Tadinya, kalau Dita mau resign kerja, aku tetap aja di rumah sakit sekarang. Tapi dia gak mau, katanya dia bakalan resign kalau sudah punya anak. Nah, aku minta dia pindah ke rumah sakit tempatku kerja, dia juga gak mau. Katanya sudah nyaman di rumah sakit Papa. Yah, aku pikir-pikir, mendingan aku yang ngalah deh. Biar aku aja yang pindah ke rumah sakit Papa, biar bisa sama-sama terus dengan Dita", tambah Charly.
"Dasar bucin", ledek Pak Edward.
"Hehehe, makasih ya, Pa. Sudah jodohin Charly dengan Dita. Ternyata nikah itu enak", ucapnya yang membuat Pak Edward tertawa.
"Waktunya makan malam", ucap Dave dari ruang makan.
"Wiihh, enak nih", puji Pak Edward.
"Jelas enak donk, Pa. Istri siapa dulu yang masakin", sambung Charly.
"Mbak, kalau aku dan Papa sering-sering makan malam disini, Mbak keberatan gak?", tanya Dave.
"Ya jelas nggak lah, Dave. Mbak malah seneng kalau kita makan sama-sama terus kayak gini. Sering-sering ya datang kesini. Mbak pasti masakin yang enak", jawab Dita.
__ADS_1
"Beneran, Mbak? Yesss", balas Dave dengan antusias yang dibalas anggukan bahagia oleh Dita.
"Terimakasih, Tuhan. Akhirnya aku bisa merasakan memiliki keluarga yang utuh", batin Dita.