
Tiga minggu kemudian, Jerry dan Yura kembali bertemu dengan Dokter Charly, tentunya untuk memeriksakan kandungan Yura yang sudah masuk usia 9 minggu.
"Kondisi baby sangat sehat ya, Bu Yura. Selain karena pola makan Ibunya yang teratur, rutin minum obat, pasti karena peran Pak Jerry yang sangat baik", kata Dokter Charly.
"Maksudnya bagaimana, Dok?", tanya Jerry.
"Yaahh, saya yakin kalau Pak Jerry selalu mensupport Bu Yura, sehingga Bu Yura tidak mengalami tekanan ataupun beban yang membuatnya stress. Karena suasana hati seorang Ibu Hamil sangat mempengaruhi tumbuh kembang bayi yang ada dalam kandungan. Apabila seorang Ibu yang sedang hamil itu mengalami stress, bisa membuat aliran darah dan pasokan oksigen ke janin menjadi berkurang, dan itu bisa membuat tumbuh kembangnya terganggu", jawab Dokter Charly.
"Semua juga berkat Dokter Charly", batin Yura.
Hahahaha. Yura, kamu mulai lagi deh, awas nanti suami kamu cemburu buta kalau kamu terlalu mengidolakan Dokter Charly.
"Oh begitu, Dok. Saya selalu berusaha bagaimana caranya agar istri saya selalu bahagia, Dok. Walaupun terkadang saya suka bingung karena ada aja sikap saya yang dianggap salah", Jerry curhat sama Pak Dokter. Hahahaha.
"Harus perbanyak sabarnya ya, Pak, semua demi istri dan anak yang Pak Jerry cintai", jawab Dokter Charly dan kemudian dia tertawa.
"Bu Yura, apakah masih mengalami Morning Sickness?", tanya Sang Dokter.
"Sesekali saja, Dok. Tidak separah diawal-awal kehamilan saya. Saat ini nafsu makan saya yang semakin meningkat, Dok", jawab Yura.
"Oh itu sangat bagus, Bu. Selagi masih mau makan, tidak apa-apa. Yang penting makanannya harus bergizi ya. Dan ingat pesan saya bulan lalu, jangan makan makanan yang mentah dan kurangi makanan bakaran", Dokter Charly menjawab sambil tersenyum.
"Aduh, si Dokter ngapain pake senyum sih, bisa-bisa istriku makin mengidolakan dia kalau kayak gini", batin Jerry.
"Yaampun, gantengnya..", batin Yura sambil mengelus perutnya.
"Kalau begitu, saya kasih resep obat lagi ya, jangan lupa selalu diminum obatnya, karena ini juga sangat menunjang tumbuh kembang bayi dalam kandungan", kata Dokter Charly sambil menulis resep obat.
"Baik, Dok, terimakasih. Kalau begitu kami permisi ya", kata Jerry setelah menerima resep obat. Kemudian Jerry dan Yura berjabat tangan dengan Dokter Charly lalu pergi meninggalkan ruangan Sang Dokter.
"Papi..", belum selesai Yura berbicara, langsung dipotong oleh Jerry. "Iya, Dokter Charly ganteng banget", kata Jerry yang membuat Yura tertawa.
__ADS_1
"Papi kog tau sih kalau Mami mau bilang itu?", tanya Yura.
"Hhemmmm", Jerry hanya berdehem kemudian menunjukkan senyum terpaksa dan disambut tawa oleh Yura.
Jerry sedang mengantri untuk menebus obat yang diresepkan Dokter Charly tadi di apotek Rumah Sakit, sedangkan Yura duduk di kursi tunggu.
Obat yang ditunggu pun sudah didapatkan. Saat Jerry akan menghampiri Yura, tidak sengaja dia menabrak seseorang yang sedang berusaha menutupi wajahnya dengan sapu tangan.
"Maafkan saya ya, Bu", kata Jerry sambil memungut kertas yang berserakan.
Yaa, itu adalah kertas milik wanita itu yang terjatuh karena tertabrak Jerry barusan.
"Kertas Hasil Lab", batin Jerry.
Matanya spontan terbelalak melihat keterangan yang ada dalam kertas tersebut. Secepat kilat wanita itu mengambil kertas hasil lab tersebut dengan tangan kirinya dan memasukkannya ke dalam tasnya. Jerry pun berbaik hati membantu wanita tersebut untuk berdiri. Dan ketika keduanya sudah berdiri, tanpa sadar wanita itu melepas tangan kanannya yang sedari tadi menutupi wajahnya menggunakan sapu tangan. Alangkah terkejutnya Jerry karena ternyata wanita itu adalah Fely.
"Fel, kamu?", tanya Jerry spontan.
"Jer..", kata Fely. Wajahnya yang tadinya murung berubah menjadi merah dan air mata mengalir membasahi pipinya.
"Aku turut prihatin dengan kondisi kamu, Fel", kata Jerry. Tanpa diduga Fely langsung menghambur ke dalam pelukan Jerry sambil terisak.
Jerry panik dan berusaha untuk melepas pelukan Fely karena takut Yura akan salah paham. Namun usaha Jerry gagal, karena Fely memeluknya sangat erat.
"Fely, tolong lepaskan aku. Banyak orang disini. Aku lelaki yang sudah mempunyai istri, jadi tolong jaga sikap kamu", Jerry terus berusaha lepas dari pelukan Fely.
"Jer, aku mohon, sebentar saja, aku sangat merindukanmu,", jawab Fely.
"Tidak bisa, Fel. Kita bukan siapa-siapa lagi. Kamu tidak boleh seperti ini", kata Jerry sambil terus berusaha menggerak-gerakkan badannya agar bisa lepas. Yaa, Jerry sebisa mungkin tidak memegang tangan Fely.
Tiba-tiba ada sesuatu yang mencengkram tangan Fely sangat kuat dan menariknya dengan sangat kasar sehingga membuat Fely merasa kesakitan.
__ADS_1
"Aaahhwh", Fely meringis.
Siapa lagi kalau bukan Yura. Dadanya terasa sangat panas saat melihat Jerry dipeluk oleh mantannya dan itu membuat Yura berusaha sekuat mungkin menarik paksa tangan Fely agar melepas pelukannya.
"Dia suamiku. Kamu tidak punya hak untuk menyentuhnya apalagi memeluknya", kata Yura sangat tegas dengan tatapan tajam.
"Dan kamu, Mas Jerry, aku tunggu kamu di lobby. Aku harap kamu bisa menjaga batasan. Aku adalah istrimu dan aku punya hak penuh terhadap kamu. Tolong jaga perasaanku. Aku berhak marah dengan apa yang aku lihat di depan mataku sendiri", tegas Yura kepada Jerry dengan tatapan yang tajam. Kemudian Yura pergi meninggalkan Jerry dan Fely beserta orang-orang di apotek yang sedari tadi menyaksikan mereka.
Haduuuhh, Yura marah banget nihh, sampai dia memanggil Jerry dengan sebutan Mas, bukan Papi.
"Jer, seharusnya akulah yang berada di posisi Yura. Dia sangat beruntung karena dicintai lelaki seperti kamu", kata Fely masih menangis.
"Kamu salah, Fel. Justru akulah yang beruntung karena dicintai oleh wanita seperti Yura. Berkali-kali aku menyakitinya tapi dia tetap mencintaiku dengan tulus", jawab Jerry.
"Tidak, Jer, akulah yang mencintaimu dengan tulus, bukan Yura. Kita sudah berpacaran hampir lima tahun, aku menerima semua kekurangan dan kelebihanmu. Sedangkan dia? Dia baru mengenalmu selama satu tahun terakhir ini", Fely mencoba membujuk Jerry.
"Heiy, tidakkah kamu sadar dengan apa yang kamu katakan barusan? Ingat ya, Felisha Winata, aku bukan pacarmu! Tidak ada apa-apa lagi di antara kita. Kamu hanya mencintai uangku dan selama ini kamu hanya memanfaatkanku. Dan bodohnya, aku tidak pernah menyadarinya", Jerry membentak Fely.
"Tapi, Jer...", Fely berusaha untuk memegang tangan Jerry.
"Jangan pernah sentuh aku lagi. Karena aku tidak akan sudi. Camkan ini, aku sangat mencintai Yura, aku tidak mau membuat hatinya terluka, apapun alasannya. Aku harap kamu bisa berubah menjadi wanita yang baik, Fel", kata Jerry.
"Tidak ada gunanya aku berubah menjadi baik, Jer. Karena tidak akan ada orang yang mau mendekatiku lagi. Dengan keadaanku sekarang yang sudah rusak dan kotor, apalagi aku terjangkit H*V. Aku sudah tidak punya masa depan, Jer", Fely terisak.
"Bukankah itu buah dari benih yang selama ini kamu tabur, Fel? Kamu sendiri yang merusak hidupmu dengan memberikan dirimu kepada banyak lelaki. Itu kepuasan untukmu kan? Kamu pikir aku tidak tahu semua itu? Sekarang nikmatilah", tegas Jerry lalu dia pergi meninggalkan Fely.
Ketika tiba di lobby Rumah Sakit, Jerry menghampiri Yura dengan wajah cemas karena kini Yura menatapnya dengan sangat tajam.
Yaa, sudah pasti Yura akan sangat marah kepadanya. Suaminya dipeluk oleh mantan pacarnya di depan matanya sendiri loh!
Sekuat apa sih tenaga Fely sampai-sampai Jerry gak bisa melepaskan pelukan Fely? Sedangkan Yura hanya melakukannya dengan sekali tarikan dan bisa melepas pelukan tersebut dan membuat tangan Fely kesakitan.
__ADS_1