
Satu jam kemudian, ketika Yura sedang beristirahat, sementara baby Charlie berada di ruang khusus bayi, Pak Yudo dan Bu Mery pamit untuk pulang.
"Jerry, maafin Papa tadi sudah marah sama kamu. Pesan Papa, jadilah pria yang bertanggungjawab ya, Nak. Sekarang kamu sudah menjadi orangtua", nasihat Pak Yudo.
"Makasih ya, Pa", jawab Jerry sambil memeluk Papanya.
"Oh iya, Nak Albert, sesekali berkunjung ke rumah Om ya. Kami akan sangat senang kalau kamu berkunjung ke rumah kami", ucap Pak Yudo.
"Siap, Om. Kapan-kapan saya pasti ke rumah Om dan Tante", jawab Albert.
"Yaudah, Papa dan Mama pulang dulu ya, Nak. Besok pagi kami datang lagi. Jagain Yura dan Charlie ya", ucap Bu Mery.
"Iya, Ma", jawab Jerry lalu memeluk Mamanya.
Setelah kedua orangtua Jerry pulang, Albert pun pamit kepada Jerry.
"Bro, gue ke hotel terdekat sini ya, mau istirahat, kalau ada apa-apa, jangan lupa kabarin gue", ucap Albert.
"By the way, nama baby Charlie keren banget, karena ada Albert nya di tengah. Pasti terinspirasi dari gue kan", tambah Albert dengan percaya dirinya.
"Gue hutang budi sama lu, Bro. Makasih banyak karena sudah membawa Yura kesini. Kalau gak ada lu, gue gak tahu lagi apa yang bakalan terjadi. Nama Albert itu memang terinspirasi dari lu, Bro", ucap Jerry.
"Serius, Bro?", tanya Albert.
"Iya, gue serius. Thankyou so much ya, Al", Jerry memeluk Albert.
"Sama-sama, Jer", Albert membalas pelukan Jerry.
__ADS_1
Setelah Albert pergi, Jerry kembali ke kamar tempat Yura dirawat.
"Terimakasih, Sayang, untuk pengorbanan dan perjuangan kamu. Papi makin cinta sama kamu", Jerry mengelus kepala Yura yang sedang tidur.
Di kediaman Charly...
"Sayang, belum ngantuk?", tanya Charly kepada Dita yang masih menonton tivi.
"Sebenarnya sudah ngantuk, Mas", jawab Dita.
"Tidur yok", ajak Charly.
Dita menggeleng.
"Mas Charly tidur duluan aja, aku nanti tidur di sofa, Mas", jawab Dita tanpa melihat Charly.
Dita kembali menggeleng, namun kini air matanya menetes.
"Kamu kenapa, Sayang?", tanya Charly.
"Aku takut, Mas", jawab Dita.
Charly yang mengerti ketakutan Dita, langsung memeluk sang istri.
"Maafkan Mas ya, Sayang. Mas sudah membuat kamu takut dan trauma. Mas janji, tidak akan pernah berkata dan berlaku kasar lagi terhadap kamu. Mas akan mencintaimu dengan sepenuh hati. Mas juga tidak akan meminta hak Mas kalau kamu tidak mengizinkan, Sayang", ucap Charly.
"Mas akan menunggu sampai kamu siap, Sayang", tambah Charly dan memeluk Dita semakin erat.
__ADS_1
Dita mengurai pelukan Charly.
"Aku mencintaimu, Mas. Sudah sejak lama", ucap Dita dengan menatap mata Charly.
"Sejak lama?", tanya Charly.
"Ya, Mas. Sejak aku masih merawat Bu Klara", jujur Dita.
"Dan kamu memendamnya bahkan ketika aku selalu kasar kepada kamu, Sayang?", tanya Charly yang dibalas anggukan oleh Dita.
"Boleh aku menciummu?", tanya Charly.
"Kenapa harus minta izin, Mas?", balas Dita.
Ccup..
Charly mencium singkat bibir Dita.
"Aku juga mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku lagi ya", ucap Charly yang dibalas senyuman oleh Dita.
"Yaudah, kita tidur yok, aku ngantuk", ajak Dita sambil beranjak dan memegang tangan Charly.
"Langsung tidur ya?", tanya Charly penuh makna.
"Emang mau ngapain lagi, Mas?", tanya Dita yang sebenarnya mengerti apa maksud Charly.
"Gak kog, Sayang. Yaudah, yok kita ke kamar", ucap Charly.
__ADS_1