
Sesampainya di rumah, Jerry langsung berlari, menaiki anak tangga, menuju kamar mereka, berharap sang istri dan anak masih berada di dalam kamar.
Ceklek..
Pintu kamar tidak dikunci.
Ketika pintu dibuka, suasana kamar sangat sunyi dan gelap.
Degg.. Jantung Jerry seakan mau berhenti, pikirannya tiba-tiba kacau.
"Mami, Charlie, kalian masih di kamar ini kan?", Jerry bersuara.
"Maafkan Papi ya", tambah Jerry sambil lelaki tampan itu meraba tembok untuk mencari saklar agar bisa menghidupkan lampu kamar.
"Oh, syukurlah", Jerry mengelus dadanya, merasa lega, karena ternyata Yura sudah tidur pulas.
Terlihat Charlie sedikit gelisah, sepertinya bayi mungil itu sedang haus.
"Mam, anak kita sepertinya haus", Jerry membangunkan Yura.
"Mam", ucap Jerry sambil mengelus kepala sang istri.
"Mmmhh", Yura membuka matanya.
"Charlie sepertinya haus, Mam", ucap Jerry dengan lembut.
Yura pun langsung duduk dan perlahan memangku sang bayi untuk memberikan ASI.
"Aku pikir kamu tadi pergi membawa Charlie", Jerry memecah keheningan.
__ADS_1
"Jadi kamu sangat berharap supaya aku dan Charlie pergi dari rumah ini?", tanya Yura yang masih sedang memberi ASI kepada baby Charlie.
Jerry menggeleng cepat.
"Sebenarnya tadi aku benar-benar ingin membawa Charlie pergi dari rumah ini, tapi Papa dan Mama menelepon, katanya besok pagi mereka tiba di Indonesia dan akan langsung ke Makassar. Mereka ingin melihat Charlie", ucap Yura tanpa melihat Jerry.
"Yess, kedatangan Papa dan Mama semoga bisa membuat keluargaku harmonis lagi", batin Jerry sambil lelaki tampan itu menahan senyum.
"Aku hanya bingung, apakah aku bisa bertahan hidup dengan lelaki yang tidak mencintaiku lagi", ucap Yura.
"Kenapa Mami berbicara seperti itu?", tanya Jerry.
"Bukankah kamu memang sudah tidak menyukaiku lagi? Kamu sendiri tadi yang bilang kalau kamu keluar mau cari cewek. Apa artinya semua itu?", Yura menitikkan air mata.
"Sayang", Jerry memeluk tubuh Yura dari belakang.
"Papi masih mencintaimu, sangat mencintaimu, dan seterusnya akan seperti itu", ucap Jerry.
"Tadi ketemu dengan cewek yang kamu cari?", tanya Yura.
"Ya ampun, Mam, Papi tuh tadi keluar cari makan. Papi laper", jawab Jerry.
"Bohong", ketus Yura.
"Kalau Papi bohong, Papi berani mati sekarang dan masuk neraka deh", Jerry meyakinkan sang istri.
"Iih, ngomong apa sih, Mas", protes Yura.
"Jangan pangil Mas lagi donk, Mam. Kalau kamu manggil Mas terus, Papi merasa kalau kamu masih marah sama Papi", rengek Jerry yang masih memeluk punggung sang istri.
__ADS_1
"Jadi sekarang Papi sudah makan?", tanya Yura.
"Nah gitu donk, kan enak dengernya", Jerry mengurai pelukannya.
"Papi tadi cuma minum kopi dan makan roti bakar", jawab Jerry.
"Laper kog minum kopi", gerutu Yura sambil meletakkan Charlie kembali ke tempat tidur.
"Papi galau sih tadi", jawab Jerry.
"Papi mau ke dapur sebentar buat nasi goreng. Mami mau?", tanya Jerry sambil beranjak dari tempat tidur.
"Aku kenyang banget. Tadi makan sate kambing habis dua porsi", jawab Yura.
"Hah? Papi gak dibagi loh. Mami makan sate kambingnya dua porsi, sendirian", protes Jerry.
"Habisnya Papi nyebelin. Jatah Papi ya Mami makan jadinya", ucap Yura.
"Dasar gendut", Jerry mencubit lembut hidung sang istri.
"Iihhh, tuh kan, Papi ngatain Mami gendut", Yura memanyunkan bibirnya.
"Bercanda loh, Sayang. Kamu tetap cantik. Kamu mau gendut, mau kurus, Papi tetap sayang dan cinta sama kamu", ucap Jerry.
Ccupp.
Jerry mencium singkat bibir sang istri.
"Udah ah, jangan manyun terus. Nanti Papi khilaf loh", goda Jerry.
__ADS_1
"Khilaf khilaf, Mami masih masa nifas nih. Gak boleh di senggol dulu", jawab Yura.
"Hemm, yasudahlah", balas Jerry pasrah.