Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Kesetiaan Frans


__ADS_3

"Bang, aku ke kantor ikut mobil Bang Frans ya", pinta Albert saat Frans sudah berada dalam mobilnya.


"Tumben banget kamu mau bareng sama Abang, biasanya juga maunya bawa mobil sendiri", jawab Frans.


"Aku lagi males nyetir, Bang", Albert langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Frans.


"Kamu sebenarnya kenapa, Al? Abang perhatiin dari bangun tidur tadi kayak gak ada semangat hidup", Frans yang sedang menyetir sesekali melirik Albert yang betah dalam diamnya.


"Gak tau juga, Bang. Aku hanya merindukan Yura. Aku khawatir dia gak bahagia, Bang. Satu setengah bulan yang lalu, saat sepupuh kita menikah di Makassar, aku sempatkan waktu untuk bertemu Yura. Nah saat itu suaminya datang, dia marah dan sangat kasar sama Yura. Akibat sikap kasar Jerry, tangan Yura terkilir, Bang. Bahkan waktu itu aku yang membawa Yura ke dokter dan menghantarkannya pulang ke rumah", jawab Albert sambil memandang jauh entah kemana.


"Al, kita gak pernah tahu masalah apa yang sedang mereka berdua lalui. Mungkin saja saat itu Pak Jerry cemburu. Yaa suami mana sih yang gak cemburu kalau istrinya bertemu lelaki lain, walaupun itu sahabatnya sendiri. Kalau kamu mencintai Yura, doakan yang terbaik untuk dia, relakan dia bahagia dengan pilihannya. Ingat Al, cinta itu gak harus memiliki", Frans menasihati adik kesayangannya itu.


"Bang, apa aku boleh bertanya?", Albert melihat ke arah Frans yang masih fokus dengan setirnya.


"Hmmm, mau tanya apa?", jawab Frans.


"Bang Frans gak berniat menikah lagi? Setelah kepergian Mba Vicha, aku perhatiin, Abang gak ada dekat dengan wanita manapun", tanya Albert.

__ADS_1


"Bagi Abang, menikah itu hanya sekali, Al. Kalaupun suatu hari nanti hati Abang mulai terbuka dan akan mulai mencintai lagi, mungkin wanita itu adalah titisan Vicha", jawab Frans sambil tersenyum.


Yaa, pertanyaan Albert membuat Frans tiba-tiba merindukan istrinya, Vicha, yang sudah meninggal dua tahun yang lalu saat berjuang melahirkan anak pertama mereka. Saat itu adalah ulangtahun pernikahan mereka yang ke tiga tahun, kandungan Vicha masih berusia delapan bulan. Saat pulang dari makan malam keluarga, tiba-tiba Vicha merasa aneh pada perutnya. Dengan segera Frans mebawanya ke rumah sakit. Ternyata Tuhan berkehendak lain, satu malam menginap di rumah sakit, Tuhan menginginkan Vicha dan anaknya segera kembali ke pangkuanNya.


"Maafin aku, Bang, pertanyaanku membuat Abang jadi sedih", Albert menyesali dirinya.


"Gak kog, Al. Abang gak sedih, karena Abang yakin kalau Vicha dan anak kami sudah sangat bahagia Di Sana", jawab Frans sambil memarkirkan mobilnya di parkiran kantor mereka.


"Aku salut sama Bang Frans. Dia sangat baik. Padahal sangat banyak wanita yang mencuri perhatian Dud* Keren seperti dia, tapi hati dan cintanya tetap setia kepada Mba Vicha. Walaupun sekarang Mba Vicha sudah tiada", batin Albert.


Kembali ke kamar Jerry dan Yura.


"Halo, Mama", Yura menerima telepon dari Bu Sinta.


"Sayang, bagaimana keadaanmu? Kandungan kamu sehat kan, Nak?", tanya Bu Sinta.


"Puji Tuhan, Ma. Kami semua sehat. Mama dan Papa juga sehat kan?", tanya Yura.

__ADS_1


"Iya, Nak, kami semua sehat. Apalagi kan sebentar lagi kami punya cucu, jadi semakin hari kami semakin berbahagia", jawab Bu Sinta yang membuat hati Yura tenang.


"Nak, bulan depan Papa dan Mama akan berangkat ke Singapura. Mungkin akan lama disana, sekitar enam bulan, karena Papa mau fokus mengelola perusahaan yang baru di sana. Jadi untuk sementara Bude Rum yang menjaga rumah", kata Bu Sinta.


"Kalau tidak keberatan dan kalau diizinkan dokter, bulan depan kamu dan Jerry datang ke Jakarta untuk ikut acara ibadah syukur di rumah ya, Nak. Tapi Papa dan Mama tidak memaksa kog, Nak. Karena kamu juga sedang hamil, jadi Mama juga memikirkan kondisi kamu", Bu Sinta menjelaskan.


"Wah, dengan senang hati, Ma. Mas Jerry dan Yura pasti akan datang. Yura juga akan berkonsultasi dulu dengan Dokter Charly", jawab Yura.


"Siapa Dokter Charly, Nak?", tanya Bu Sinta.


"Oh, dia adalah Dokter Spesialis Kandungan, Ma", jawab Yura.


"Oh begitu, baiklah, Nak. Papa dan Mama tunggu kabar baiknya ya", kata Bu Sinta mengakhiri panggilan teleponnya.


Jerry yang sedari tadi duduk di sebelah Yura sambil memeriksa setiap e-mail yang masuk di laptopnya, menoleh ke arah Yura, mengangguk tanda setuju dengan permintaan Bu Sinta tadi.


Yaa, tadi Yura mengaktifkan loudspeaker saat Bu Sinta menelepon, jadi Jerry mendengar semuanya.

__ADS_1


"Kita akan ke Jakarta bulan depan ya, Mam", Jerry tersenyum kepada Yura.


__ADS_2