Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Gara-Gara Albert


__ADS_3

Acara pun selesai. Saat ini semua tamu undangan sedang menikmati jamuan malam yang disediakan oleh Keluarga Pak Bram sambil diiringi lagu-lagu oleh Band Lokal yang dikontrak khusus untuk menghibur para tamu malam ini oleh Pak Bram.


"Sayang, kamu mau aku ambilkan salad buah?", tanya Yura ketika Jerry sudah menyelesaikan makannya. Karena Yura tahu kalau suaminya itu sangat menyukai salad buah.


"Boleh, Sayang. Terimakasih ya", ucap Jerry.


"Eehhemm, kalau tidak keberatan, aku juga mau donk, Yur, salad buahnya", Albert yang juga duduk bersama mereka tidak mau ketinggalan.


"Siiaap", jawab Yura yang dibalas acungan jempol di atas dada oleh Albert.


Yaa, saat ini Jerry, Yura, Pak Bram, Bu Sinta, Frans, dan Albert duduk bersama. Ada meja bundar di tengah-tengah mereka.


Jerry merasa sangat terganggu dengan sikap Albert. Dia hanya memandang ke arah Yura berdiri dengan tatapan yang datar.


"Bagaimana mungkin dia bersikap seperti itu padahal disini ada aku dan juga mertuaku?", batin Jerry.


"Apa dia sengaja mau membuat aku marah?", Jerry bergumul dalam hatinya. Sesekali Jerry memperhatikan Albert yang sedari tadi terus saja melihat ke arah Yura.


"Aarrggh.. ingin sekali rasanya aku menc*ngkel mata lelaki yang sok ganteng ini", batin Jerry lagi.


Yura datang dengan membawa dua mangkuk salad buah.


"Ini punya Papi, ini punya Albert", kata Yura sambil meletakkan salad buah tersebut di depan Jerry dan Albert.

__ADS_1


"Makasih ya, Sayang", Jerry tersenyum ke arah Yura yang saat ini sudah duduk di sampingnya.


Author kalau ngebayangin Jerry senyum suka kesemsem sendiri deh. Hihihi.


"Terimakasih, Cantik", Albert memainkan satu matanya kepada Yura.


Belum sempat Yura merespon ucapan Albert, Jerry berdehem tiga kali.


Frans yang merasa adiknya sedikit keterlaluan, memelototi Albert sambil menggelengkan kepalanya. Bukannya merasa takut, Albert malah mengul*m senyum di bibirnya.


Kayaknya si Albert emang sengaja nih mau buat Jerry kesal.


Para tamu mulai pulang satu per satu. Pak Bram, Bu Sinta, Jerry, dan Yura berdiri sambil menjabat tangan tamu yang akan pulang. Ini menunjukkan betapa rendah hatinya keluarga Pak Bram. Meskipun bergelimang harta namun mereka tetap mau membaur dengan orang-orang dari semua kalangan.


Ketika Frans dan Albert akan pulang dan hendak berjabat tangan, Jerry langsung menggengam erat tangan kanan Yura yang berdiri di sebelah kirinya. Tujuannya tidak lain adalah supaya Albert tidak bisa menjabat tangan Yura.


Hahaha, gara-gara Albert, Yura juga jadinya tidak bisa berjabat tangan dengan Frans.


Saat ini Jerry dan Yura sudah berada di dalam kamar mereka. Tepatnya di kamar Yura sewaktu dia masih belum menikah dengan Jerry, alias waktu Yura masih gadis.


"Papi gak mandi?", tanya Yura mencairkan suasana karena sedari tadi, semenjak masuk ke dalam kamar, Jerry melakukan aksi diam. Duduk di ranjang dan sibuk menatap layar handphonenya. Author pun tidak tahu apa yang dilihat Jerry dari tadi.


"Pa...", panggil Yura karena Jerry tidak merespon pertanyaannya dan Jerry hanya menoleh malas.

__ADS_1


"Kenapa Papi diam saja?", tanya Yura lagi sambil memegang bahu sebelah kanan Jerry.


"Menurut Mami?", Jerry malah balik bertanya.


"Karena Mami gak tahu makanya Mami bertanya, Pa", kata Yura dengan ekspresi bingung.


Lagi-lagi Jerry hanya diam dan akhirnya Yura pun menyerah.


Yura ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, kemudian mengganti pakaiannya lalu tidur memunggungi Jerry. Sementara Jerry masih betah duduk di pinggir ranjang sambil menunduk dan memijat keningnya.


Jer, siap-siap besok kamu yang bakalan di diemin sama Yura. Pokoknya Author gak mau nolongin ya, Jer.


Ketika Jerry beranjak dari duduknya hendak ke kamar mandi, handphone Yura berdering. Karena Yura sudah tidur sangat pulas, jadi dia tidak menyadari kalau ada panggilan masuk. Akhirnya Jerry yang menerima panggilan tersebut yang ternyata Albert yang meneleponnya.


"Jangan melebihi batasanmu. Kamu mau menjadi perebut bini orang?!", kata Jerry dengan sangat ketus.


"Oppss.. selow, Bro. Jangan marah-marah gitu donk", jawab Albert dengan santai.


Karena tidak mau ribut dan takut semakin terbawa emosi, Jerry langsung mengakhiri sambungan telepon dari Albert dan langsung menonaktifkan handphone Yura.


Saat ini Jerry benar-benar merasakan panas di dadanya.


"Aku dan Yura tidak boleh berlama-lama di kota ini, kami harus secepatnya kembali ke Makassar. Karena bisa saja si lelaki sok ganteng itu mencuri kesempatan untuk bertemu Yura", batin Jerry sambil meletakkan handphone Yura di atas nakas kemudian dia berjalan menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2