
Karena merasa ada yang menyentuh kakinya, Yura terbangun. Melihat Jerry duduk di dekatnya sambil memandangnya sendu, Yura langsung memalingkan wajahnya.
Kring.. Kring..
"Haloo", jawab Yura dengan lemah saat menerima panggilan telepon dari seseorang.
"Haloo, Cantik. Suaranya kenapa kecil sekali?", tanya Albert. Yaa, siapa lagi yang selalu memanggil Yura Cantik kalau bukan Albert.
"Aku baru bangun tidur. Aku sedikit lelah hari ini", jawab Yura.
"Kamu sehat kan?", tanya Albert lagi yang dibalas anggukan oleh Yura, seolah Albert yang berada di ujung telepon bisa melihat dia.
"Yur, kog diam saja? Kamu gak kenapa-napa kan?", tanya Albert lagi.
"Iya, Al, aku sehat kog. Aku baik-baik saja", jawab Yura.
Mendengar Yura menyebut nama Al, membuat Jerry menegakkan duduknya. Pandangan yang tadinya sendu berubah menjadi tajam. Yaa, Jerry bukan sedang memelototi Yura, tapi handphone Yura, berharap Albert takut melihat tatapannya. Hahahaha. Padahal kan Albert lagi di ujung telepon ya.
"Kamu kapan pulang ke Makassar, Yur? Aku mau ajak kamu jalan-jalan dulu sebelum kamu pulang. Suami kamu juga boleh ikut deh, dari pada nanti aku diamukin sama dia", kata Jerry sambil tertawa.
"Gak tau, Al. Mungkin aku gak balik lagi ke Makassar", jawab Yura lemah sambil menunduk memandangi lantai kamarnya.
__ADS_1
Mendengar jawaban Yura membuat Jerry tertunduk dan menutup matanya.
"Yura, kamu yakin baik-baik saja? Cerita sama aku kalau kamu lagi ada masalah", selidik Albert.
"Al, aku tutup dulu teleponnya ya", bukannya menjawab pertanyaan Albert, Yura justru mengakhiri percakapannya dengan Albert.
"Kamu bilang apa tadi?", tanya Jerry sambil menarik tangan Yura yang akan beranjak dari tempat tidur.
"Kamu mau membuat tanganku terkilir lagi?", jawab Yura dengan ketus tanpa melihat suaminya.
Jerry pun melepas genggamannya.
"Sayang, aku minta maaf karena sudah mendiamkanmu dari semalam. Aku lakukan itu karena aku cemburu. Aku tidak suka kalau kamu bersikap manis kepada Albert", Jerry berlutut di depan istrinya saat Yura akan keluar dari kamar.
"Oh ya? Bukankah itu teman lamamu? Dari pagi kamu izin sama Papa kalau kamu mau bertemu teman lamamu kan?", tanya Yura tegas.
"Sayang, maaf karena aku telah berbohong. Sebenarnya aku tidak bertemu dengan siapapun. Aku hanya berkeliling kota Jakarta menghabiskan waktu karena aku sedang ngambek sama kamu. Setelah merasa bosan dan lapar, aku mampir ke Mall itu untuk makan siang. Pas aku selesai makan, aku bermaksud menuju pintu keluar restoran, tapi gadis itu malah mengotori bajuku dengan minumannya karena dia berjalan sambil melihat handphonenya", jawab Jerry yang saat ini sudah berdiri sambil menggenggam tangan Yura.
"Gak usah alasan, Mas. Kenapa kamu tidak merespon telepon dariku? Berkali-kali aku mencoba menghubungimu tapi selalu kamu tolak. Pesan singkat yang aku kirim pun tidak kamu balas. Pasti karena kamu sedang bermesr*an dengan gadis itu, iya kan?!", Yura meninggikan suaranya dan melepaskan genggaman Jerry.
Untungnya kamar Yura kedap suara, jadi suaranya tidak akan terdengar keluar kamar.
__ADS_1
"Aku pikir setelah kamu putus dari Fely, aku bisa memilikimu seutuhnya, Mas. Tapi ternyata kamu masih memiliki cabang yang lain", kata Yura yang kini menangis sesenggukan.
"Mas, lebih baik kamu ceraikan aku", kata Yura melemah.
Bagai disambar petir rasanya saat Jerry mendengar pernyataan Yura.
"Apa, Sayang? Kamu jangan bicara sembarangan. Aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Kamu sendiri yang selalu mengingatkanku kalau pernikahan itu hanya sekali seumur hidup. Apa yang sudah Tuhan persatukan, tidak bisa diceraikan manusia kecuali maut yang memisahkan. Sekarang apa yang kamu bicarakan? Kamu bilang cerai?", suara Jerry terdengar mulai meninggi.
"Kamu hanya salah paham, Sayang. Aku bersump*h kalau aku tidak mempunyai hubungan dengan wanita lain", Jerry kembali bersujud di depan Yura yang saat ini duduk di pinggir ranjang.
"Tapi aku benar-benar kecew...", belum selesai Yura berbicara, dia merasakan nyeri pada perutnya.
"Aaahhww, perutku", Yura memegangi perutnya sambil meringis kesakitan.
Melihat istrinya seperti itu membuat Jerry menjadi panik.
"Mama, Papa, tolongin Yura!!", teriak Jerry yang tidak didengarkan oleh siapapun kecuali Yura yang berada di dalam kamar bersamanya.
"Bude Ruuum, tolooong!!", teriak Jerry lagi namun tidak juga didengar.
Menyadari kamar Yura ternyata kedap suara, Jerry mencoba untuk kembali tenang.
__ADS_1
"Sayang, tenangkan diri kamu dulu ya. Aku akan menelepon Dokter Charly", kata Jerry yang mencoba menenangkan istrinya dengan membaringkan Yura di ranjang.