
"Jangan tidur di sofa lagi", ucap Yura yang masih berada dalam pelukan Jerry.
"Iya, Sayang", jawab Jerry setengah berbisik.
Akhirnya malam itu Jerry dan Yura kembali tidur bersama, dengan Jerry memeluk erat sang istri. Benar saja, Yura langsung lelap ketika Jerry mengelus-elus kepalanya. Dan Jerry kembali tidur setelah memastikan Yura sudah benar-benar terlelap.
Keesokan paginya...
Jerry merasakan mati rasa pada tangannya karena selama lima jam lengan Jerry dijadikan bantal oleh Yura.
"Sayang, boleh bangun sebentar?", Jerry mengelus pipi sang istri.
"Aku masih ngantuk", gumam Yura yang belum membuka matanya.
"Papi tarik tangan Papi ya, ini sudah mati rasa banget, Mam", Jerry pelan-pelan mencoba menarik tangannya.
Jerry pun bangun dan membuka horden kamar mereka, sehingga cahaya matahari pagi masuk dan pas mengenai wajah cantik Yura.
"Silau, Mas", Yura menarik selimut menutupi wajahnya.
"Kog panggil Mas lagi?", tanya Jerry sambil mendekati Yura dan menarik selimut sampai ke bagian pinggang sang istri.
"iih, Papi..", rengek Yura.
__ADS_1
"Papi ke bawah duluan ya, Sayang", ucap Jerry lalu mencium kening Yura.
"Jangan pergi, sini aja", Yura menarik tangan Jerry.
"Hari ini Papi gak boleh ngapa-ngapain. Kita di kamar aja", ucap Yura yang masih memejamkan matanya.
"Tumben banget", batin Jerry.
"Tapi kan Papi mau beres-beres", jawab Jerry yang kini kembali berbaring di samping Yura.
"Rumah kita gak kotor, Papi", ucap Yura yang kini memiringkan badannya ke arah Jerry.
"Papi mau nyuci baju dan nyetrika kalau gitu", kata Jerry lagi.
"Yaudah, Papi masak untuk sarapan deh kalau gitu", ucap Jerry sambil tersenyum, sepertinya dia mau melihat reaksi istrinya kembali.
"Gak usah, nanti kita beli aja makanannya", jawab Yura yang kini memeluk suaminya.
"Sini aja sama aku", tambah Yura dengan gaya manja.
"Bilang dulu donk kalau kamu sudah maafin Papi dan gak akan meninggalkan Papi", tantang Jerry.
"Iya, aku udah maafin Papi. Tapi janji kalau yang kemarin itu adalah yang terakhir kalinya Papi berkata kasar dan nyakitin Mami", balas Yura.
__ADS_1
"Kalau Papi ulang lagi kesalahan yang sama, Mami dan Charlie akan benar-benar pergi dari hidup Papi walaupun mungkin akan sangat menyakitkan buat Mami", tambah Yura yang kini mengalungkan satu tangannya di leher Jerry.
"Iya, Mam, Papi janji", bisik Jerry yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Mata Jerry berkaca-kaca mendengar pernyataan sang istri.
"Terimakasih karena sudah memberikan kesempatan kedua untuk Papi memperbaiki semuanya", ucap Jerry yang ternyata membuat air matanya menetes membasahi pipinya.
"Jangan menangis lagi, Pa", Yura mengusap air mata Jerry.
"Jangan tinggalkan aku ya, Sayang", ucap Jerry lagi dan air matanya kembali menetes.
"Iya, Sayang", jawab Yura yang kembali mengusap air mata suaminya dan Jerry memeluk Yura dengan erat.
"Boleh aku menciummu?", tanya Jerry sambil memegang dagu sang istri.
"Bahkan lebih dari itu juga boleh, Pa", jawab Yura seperti menggoda Jerry.
"Kalau begitu, Papi boleh menengok Charlie?", pinta Jerry.
"Tentu boleh, Pa", Jawab Yura yang membuat Jerry semakin bersemangat.
"Bagaimana kalau di sofa, Mam?", tanya Jerry. Mengingat perut Yura yang sudah semakin besar, Jerry tidak mungkin menindih sang istri, dan sofa adalah tempat terbaik bagi mereka untuk memadu kasih.
Jerry menggendong Yura dari ranjang ke sofa ala bridal style. Yaa, kini Yura duduk di pangkuan Jerry dan mereka memulai permainan mereka.
__ADS_1