
Air mata yang sedari tadi Yura bendung akhirnya tumpah juga.
"Kenapa kamu kasar sama aku, Mas?", Yura terisak.
"Maafkan, aku, Sayang. Semua di luar kendaliku. Sikapku sudah membuat tanganmu cidera", kata Jerry.
"Aku akui kalau aku cemburu melihat kedekatan kamu dan Albert", jujur Jerry sambil menunduk mencium tangan Yura yang saat ini berada di atas pahanya.
Ternyata Jerry sampai menangis ketika menyesali perbuatannya kepada Yura.
"Mas, aku sudah memaafkanmu. Jangan menangis lagi", kata Yura.
"Aku dan Albert memang bersahabat, Mas. Yahh, aku tahu kalau dia masih mencintaiku, tapi percaya sama aku, Mas, sekarang aku hanya mencintaimu", kata Yura sambil meminta Jerry memperbaiki duduknya.
"Terimakasih, Sayang", Jerry memeluk istrinya.
"Mas, pelan-pelan, tanganku masih sakit", Yura merenggangkan pelukan Jerry.
Malam harinya Jerry mengetuk pintu kamar Yura.
Tokk...tokk..tokkk...
__ADS_1
"Ada apa, Mas?", tanya Yura ketika pintu kamarnya sudah dibuka.
"Sayang, kenapa kamu masih tidur disini? Ayo kembali ke kamar kita", ajak Jerry.
"Mas, sebelum kamu menyelesaikan hubungan kamu dan Fely, aku tidak akan mau tidur sekamar denganmu", Yura konsisten dengan keputusannya.
"Sayang, tapi aku tidak mau tidur sendirian di kamar. Kalau begitu aku tidur di kamar kamu aja ya", kata Jerry menerobos Yura dan langsung merebahkan dirinya di ranjang Yura.
"Aku mohon, Mas, kita jangan sekamar dulu. Selesaikan dulu hubungan kamu sama Fely", Yura memohon kepada Jerry.
"Huuffth. Baiklah kalau begitu maumu. Aku juga tidak akan tidur di kamarku. Lebih baik aku tidur di sofa depan TV", kata Jerry.
"Sekarang kamu istirahat ya. Hal yang harus kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu, Cyntiara Jenya", Jerry mencium kening istrinya lalu beranjak keluar dari kamar Yura.
Keesokan paginya...
"Ry, gue mau lu cari dimana Fely sekarang", Jerry menelepon Ryan.
"Gila lu. Ini masih pagi banget, wahai Bapak CEO. Gue baru juga buka mata, Jer. Lagian buat apa lu mencari wanita itu lagi? Jangan bilang lu kangen sama dia", Ryan menjawab Jerry.
"Sembarangan lu. Justru gue mau mencampakkan dia secara langsung, Ry. Gue mau mutusin dia. Pengkhianatan dia ke gue udah gak bisa dimaafkan lagi. Ternyata dia cuma ngincer duit gue", kata Jerry.
__ADS_1
"Syukurlah kalau lu sudah sadar, Jer", balas Ryan.
"Pokoknya gue mau lu segera temukan dia", Jerry memaksa Ryan.
"Jer, ini hari Minggu loh, gue mau menikmati waktu berdua dengan pacar gue. Jangan kasih gue tugas yang buat pusing donk", keluh Ryan.
"Lu atur lah pokoknya. Gue gak mau lama-lama pisah tidur dengan Yura", kata Jerry yang membuat Ryan terkejut.
"Maksudnya lu pisah ranjang sama Yura?", tanya Ryan.
"Udah, ga usah banyak tanya. Yang penting sekarang lu cari Fely dimana, biar gue bisa mergokin dia", jawab Jerry.
"Lagian kan gak harus lu yang cari langsung, Ry. Lu bisa nyuruh siapa kek untuk nyari wanita itu", kata Jerry membuat kening Ryan berkenyit di ujung sana.
"Kenapa bukan lu yang cari orang untuk nemuin si Fely?", tanya Ryan heran.
"Kan gue nyuruh lu. Hahaha. Pokoknya gue percayain sama lu. Untuk teknisnya, lu aja yang atur", jawab Jerry.
"Tenang aja, tugas ini ga cuma-cuma. Nanti gue kasih bonus buat lu", kata Jerry lagi.
"Nahh, gitu donk, Jer. Kan sama-sama enak jadinya", balas Ryan.
__ADS_1
"Yasudah, gue matiin teleponnya", Jerry menyentuh tombol merah pada layar handphonenya.
"Aduhhh, sudah dua hari aku tidak tidur memeluk Yura. Aku sangat merindukan masa-masa dimana kami berbagi peluh. Aku juga sangat merindukan aroma tubuhnya", batin Jerry sambil dia memeluk guling kesayangannya dan kembali merebahkan dirinya di sofa.