
Keesokan harinya Jerry dan Yura bangun dengan senyum yang mengembang. Lengan kiri Yura pun sudah tidak dibalut perban elastis lagi.
"Mam, kalau Papi pikir, apa sebaiknya Mami tidak perlu ke kantor lagi?", kata Jerry kepada Yura ketika mereka sedang sarapan bersama.
"Maksud Papi, Mami gak boleh jadi Sekretaris Papi lagi? Kenapa? Apa kamu mau mencari sekretaris pribadi yang baru? Kamu bosan selalu melihatku di rumah dan di kantor? Kamu mau suasana yang baru, gitu?", Yura menghentikan aktivitas makannya dengan menyerbu Jerry dengan berbagai pertanyaan.
"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya tidak mau kamu terlalu lelah. Karena kan pekerjaan seorang sekretaris pribadi itu sangat banyak dan sangat melelahkan. Aku memikirkan kesehatan kamu dan anak kita. Aku takut kamu stress karena pekerjaan, Mam", Jerry mencoba menjelaskan.
"Jadi kamu mau mengganti posisiku dengan sekretaris yang baru?", Yura terlihat sangat kesal.
Aduhh, Jer.. alamat deh, pagi-pagi sudah buat suasana hati bumil jadi jelek, siap-siap aja seharian dijutekin.
"Sayang, aku salah bicara ya?", Jerry menjadi serba salah.
"Kamu gak mau aku ke kantor lagi kan? Yaudah, mulai hari ini kamu pergi ke kantor sendiri. Biar aku di rumah aja. Kamu cari sekretaris pribadi yang jauh lebih muda dan cantik. Biar kamu semangat kalau kerja", jawab Yura.
"Aku sudah kenyang", Yura beranjak dari kursi makan, membawa perabot makannya lalu menaruhnya di washtafel.
Yura berlalu melewati Jerry, kemudian dia menghentikan langkahnya dan balik badan.
"Kalau kamu mau berangkat ke kantor, tutup pintunya. Gak usah dikunci, biar nanti Bu Asih datang, bisa masuk ke rumah".
Nah loh kan, Jer.. ngambek kan istri kamu.
__ADS_1
"Haduhh, kenapa tadi aku harus membahas itu sih?", batin Jerry.
"Halo, Ry, gue minta tolong lu tugasin OB kantor kita untuk mindahin meja kerja Yura ke ruangan gue. Mulai besok, gue mau dia seruangan sama gue", Jerry menelepon Ryan.
"Ada angin apa nih, Jer? Tiba-tiba minta seruangan dengan Nyonya CEO?", tanya Ryan.
"Istri gue lagi hamil, Ry. Jadi gue mau dia di ruangan gue aja. Biar gue bisa perhatiin dia setiap saat", jawab Jerry.
"Tadi gue bilang sama dia, biar dia gak usah ke kantor lagi, mengingat banyaknya tugas sebagai Sekretaris Pribadi. Gue cuma gak mau dia terlalu lelah fisik maupun pikiran. Gue mikirin kesehatan dia dan anak kami. Eh, ternyata Yura mengira kalau gue udah bosan sama dia, dan dia kira gue mau cari Sekretaris Pribadi yang baru. Alamat gue dijutekin seharian ini, Ry", penjelasan Jerry membuat Ryan tertawa.
"Yah lu juga, Jer, masih pagi gini ngapain ngebahas itu. Seharusnya lu cari waktu yang tepat. Ibu hamil itu lebih sensitif, Jer. Jadi jangan salah bicara. Oh iya, by the way, Selamat untuk kehamilan Yura, ya. Selamat karena bentar lagi lu bakal jadi seorang Ayah", balas Ryan.
"Hari ini gue gak ke kantor ya, Ry, tolong lu handle semua. Kalau ada hal yang benar-benar penting, lu bisa e-mail ke gue", kata Jerry.
"Mau ngebujuk Nyonya CEO ya?? Jangan salah bicara lagi ya, Pak Bos", kata Ryan sambil terkekeh.
"Dasar mesum lu, Jer", balas Ryan.
"Makanya sekarang istri gue hamil, karena gue yang mesum ini. Cepetan lu nikah, biar bisa ngerasain yang enak-enak. Hahaha", Canda Jerry kepada Ryan.
"Dasar lu. Udahh jangan terlalu bahagia lu ngejek gue, inget Yura sekarang lagi ngambek. Bisa-bisa didiemin lu seumur hidup", balas Ryan.
"Haduh, iya juga ya. Yasudah, Ry, tolong lu minta OB untuk mindahin meja kerja Yura ya. Atur posisinya sebagus mungkin. Kalau bisa ganti kursi kerjanya dengan kursi yang paling nyaman untuk ibu hamil. Oh iya, satu lagi, tugas yang gue kasih kemarin jangan lupa ditindaklanjut ya", kata Jerry mengakhiri pembicaraannya melalui sambungan telepon.
__ADS_1
Setelah menelepon Ryan, terdengar suara bel dari pintu depan. Ternyata Bu Asih yang datang. Jerry pun mempersilakan Bu Asih untuk masuk
"Selamat Pagi, Pak. Apakah mau langsung berangkat ke kantor?", tanya Bu Asih.
"Pagi, Bu. Hari ini aku dan Yura mau ke rumah sakit, Bu, jadi kami sepertinya tidak ke kantor", jawab Jerry yang membuat Bu Asih terkejut.
"Apakah Bu Yura sakit, Pak? Ada yang bisa Ibu bantu untuk siapkan?" cemas Bu Asih.
"Yura lagi sakit bagus, Bu. Puji Tuhan istriku hamil. Jadi kami mau mengecek kandungannya sekaligus konsultasi sama dokter kandungan mengenai apa-apa saja yang bisa dilakukan oleh ibu hamil. Maklum, Bu, ini kehamilan pertama, jadi kami harus banyak belajar", jawab Jerry yang membuat Bu Asih lega.
"Syukurlah. Bu Asih senang mendengarnya. Selamat ya untuk Pak Jerry dan Bu Yura", kata Bu Asih.
"Terimakasih ya, Bu. Doain supaya Yura dan anak kami sehat", harap Jerry.
"Iya, Pak, sama-sama. Bu Asih selalu mendoakan yang terbaik untuk Pak Jerry dan Bu Yura, khususnya untuk kandungan Bu Yura semoga selalu sehat ya", jawab Bu Asih.
Setelah selesai berbincang, Bu Asih memulai pekerjaannya di rumah Jerry, sedangkan Jerry pergi ke kamar menghampiri Yura.
Yura saat ini sedang berbaring di ranjang dan menangis dalam diamnya.
Yahh, seorang wanita yang sedang mengandung memang memiliki perasaannya sangat halus ya, lebih sensitif dari biasanya, jadi gampang menangis.
"Sayang, maaf tadi aku salah bicara", Jerry mengelus kepala istrinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih di rumah? Bukannya kamu mau cari sekretaris baru?", pertanyaan Yura membuat Jerry terdiam.
Tuh kan, Jer.. Kamu siihhh..