
"Dave, lu lihat Mamas lu, lemah tak berdaya. Kasihan sih gue lihatnya. Makanan yang gue bawa, gak dimakan sama Mas Charly. Dia malah minta dibuatin mie instan, Dave. Ya gue gak berani bantah lah. Orang kalau lagi frustasi, kalau marah kan bahaya. Makanya gue turutin aja", Reza mengirim pesan singkat dan foto Charly kepada Dave yang masih berada di Palembang.
"Yasudah, yang penting dia gak nekat bu-nuh di-ri aja, Za", balas Dave.
Tadi siang Charly menghubungi Dave karena merasa sangat lemah. Dia minta supaya Dave ke apartemennya untuk membuatkan makanan.
"Mas, aku lagi dinas di Palembang, ini lagi meeting malah, Mas. Sabtu sore baru balik. Nanti Reza aja yang datang ke apartemen Mas Charly ya", balas Dave melalui pesan singkat.
"Asal gak ngerepotin Reza aja, Dave", jawab Charly.
Dave pun menghubungi Reza dan memintanya untuk menjaga Charly. Dave juga memberi tahu Reza kode password pintu apartemen Charly.
Dua hari kemudian...
"Mas, makanlah, sudah lima hari semenjak Mbak Dita pergi, Mas Charly tidak makan nasi. Mas bisa dibawa ke rumah sakit kalau terus-terusan minum kopi dan makan mie instan", Dave menasihati Charly.
"Aku hanya akan makan kalau Dita yang masakin, Dave", jawab Charly lemah.
"Dasar bucin galau", omel Dave dalam hati.
"Apakah sudah ada kabar tentang Dita?", tanya Charly dengan suara yang sangat lemah.
"Belum, Mas. Tapi Papa sudah meminta kepada polisi untuk terus melakukan pencarian terhadap Mbak Dita. Aku dan Reza juga selalu mencari Mbak Dita kog, Mas", jawab Dave dengan wajah yang terlihat prihatin dengan keadaan Charly.
"Emang enak dikerjain sama Papa, makanya jadi orang gak usah kegedean gengsi", batin Dave sambil melihat Charly yang terlihat sangat frustasi.
Pak Edward sebenarnya tidak pernah meminta polisi untuk mencari Dita. Bahkan Dave dan Reza pun sama sekali tidak membantu Charly untuk mencari Dita.
Kenapa? Apakah mereka tidak mau peduli?
"Mas, apa gak lebih baik kita balik ke rumah Papa?", tanya Dave.
__ADS_1
Charly menggeleng.
"Papa masih sangat marah kepadaku, Dave. Aku memang sudah sangat keterlaluan kepada Dita", jawab Charly.
"Dita, kamu dimana? Aku mohon, kembalilah, Sayang", gumam Charly.
Dave membelalakkan matanya ketika mendengar Charly menyebut Dita dengan Sayang.
"Apa gue gak salah denger? Sayang?", batin Dave.
Kring.. Kring...
"Halo, Za, ada apa? Apakah ada info terbaru?", Dave menerima panggilan telepon dari Reza.
"Dave..", baru saja Reza mau meneruskan kalimatnya, langsung dipotong oleh Dave.
"Haloo.. halooo, Za, gue gak bisa denger suara lu", ucap Dave.
"Dave, lu lagi dimana sih? Beneran gak denger suara gue?", tanya Reza.
"Gue tadi lagi di kamar Mas Charly. Bisa-bisa dia curiga kalau kita tahu dimana Mbak Dita, makanya gue berpura-pura gak bisa denger suara lu, dengan alibi signal. Biar gue bisa keluar dari kamarnya", jawab Dave.
"Ooh, kirain lu lagi di goa mana, ampe gak ada signal", ledek Reza.
"Jadi gimana, Za? Papa ada hubungin lu? Apa rencana Papa selanjutnya?", tanya Dave.
"Barusan Om Edward nelpon gue, beliau minta biar nanti sore gue jemput Dita di rumah sakit dan membawanya ke rumah Om Edward. Nah, lu atur gimana caranya biar Mas Charly juga mau ke rumah Om Edward", jawab Reza.
"Katanya Om Edward prihatin lihat kondisi Mas Charly", tambah Reza.
"Iya, gue tadi mengirimkan foto Mas Charly ke Papa. Bucin kalau lagi galau memang terlihat mengenaskan. Pake acara gak makan nasi selama lima hari pula", ucap Dave.
__ADS_1
"Yasudah, sekarang kita sama-sama pikirin gimana caranya mempertemukan kedua sejoli itu di rumah Om Edward", balas Reza.
"Oke Oke, lu jagain kakak ipar gue ya. Jangan sampe lecet sedikit pun", titah Dave.
"Gue siap gantiin posisi Mas Charly kalau Mamasmu itu gak mau lagi jadi suami Dita", ucap Reza.
"Bercanda lu gak lucu, Za. Masa' iya lu mau nikung Mamas gue", jawab Dave dengan santai.
"Yasudahlah, gue mau bujuk dan suapin Si Dokter tampan itu makan, sambil mikirin gimana caranya biar dia mau ke rumah Papa", tambah Dave.
"Okelah kalau begitu. Matiin geh teleponnya", jawab Reza dan panggilan mereka pun berakhir.
"Andai lu tahu, Dave, kata-kata gue tadi bukan candaan, itu beneran dari hati gue. Kalau emang Dita gak bahagia dengan Mas Charly, gue siap buat ngebahagiain Dita", batin Reza.
Yaa, selama lima hari ini Dita memang tinggal di apartemen Reza, dan itu membuat hubungan keduanya semakin dekat. Semenjak saat itu Reza mengetahui nomor ponsel Dita.
Jadi mereka tinggal bersama?
Tentu saja tidak, Bestie. Sesuai saran dari Pak Edward, untuk sementara Dita tinggal di apartemen Reza agar Charly tidak bisa menemukannya. Sementara Reza tinggal bersama Pak Edward dan Dave.
Semenjak saat itu pula, Dita pergi dan pulang dari rumah sakit diantar dan dijemput Reza dan Dave, secara bergantian. Yaa, Dita tetap bekerja seperti biasa. Pak Edward meminta agar semua karyawan di rumah sakit, mulai dari Satpam, Dokter, Perawat, Cleaning Service, dan semua yang bekerja di rumah sakit itu, tidak memberitahukan tentang Dita apabila Charly datang ke rumah sakit untuk mencari Dita.
Bagaimana dengan Charly, apakah dia tetap bekerja, atau dia menghabiskan waktunya untuk mencari Dita?
Dua hari setelah Dita pergi, Charly tetap menjalani harinya seperti biasa, bekerja di rumah sakit sebagai seorang Dokter Spesialis Kandungan. Namun ketika jam istirahat, dia akan mencari Dita. Begitu pula setelah jam praktiknya di rumah sakit selesai, dia kembali mencari Dita hingga subuh. Sampai dia tidak mempedulikan kesehatannya. Charly sama sekali tidak makan nasi dan makan bergizi lainnya. Dia hanya memakan mie instan dan minum kopi. Tapi hari ini, Charly sangat drop. Dia tidak sanggup lagi untuk mencari Dita. Bahkan hari ke tiga setelah Dita pergi, dia tidak ke rumah sakit untuk bekerja, karena kondisinya yang lemah.
Charly sangat hancur, apalagi Dita selalu menolak panggilan dari Charly. Semua pesan yang Charly kirim pun tidak ada yang Dita baca.
Jadi gimana ceritanya sampai Dave dan Reza juga terlibat dalam rencana Pak Edward ini? Dan apakah itu berarti kalau Dita sudah tahu kalau Wanita aneh yang datang waktu itu adalah orang suruhan Pak Edward?
Ikuti terus ceritanya ya.
__ADS_1