Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Aku Tidak Sudi


__ADS_3

Sesampainya di apartemen, Yura langsung membersihkan tubuhnya. Sebelum beristirahat, dia pun tidak lupa untuk makan malam. Tadi di perjalanan pulang, dia mampir ke rumah makan padang untuk membeli nasi rendang kesukaannya.


Selesai makan, Yura pun menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menonton siaran berita.


Yaa mata Yura memang memandang televisi namun hatinya memikirkan hal lain. Dia teringat kata-kata Jerry tadi siang yang mengatakan bahwa dia tidak akan pernah menyukai Yura.


"Akankah aku bahagia nantinya, Tuhan?" batin Yura.


Di kamar Jerry..


"Ahhh.. kamu kemana sih, Fel.. apa kurangnya aku? Kenapa kamu tega selingkuh dengan laki-laki yang tidak jelas itu" gerutu Jerry sambil melihat foto Fely di layar handphonenya.


Yaa Fely pergi meninggalkan Jerry demi pria lain yang dia kenal di tempat dia bekerja. Fely adalah seorang model. Jerry sangat mencintainya. Semenjak hubungannya dan Fely putus beberapa bulan lalu, Jerry berubah menjadi pria yang sangat dingin.


Tok..tok..tokk..


"Jerry, bisa mama ganggu sebentar?" tanya Bu Mery sambil masuk ke kamar Jerry.


"Ada apa, Ma?" jawab Jerry.

__ADS_1


"Nak, mama tahu ini tidak mudah. Tapi mama minta kamu belajar untuk menerima Yura, belajar mencintainya. Yura anak yang sangat baik, Nak. Dia sangat cocok denganmu. Percaya sama Mama ya" bujuk Bu Mery kepada Jerry.


"Entahlah, Ma.. Jerry tidak bisa janji bisa mencintainya. Tapi Papa dan mama tidak perlu khawatir karena Jerry pasti tetap menikah dengannya", jawab Jerry.


"Mama percaya sama kamu, Nak. Kamu tidak akan menyakiti Yura. Mama percaya suatu hari nanti kamu akan sangat mencintainya", kata Bu Mery sambil tersenyum kepada Jerry.


"Yasudah, kamu istirahat. Oh iya, besok siang mama minta waktu kalian berdua ya. Berhubung pernikahan kalian semakin dekat, maka besok kita akan membuat baju pengantin untuk kamu dan Yura. Baju papa dan mama juga tentunya. Kalau Om Bram dan Tante Sinta katanya mau membuat baju disana saja" serbu Bu Mery kepada Jerry.


"Hemm.. terserah mama sajalah", jawab Jerry dengan malas.


Keesokan Harinya..


"Sehabis jam makan siang, ikut denganku. Ini perintah" kata Jerry kepada Yura lagi-lagi melalui sambungan telepon dan langsung menutupnya.


"Yura sayang.. calon menantuku yang cantik, apa kabar nak?" tanya Bu Mery ketika melihat Jerry dan Yura tiba di butik langganannnya.


"Haloo tante, Yura sehat, tante juga sehat kan?" Yura kembali bertanya.


"Tentu donk sayang, apalagi mau punya menantu seperti kamu, membuat imun Tante dan Om semakin naik dan itu membuat kami selalu sehat" jawab Bu Mery sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ehhemm.. Mama, jangan lama-lama ya. Kami banyak pekerjaan di kantor" kata Jerry dengan wajah yang datar.


"Iya iya, tenang aja, Jer" jawab Bu Mery.


Tiga jam kemudian Jerry dan Yura sudah berada di kantor.


"Calon pengantin dari mana saja nih?" Goda Ryan kepada Jerry.


"Berisik banget sih" gerutu Jerry.


"Jer, kamu sepertinya tidak bahagia menyambut pernikahanmu. Karena semakin hari kamu semakin dingin bahkan dengan kehadiran Yura disini pun tidak mengubah sikap kamu" kata Ryan.


"Kamu kan tahu kalau aku hanya mencintai Fely. Aku menerima perjodohan ini demi kebahagiaan Papa dan Mama. Aku sama sekali tidak menyukai wanita itu. Dihatiku hanya ada Fely dan akan terus seperti itu" kata Jerry.


"Belajarlah menerima Yura, Jer. Dia sepertinya gadis yang sangat baik. Dia juga cantik dan cerdas", tambah Ryan.


"Sampai kapanpun aku tidak akan menerima wanita itu, Ryan. Bahkan memandangnya dan menyebut namanya pun aku tidak sudi" jawab Jerry dengan ketus.


Jleb.

__ADS_1


Tidak terasa air mata Yura menetes mendengar percakapan Jerry dan Ryan dari balik pintu. Yaa Yura berada disana dari tadi karena dia berniat ingin memberikan berkas-berkas untuk keperluan meeting besok kepada Jerry, namun karena dia melihat ada Ryan di dalam, dia mengurungkan niatnya untuk masuk. Karena Ryan tidak menutup pintu dengan rapat, Yura pun mendengar semua percakapan mereka berdua.


"Kuatkan aku, Tuhan", batin Yura.


__ADS_2