Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Pengakuan Jerry


__ADS_3

"Kenapa kamu harus menghabiskan waktumu di luar rumah dan meninggalkan aku sendirian di rumah, Mas? Apakah kamu pergi bersama kekasihmu?," tanya Yura.


"Sudah lama aku tidak bertemu dengan Fely. Hubungan kami semakin renggang semenjak dia mulai sibuk dengan kariernya lagi. Apalagi saat ini dia sedang berada di Australia. Aku merasa bosan kalau hanya menghabiskan weekend di rumah. Kamu mendiamkanku selama satu bulan ini", jawab Jerry.


"Kamu yang mendiamkanku, Mas. Aku malah tidak tahu apa kesalahanku", protes Yura.


"Aku hanya tidak tahu bagaimana cara membalas perasaanmu kepadaku, makanya aku bingung untuk bersikap kepadamu", jujur Jerry.


"Kamu belum bisa mencintaiku, Mas? Apakah aku masih belum bisa menggantikan Fely di hatimu?", tanya Yura yang saat ini berdiri di menatap Jerry.


"Mas, lihat dan tatap aku. Katakan kalau kamu tidak mencintaiku", Yura menantang Jerry.


"Yura, kamu tidak bisa memaksaku", kemudian Jerry meninggalkan Yura di dalam kamar.


"Jer, sudah lama kamu pulang, Nak?", Pak Bram menghampiri Jerry yang sedang menonton televisi.


"Papa...", Jerry mencium punggung tangan Pak Bram lalu mereka duduk bersama di depan televisi.


"Sudah sekitar tiga puluh menit yang lalu Jerry sampai, Pa. Tadi Jerry bertemu dengan teman lama", jawab Jerry sesuai dengan kesepakatannya dengan Yura tadi.

__ADS_1


"Nak, apakah selama ini Yura pernah membuat kamu repot?", tanya Pak Bram.


"Mmak-ksud Papa gi-mana, Pa? Jerry ti-dak pernah merasa di-re-potkan oleh Yu-ra", Jerry terbata-bata menjawab pertanyaan mertuanya.


"Kamu mencintai istrimu kan, Nak?, tanya Pak Bram yang membuat Jerry terdiam.


"Jer..?", Pak Bram memegang pundak Jerry.


"Kamu jangan sampai membuat Yura menangis ya, Jer. Dia anak yang sangat baik. Papa dan Mama sangat menyayanginya. Papa harap kamu bisa mencintai Yura. Meskipun pernikahan kalian terjadi karena perjodohan, Papa berharap kalian bisa bahagia", Pak Bram menasihati Jerry.


Padahal Yura tidak pernah menceritakan tentang masalah rumahtangganya kepada Pak Bram dan Bu Sinta, malahan dia selalu memuji suaminya itu di depan orangtuanya.


"Syukurlah kalau begitu", Pak Bram tersenyum lega mendengar pengakuan Jerry.


Hah?? Jerry bilang apa tadi? Dia mencintai Yura?


Keesokan harinya..


Setelah selesai ibadah Minggu, Pak Bram, Bu Sinta, Jerry, dan Yura berencana pergi jalan-jalan ke Pantai Losari. Mereka juga sudah membuat janji dengan Pak Yudo dan Bu Mery dan akan langsung ketemuan di Pantai saja. Bude Rum kemana? Bude Rum lebih memilih tinggal di rumah, katanya beliau mau beres-beres aja dan mau masak yang enak. Hahaha, dasar si Bude.

__ADS_1


"Senang sekali bisa berkumpul seperti ini apalagi melihat kedua anak kita semakin harmonis", kata Bu Mery sambil melirik Jerry dengan senyum penuh arti.


"Mama, apaan sih?", kata Jerry.


"Kebahagiaanku bertambah ketika mendengar pengakuan Jerry kemarin", kata Pak Bram sambil menikmati air dogan yang sangat segar.


"Maksud kamu pengakuan apa, Bram?", tanya Pak Yudo penasaran.


"Jerry mengakui kalau dia mencintai Yura, Yud", jawab Pak Bram antusias.


"Akhirnyaaa...", Bu Mery sangat bahagia mendengarnya.


"Hah? Bukannya Mas Jerry bilang kalau dia tidak mencintaiku?", batin Yura sambil melihat ke arah Jerry yang pura-pura sibuk dengan Handphonenya.


"Sepertinya sebentar lagi kita akan mendapat cucu nih", goda Bu Sinta.


"Mamaa..", Yura merasa malu dengan godaan Bu Sinta.


"Ya Tuhan, kalau memang benar apa yang dikatakan Mas Jerry kepada Papa, aku sangat bersyukur. Semoga Mas Jerry bisa mencintaiku dengan tulus", batin Yura.

__ADS_1


__ADS_2