Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Albert oh Albert


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Acara ibadah syukur akan dimulai tiga puluh menit lagi, namun para undangan sudah mulai berdatangan. Terlihat Bu Sinta dan Bude Rum sedang sedikit menyibukkan diri.


"Mama, ada yang bisa Yura bantu?", Yura mendekati Bu Sinta dan Bude Rum yang berdiri memperhatikan panitia yang sedang menata makanan di meja makan, eh bukan bukan, di meja prasmanan. Karena tamu yang akan hadir dalam acara ucapan syukur hari ini lumayan banyak, makanya Pak Bram memasang tenda sebanyak delapan unit di halaman rumahnya.


Author mau bayangin dulu nih, seluas apa pekarangan rumah Pak Bram ya, sampe bisa pasang tenda delapan unit?? Wehehehe.


"Sayang, kamu duduk saja, biar mama dan Bude Rum disini. Apalagi kan ada panitia yang mengatur, jadi mama hanya berdiri saja kog disini", kata Bu Sinta.


"Iya, Non. Non Yura duduk saja ya, biar dedeknya gak kecapean", kata Bude Rum sambil mengelus perut Yura.


"Yasudah kalau begitu, Yura balik ke tempat duduk ya, Ma", jawab Yura lalu kembali ke tempat duduknya.


"Jer, bagaimana pekerjaan kamu?", tanya Pak Bram kepada Jerry yang duduk di sebelahnya.


"Puji Tuhan, Pa, lancar. Bulan depan rencananya mau buka cabang baru di Palembang. Doain ya, Pa, biar semuanya dipermudah", jawab Jerry.


"Syukurlah. Yang penting kamu jangan pernah mencoba untuk serong ya, Nak. Tetap berjalan lurus. Dan jangan lupa untuk selalu bersyukur. Papa dan Mama selalu mendoakan Kamu dan Yura, apalagi Papa akan segera mendapat seorang cucu, itu membuat kami semakin dekat pada Tuhan karena kebaikanNya yang selalu baru dan tidak pernah habis", kata Pak Bram.


Wahh, ibadahnya belum dimulai, Pak Bram sudah khotbah duluan nih. Hehehe.


"Oh iya, Pa, dapat salam dari Papa dan Mama. Mereka gak bisa hadir hari ini, karena kebetulan sekarang lagi di Manado, ada meeting dengan client", Jerry merapatkan kedua telapak tangannya ke arah Pak Bram.


"Iya, Nak, tidak apa-apa, tadi juga Pak Yudo sudah menelepon Papa", balas Pak Bram.


"Oh iya, bulan depan Papa dan Mama akan ke Singapura, karena Papa mau fokus mengelola perusahaan baru disana, mungkin sekitar enam bulan disana kami baru kembali lagi ke tanah air. Kalian baik-baik ya, Nak. Jaga Yura. Papa hanya minta agar kamu jangan sampai membuat Yura menangis. Karena ketika Yura menangis, Papa lah orang yang paling terpukul. Kamu tahu kan kalau Papa sangat menyayangi Yura", Pak Bram menepuk lembut punggung menantunya.


"Iya, Pa, Jerry janji, Jerry akan selalu menjaga Yura dan anak kami", jawab Jerry dengan menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Selamat malam, Om Bram", sapa seorang lelaki mendekati Pak Bram dan Jerry yang membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Hei, Frans. Kamu makin tampan saja. Apa kabar kamu, Nak?", tanya Pak Bram sambil berjabat tangan dengan Frans.


"Halooo, Frans", Jerry pun ikut menjabat tangan Frans dengan antusias tapi matanya sesekali berkeliling seperti mencari seseorang.


"Frans hadir malam ini, apa itu artinya Albert juga ikut. Tapi mana dia?", batin Jerry.


"Kabarku baik, Om Bram. Oh iya, Om, selamat untuk perusahaan barunya ya", kata Frans.


"Terimakasih, Frans. Perusahaannya memang di Singapura, tapi Om rasa tidak masalah kalau Om adakan ucapan syukur di sini, ya kan?", Pak Bram mencari pembenaran.


"Tidak masalah, Om. Yang penting kan hati kita tetap mengingat kebaikan Tuhan", jawab Frans dengan tersenyum.


"Hai, Pak Jerry, dimana Yura? Maksud saya Bu Yura?", tanya Frans.


"Panggil Jerry saja, Frans. Ini bukan lagi urusan bisnis", jawab Jerry sambil tertawa.


"Yura tadi katanya mau bantuin Mama, eeemmm...", ketika mata Jerry melihat ke arah meja prasmanan, seketika dia terkejut melihat Yura sedang mengobrol dengan seseorang.


"Astagaa, itu Albert. Tadi katanya dia mau menyapa Tante Sinta dulu", kata Frans sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal.


Mendengar nama Albert membuat Jerry merasa jantungnya seperti berhenti beberapa saat.


"Albert oh Albert, kenapa malah nyamperin Yura, itu Tante Sinta kan lagi berdiri di dekat meja prasmanan", batin Frans.


"Uhhugg.. uhuugg", Jerry terbatuk.


"Maaf, Papa, Frans, aku kesana dulu ya, mau ambil air minum", kata Jerry yang dibalas anggukan oleh Frans.


"Iya, iya, Nak", jawab Pak Bram.


"Haloo, Cantik.. Apa kabar?", Albert sedikit mengagetkan Yura. Bagaimana tidak? Dia datang dan tiba-tiba berbisik di telinga Yura.

__ADS_1


"Astaga, Al. Aku kira siapa kog tiba-tiba bisikin aku. Kamu datang juga? Sendiri atau sama Pak Frans?", tanya Yura antusias.


"Ya iya donk aku pasti datang. Karena diundang langsung sama Om Bram. Aku kesini sama Bang Frans, Yur. Dia lagi ngobrol sama Om Bram dan suami kamu", jawab Albert.


"Lah kamu kenapa menghampiri aku?", tanya Yura.


"Eittss, jangan geer gitu donk, Cantik, aku tadi sebenarnya mau menyapa Tante Sinta, ternyata tantenya lagi agak sibuk. Pas aku mau ke tempat duduk Bang Frans, aku lihat kamu disini", jawab Albert dengan santainya.


"Kamu makin cantik, Yur. Kamu juga terlihat semakin gemuk sekarang", Albert bersikap seolah dia belum tahu kalau Yura sedang hamil.


"Aku bahagia, Al. Apalagi aku sekarang lagi hamil", jawab Yura dengan tersenyum sambil mengelus perutnya.


"Waahh, syukurlah, Yur. Aku juga bahagia kalau kamu bahagia. By the way, selamat atas kehamilannya ya. Sudah berapa usia kandunganmu, Yur?", tanya Albert sambil sesekali melihat perut Yura.


"Sudah masuk 14 Minggu, Al", jawab Yura.


Setelah Jerry mengambil air minum dan meneguknya, dia langsung mendekati Yura dan Albert yang sedang mengobrol.


"Ehhhemmm, aku rasa ngobrolnya bisa dilanjutkan nanti. Karena acara mau dimulai. Mam, yokk duduk sama Papi", ajak Jerry. Tanpa melihat Albert, Jerry memegang tangan Yura dan mengajaknya berdiri kemudian pergi ke dalam rumah. Yaa mereka meninggalkan Albert sendirian.


Aduhh, Al, kasian banget. Hahaha.


"Ternyata mereka sudah saling memanggil Papi Mami", batin Albert.


Tidak sengaja mata Albert bertemu dengan mata Frans, dan dengan sigap Frans memberi kode kepadanya dengan menggerakkan alisnya, seolah mengatakan "siniii".


Tanpa aba-aba, Albert langsung menemui Abangnya dan duduk di sebelahnya.


"Bang, Om Bram mana?", bisik Albert karena acara baru saja dimulai.


"Udah ke dalam, duduk di kursi khusus tuan rumah", jawab Frans sambil berbisik.

__ADS_1


Kira-kira setelah acara selesai, Albert masih bisa gak ya curi-curi kesempatan untuk ngobrol sama Yura? Hehehe.


__ADS_2