
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Yura hanya diam seribu bahasa. Jerry pun terpaksa harus menikmati kesunyian yang sebenarnya membuatnya sangat tidak nyaman.
"Lebih baik aku mendengar Yura terus mengomel deh, daripada harus didiamkan seperti ini. Aku akan bingung sendiri mau ngapain. Mau bicara juga takut malah semakin salah dan Yura akan semakin marah", batin Jerry sambil menyetir mobilnya dan sesekali dia melirik ke sebelah kirinya untuk melihat ekspresi Yura.
"Eehheemm", Jerry mencoba mencairkan suasana.
"Mam, mau makan apa?", tanya Jerry sangat hati-hati.
"Terserah", jawab Yura singkat.
"Waduuhh, istriku bilang terserah pula, makin bingung deh ini mau gimana", batin Jerry lagi.
"Yaudah, kita mampir ke Restoran G ya. Kita makan siang disana saja", ajak Jerry.
"Hmmm", Yura hanya berdehem.
Jerry pun memarkirkan mobilnya di Restoran G. Selama makan siang, Yura tidak mengucapkan satu kata pun. Dia hanya fokus menikmati makanannya.
"Sayang, habis ini kamu mau jalan-jalan?", tanya Jerry.
"Gak", jawab Yura singkat.
Jerry hanya menelan ludahnya melihat Yura yang sedang ngambek. Hanya ada rasa serba salah yang ada dalam hatinya saat ini.
"Kalau begitu, kita langsung pulang saja ya", ajak Jerry yang lagi-lagi hanya dibalas deheman oleh Yura.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore ketiga Jerry dan Yura sampai di rumah mereka.
"Pak, mohon maaf, bolehkah hari ini Ibu izin pulang lebih cepat? Karena Ibu merasa tidak enak badan", Bu Asih meminta izin.
"Oh iya, Bu, tidak apa-apa. Wajah Bu Asih juga terlihat pucat. Ibu mau saya hantarkan saja ke rumah? Biar motornya ditinggal disini saja dulu", tanya Jerry.
"Tidak usah, Pak. Tidak apa-apa Ibu pulang sendiri saja", jawab Bu Asih.
"Kalau begitu hati-hati di jalan ya, Bu. Kalau ada apa-apa, jangan segan-segan untuk menghubungi kami", kata Yura.
Suara Yura akhirnya keluar juga. Setelah beberapa jam dia hanya diam, kini Jerry bisa mendengar lagi suara istri yang sangat dia cintai itu.
__ADS_1
"Baik, Bu Yura. Ibu permisi ya", Bu Asih pulang mengendarai sepeda motornya.
Ketika Yura menaiki anak tangga menuju kamar mereka, Jerry mengikutinya dari belakang.
"Mami, jangan marah terus donk. Papi beneran gak ada niat macem-macem sama Fely. Dia yang peluk Papi. Papi udah berusaha untuk ngelepasin tapi gak bisa. Papi berani bersump*h, Mam", kata Jerry.
Ketika sampai di dalam kamar, Yura pun kembali mengeluarkan suaranya.
"Jangan sembarangan mengucapkan sump*h, Mas", lagi-lagi Yura memanggilnya Mas.
"Sayang, jangan panggil aku Mas, donk", Jerry menundukkan kepalanya.
"Buktinya aku bisa ngelepasin pelukannya dengan hanya sekali tarikan. Bilang aja kalau kamu menikmati pelukannya kan?", Yura memutar bola matanya malas.
"Enggak, Mam, enggak. Papi sama sekali tidak menikmatinya", Jerry duduk di pinggir ranjang.
"Aku gak percaya", jawab Yura sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
"Mam, kenapa ganti baju di kamar mandi?", tanya Jerry.
"Yahh, dia masih memanggilku, Mas", Jerry mengacak rambutnya kasar.
Malam harinya ketika tidur, Jerry mengigau menyebut-nyebut nama istrinya.
"Yura, jangan pergi, tolong jangan tinggalkan aku, Yura, aku mohon, kembalilah, Sayang, maafkan aku", Jerry menangis dalam tidurnya.
"Mas, Mas, bangun, kamu mimpi, Mas. Aku ada disini, aku ga kemana-mana", Yura mencoba membangunkan Jerry.
"Astaga, suhu tubuhmu panas sekali, Mas", Yura memegang kening Jerry.
Semalaman Yura pun terjaga. Dia mengompres suaminya dengan penuh cinta, berharap besok pagi ketika bangun, Jerry sudah sehat kembali.
Sesekali Yura membangunkan Jerry untuk memberinya minum.
Keesokan paginya, seperti biasa Yura bangun pagi untuk memasak. Namun hari ini dia tidak ditemani Jerry, dikarenakan Jerry yang sedang sakit.
Selesai masak, Yura langsung menemui Jerry di kamar mereka dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur nasi dan sop ayam.
__ADS_1
Ternyata Jerry masih tidur. Yura duduk di dekat kepala Jerry sambil mengelus dan mencium puncak kepala suaminya.
"Lebih baik aku mandi dulu", batin Yura.
Ketika Yura beranjak dari duduknya, tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang menarik bajunya.
"Mami, jangan tinggalin Papi", kata Jerry yang masih menutup matanya. Jerry seperti sedang mengigau.
Yura pun mengurungkan niatnya untuk mandi. Dan dia kembali mengelus kepala suaminya.
"Mami disini, Pa. Mami akan selalu bersama Papi", kata Yura. Seketika Jerry membuka matanya dan tersenyum melihat Yura.
"Nah gitu donk, Sayang. Panggil Papi, jangan panggil Mas", kata Jerry sambil memainkan satu matanya kepada Yura.
"Ihhh, kamu pura-pura tidur ya?", Yura mencubit tangan Jerry.
"Aku tidur beneran, Sayang. Hanya saja tadi aku terbangun ketika kamu mengelus kepalaku", jawab Jerry sambil memeluk pinggang Yura yang masih duduk di pinggir ranjang.
"Aku lapar, Sayang. Suapin aku", pinta Jerry ketika mencium aroma sop ayam yang membuatnya terasa lapar.
"Makan sendiri lah", kata Yura.
"Suapiiin, Papi kan lagi sakit, Mam", jawab Jerry manja.
"Tuh kan, Mam. Masih panas kan", Jerry mengarahkan tangan Yura ke keningnya.
"Masih panas sekali suhu tubuhnya", batin Yura.
"Yaudah, aku suapin ya. Tapi harus makan yang banyak. Minum air putih juga harus banyak. Nanti siang kita ke dokter ya, Pi. Biar kamu sembuh. Mami gak mau kamu sakit", pinta Yura dengan suara yang bergetar menahan tangis.
"Papi cukup istirahat aja, Sayang. Yang penting kamu selalu bersamaku. Aku akan makan dan minum yang banyak. Aku gak mau ke dokter, Sayang. Aku gak mau makan obat", jawab Jerry seperti anak kecil.
Ccupp.. Yura mencium bibir suaminya.
"Cepat sembuh, Suamiku. Aku gak mau kamu sakit", Yura meneteskan air matanya.
"Jangan menangis, Sayang, aku pasti sembuh", Jerry menghapus air mata Yura dan mecium bibir sang istri.
__ADS_1