
"Hari ini kita berangkat ke kantor bersama. Kemarin siang mobilku aku tinggal di kantor", Jerry menghampiri Yura yang sudah terlebih dahulu menyantap sarapan pagi di meja makan.
"Heemm.. terserah kamu saja, Mas", jawab Yura malas.
"Tumben banget kamu sarapan tidak menungguku. Makananku mana?", tanya Jerry yang tidak melihat makanannya.
"Masih bisa jalan ke dapur kan, Mas? Ada tangan kan untuk ambil makanan sendiri?" balas Yura cuek sambil terus menikmati sarapannya.
"Ada apa dengan dia?", batin Jerry.
"Eeheemm, tumben kamu memakai make up", tanya Jerry yang melihat Yura sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Yaa, Yura mengurai rambut hitam lurusnya. Biasanya dia selalu menguncir rambutnya seperti buntut kuda. Hehehehe. Yura juga memoles wajahnya dengan make up sehingga membuatnya semakin cantik.
"Biasanya juga aku begini, Mas. Kamu saja yang tidak pernah memperhatikanku. Jangankan memperhatikan, bahkan kamu tidak pernah melihatku", bohong Yura.
Padahal biasanya Yura hanya menggunakan Bedak Tipis dan Lipstik berwarna Vibe Pink.
Jerry pun terdiam mendengar jawaban Yura yang memang sangat benar bahwa selama ini dia tidak pernah memperhatikan Yura.
Sesampainya di kantor...
"Ryan, ke ruanganku sekarang", Jerry menelepon Ryan.
"Kalau tidak ada hal penting yang mau dibicarakan, aku tidak punya waktu untuk berbicara dengan lelaki yang tidak pantas disebut sebagai seorang suami sepertimu", Ryan menjawab Jerry.
"Jaga ucapanmu, Ry. Aku atasanmu. Kamu bisa aku...", belum selesai Jerry berbicara, Ryan langsung memotong, "Apa?! Kamu mau memecatku?! Aku tidak takut", tantang Ryan mengakhiri pembicaraan mereka di telepon.
__ADS_1
"Aarrgghh..." Geram Jerry sambil mengepalkan tangannya.
Kring.. Kring..
"Kenapa meneleponku pagi-pagi begini?", tanya Jerry malas saat menerima panggilan dari Fely.
"Kog kamu bicaranya jutek banget, Sayang?" tanya Fely.
"Aku lagi sibuk, cepatlah katakan, ada apa?" bohong Jerry. Padahal sedari tadi dia belum mengerjakan apapun.
"Sayang... aku butuh uang, uangku kemarin habis aku pakai untuk membeli tas dan sepatu", jawab Fely dengan gaya manjanya.
"Hah?? Baru beberapa hari yang lalu kamu minta uang, Fel. Kamu bilang untuk perawatan wajahlah, beli tas, beli sepatu, bahkan aku juga memberimu uang bulanan!", Jerry memarahi Fely.
"Kamu kog marah, Jer? Kamu kan kekasihku. Wajar donk kamu memenuhi kebutuhanku", paksa Fely.
"Fely, bahkan istriku pun tidak pernah aku berikan uang!" jujur Jerry.
"Ahh, sudahlah. Aku malas berdebat denganmu. Aku transfer uang sekarang", jawab Jerry lalu menutup teleponnya.
"Aargghh" Jerry merasa kesal kepada dirinya sendiri.
"Sudah aku transfer", Jerry mengirim pesan singkat kepada Fely.
"Terimakasih, Sayang", balas Fely.
Jerry masih merasa bingung dengan perubahan sikap Yura pagi ini.
__ADS_1
Satu hari sebelumnya...
Ketika Yura dalam perjalanan pulang, sambil menyetir mobil dia menangis sesenggukan mengingat apa yang Jerry katakan kepada Fely bahwa pernikahan Jerry dan Yura tidak akan bertahan lama karena tidak berlandaskan cinta.
"Sampai kapan aku akan terus merasakan sakit seperti ini, Tuhan?" batin Yura.
Kring.. Kring..
Yura meminggirkan mobilnya karena mendapat panggilan telepon dari Ibu mertuanya.
"Halo, Ma", kata Yura mencoba tegar agar Bu Mery tidak tahu bahwa dia sedang menangis.
"Sayang, suara kamu kenapa? kamu sakit? atau kamu habis menangis?", tanya Bu Mery.
Ternyata meskipun Yura mencoba tegar, tetap saja suaranya tidak bisa dibohongi.
Dan mendengar perkataan Bu Mery, membuat tangis Yura semakin menjadi.
"Yura, kamu dimana, Sayang? Kamu tenangkan diri kamu dulu ya. Tidak usah cerita dulu. Mama datang ke rumah kalian sekarang ya, Nak", bujuk Bu Mery.
"Iya, Ma", jawab Yura.
Setelah merasa sedikit lebih tenang, Yura melanjutkan perjalanannya menuju rumah.
"Mama mau minum teh?", tanya Yura kepada ibu mertuanya yang kini sudah bersamanya di rumah mereka.
"Boleh, Sayang. Tapi jangan terlalu manis ya", jawab Bu Mery.
__ADS_1
"Yura, sebenarnya apa yang terjadi?", tanya Bu Mery setelah Yura memberikannya segelas teh manis.
"Mama.. apakah aku berhak mendapatkan cinta dari Mas Jerry?", tanya Yura. Kini air matanya sudah berlinang bersiap akan mengalir deras.