
"Selamat pagi, Pa. Bolehkah aku masuk?", sapa Dita.
Keesokan hari setelah dia meninggalkan Charly, Dita menemui Pak Edward di ruang kerjanya. Padahal hari itu sebenarnya Dita off, tapi dia tetap ke rumah sakit untuk bertemu dengan mertuanya dan meminta maaf karena dia akan membuat keluarga suaminya kecewa karena harus memilih pergi, padahal usia pernikahan mereka bahkan belum genap dua minggu.
"Ya, Nak, silahkan masuk", jawab Pak Edward.
"Mari, silahkan duduk", Pak Edward mempersilakan Dita duduk di sofa yang berada di dalam ruangannya.
"Terimakasih, Pa", ucap Dita dan dibalas senyuman oleh mertuanya.
"Papa, sebenarnya Dita kesini mau meminta maaf", Dita memulai percakapan mereka.
"Minta maaf untuk apa, Nak?", tanya Pak Edward.
"Maaf karena Dita tidak bisa bersama Mas Charly lagi, Pa", air mata Dita tak dapat dibendung, tangisnya pecah di hadapan sang ayah mertua.
"Papa tidak mengerti. Coba kamu jelaskan pelan-pelan. Apa alasannya, Nak?", tanya Pak Edward lagi.
"Mas Charly mengkhianatiku, Pa. Dia menghamili wanita lain", jawab Dita terisak.
Terlihat Pak Edward membuang nafasnya pelan.
"Menangislah, Nak, kalau itu bisa membuatmu lega", ucap Pak Edward.
Lima menit kemudian, setelah Dita terlihat sedikit tenang, Pak Edward kembali bertanya kepada menantu cantiknya tersebut.
"Sebenarnya Papa tidak percaya kalau Charly berbuat sekurang-aj*r itu. Tapi apa kamu yakin dengan keputusanmu? Apakah sudah dapat dipastikan kalau Charly memang menghamili wanita lain?", pertanyaan Pak Edward membuat Dita bingung.
"Wanita itu semalam datang ke apartemen, Pa. Dia mengaku sedang mengandung anak Mas Charly", jawab Dita yang kembali menangis.
"Kamu percaya? Kamu tidak menanyakan kebenarannya kepada suamimu?", tanya Pak Edward bijak.
Dita menggeleng.
"Aku pergi meninggalkannya, Pa", jawab Dita.
"Maafkan Dita", tambahnya lagi.
"Dimana kamu tinggal sekarang?", tanya Pak Edward pura-pura tidak tahu.
"Di apartemen Reza, temannya Dave, Pa", jawab Dita.
Pak Edward mengangguk.
__ADS_1
"Pantesan semalam Reza menginap di rumah", ucap Pak Edward.
"Dita, Papa mengerti kalau saat ini kamu sedang terpukul. Tapi apakah rasa cintamu tidak melihat kebenarannya?", tanya Pak Edward.
"Maksud Papa?", Dita terlihat bingung dengan pertanyaan mertuanya.
"Nak, kamu mencintai Charly kan? Apakah rasa cintamu hilang saat mendengar pengakuan wanita yang belum tentu benar itu? Tidakkah kamu juga melihat ada cinta di mata Charly?", tanya Pak Edward lagi.
Dita menggeleng.
"Mas Charly kasar sama aku, Pa", ungkap Dita.
"Papa tidak akan memaksakan kehendak Papa. Semua keputusan Papa serahkan kepada kalian berdua. Saran Papa, pikirkan dulu dengan tenang, jangan jadi penyesalan suatu hari nanti. Dan kalau pun memang kalian harus berpisah, berpisahlah baik-baik. Papa mau kalian berdua datang ke rumah Papa kalau sudah ada keputusannya. Papa akan menerima apapun keputusan kalian. Jangan seperti ini, Nak", nasihat Pak Edward.
Dita hanya menunduk sambil meremas jarinya.
"Apakah Charly tahu keberadaanmu saat ini?", tanya Pak Edward.
"Tidak, Pa. Bahkan aku tidak merespon panggilan dan chat dari Mas Charly", jawab Dita.
"Papa hargai keputusanmu, Nak. Papa pun tidak akan memberitahu Charly tentang keberadaanmu. Biarkan dia mencarimu. Kalau dia memang mencintaimu, dia pasti akan bertemu denganmu. Bagaimana pun caranya", ucap Pak Edward.
"Tapi Papa minta, jangan terlalu lama menjauh dari suamimu. Bicarakan masalah kalian baik-baik. Kalian sudah dewasa, Nak", tambah Pak Edward.
"Papa tahu kalau kalian saling mencintai", kata Pak Edward yang membuat Dita tertegun.
"Saling mencintai, Pa?", tanya Dita.
"Ya. Kamu tahu, Nak, kalau subuh tadi Charly datang ke rumah Papa? Dia mengakui semua kesalahannya. Dia hancur. Dia sangat frustasi karena kamu meninggalkannya. Papa dapat melihat cinta dimatanya, Nak. Dia mencintaimu", ucap Pak Edward.
Dan Charly sendiri sudah mengakui kalau dia mencintai Dita kepada Pak Edward dan Dave.
"Dia mencarimu kemana-mana, Nak", tambah Pak Edward.
Dita hanya menunduk.
"Papa ingin bertemu dengan kalian berdua hari Minggu nanti di rumah Papa. Bisa kan, Nak? Biar papa yang menghubungi Charly", ucap Pak Edward.
"Baik, Pa", jawab Dita patuh.
Flashback off ya.
Kita balik lagi ke waktu yang berjalan.
__ADS_1
"Za, kita mampir di toko kue itu dulu ya. Habis itu tolong antar aku ke rumah Papa", ucap Dita.
"Siap, Nona Cantik", jawab Reza.
Lima menit kemudian...
"Udah beli kuenya?", tanya Reza saat Dita kembali masuk ke mobil dan duduk di sebelah Reza.
"Udah nih", jawab Dita sambil mengangkat bungkusan yang dia bawa.
"Jadi kita langsung ke rumah Om Edward ya", Reza memastikan yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Dita.
"Andai senyummu itu bisa menjadi milikku, Dit", batin Reza.
Para pembaca setia, nih Author tunjukin lagi visualnya si polisi ganteng yang bernama Reza Micola alias Reza.
Sementara itu di apartemen Charly.
"Dave, tolong berikan handphonenya kepada Charly, Papa mau bicara", titah Pak Edward melalui sambungan telepon.
"Baik, Pa", jawab Dave.
"Mas, papa mau bicara", Dave memberikan handphonenya kepada Charly dan mau tidak mau, Charly menerimanya.
"Halo, Pa", sapa Charly dengan suara yang lemah.
"Charly, kalau kamu tidak mau kehilangan Dita untuk selamanya, Papa tunggu kamu di rumah Papa, sekarang", ucap Pak Edward.
"Maksud Papa, Dita sudah ketemu, Pa?", Charly balik bertanya yang membuat Dave mengu-lum senyumnya mendengar pertanyaan Charly.
"Ya. Papa tahu Dita dimana. Cepat kamu kemari, atau kamu akan kehilangan dia", jawab Pak Edward.
"Baik, Pa. Aku dan Dave kesana sekarang", ucap Charly tanpa pikir panjang lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Dave, kita ke rumah Papa sekarang", ajak Charly.
"Mas, mandi dulu. Kamu terlalu berantakan. Aku malu mengakuimu sebagai Mamasku dengan penampilan kusutmu ini", titah Dave.
"Oke, lima menit. Ya hanya lima menit. Tunggu aku ya", ucap Charly lalu bergegas kw kamar mandi.
"Dasar, ganteng-ganteng tapi bucin akut", omel Dave.
__ADS_1
"Ahh si papa, pasti adalagi idenya yang diluar dugaan", batin Dave.