
Setengah jam kemudian, Charly dan Dita keluar dari kamar.
"Pa, udah bangun?", tanya Charly ketika melihat Pak Edward mencoba untuk duduk.
"Dita bantuin ya, Pa", Dita langsung menghampiri Pak Edward.
"Gak apa-apa, Nak, Papa bisa sendiri kog", jawab Pak Edward.
"Kalau gitu, Dita tinggal ke dapur ya", balas Dita yang direspon anggukan dan senyuman dari sang mertua.
"Pa, maafin Charly ya. Semalam Charly keterlaluan sampai mengusir Papa, Dave, Reza, dan wanita itu. Charly juga membentak Papa. Maafin Charly ya, Pa", ucap Charly sambil berlutut di hadapan Pak Edward yang sedang duduk di sofa.
"Seharusnya Charly berterimakasih sama Papa. Berkat Papa, Charly bisa sadar kalau ternyata Charly sangat mencintai Dita, wanita pilihan Mama", ucap Charly lagi.
"Bangunlah, Nak. Kamu tidak perlu minta maaf, karena kamu tidak salah", jawab Pak Edward sambil menepuk punggung sang dokter tampan.
"Jadi, wanita suruhan Papa itu pulang kemana, Pa?", tanya Charly.
"Ke kost an nya lah. Dia kerja di sekitar sini", jawab Pak Edward.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, Papa kenal dia dari mana?", selidik Charly.
"Namanya Yeti. Dia anaknya Bu Tini, Nak. Waktu Bu Tini pulang ke kampung karena ada acara, dia mengutus anak gadisnya untuk gantiin Bu Tini beres-beres di rumah untuk beberapa hari. Ya, pas banget kan, jadi Papa gak perlu cari orang lagi untuk melancarkan rencana Papa", jawab Pak Edward dengan santainya.
"Harusnya Papa jadi sutradara, bukan jadi dokter", ledek Charly.
"Sebenarnya cita-cita Papa memang jadi Sutradara, Nak. Tapi Kakek dan Nenek kamu gak setuju. Mereka memaksa Papa untuk jadi dokter. Untung Papa pinter, jadi bisa ikutin kuliah kedokteran dan bisa jadi dokter handal seperti sekarang", jawab Pak Edward sambil sesekali mengelus pinggangnya.
"Iya deh iya, dokter handal", balas Charly.
"Eh, tapi jangan cerita sama Bu Tini ya kalau Papa kerjasama dengan anak gadisnya. Bu Tini gak tahu apa-apa soal ini", ucap Pak Edward yang membuat Charly tepok jidat.
"Papa bayar anaknya Bu Tini berapa sih, Pa? Sampe dia juga bisa tutup mulut dari Ibunya", tanya Charly.
"Kebetulan supermarket kita yang di kota ini kan lagi kekurangan tenaga kasir, jadi Papa masukin Yeti kerja disitu. Basic pendidikan dia ternyata dari SMK jurusan akuntansi, jadi Papa rasa pas lah", tambah Pak Edward yang membuat Charly mengangguk-anggukkan kepala sambil mema-nyunkan bibirnya.
Ya, selain memiliki rumah sakit, Pak Edward juga memiliki supermarket yang sangat besar. Sepertinya lelaki paruh baya itu sudah menyiapkan warisan untuk kedua putranya, sesuai bidang mereka masing-masing. Rumah sakit untuk Charly, Supermarket untuk Dave. Hehehe.
Tapi, ternyata Dave tidak tahu kalau Yeti bekerja di Supermarket milik Pak Edward, karena memang Pak Edward tidak memberitahunya.
__ADS_1
Emang kalau diberitahu kenapa?
Ya gak tahu juga, mungkin Pak Edward punya pertimbangan sendiri. Hahaha.
"Kog ma-nyun gitu kamu, Nak?", tanya Pak Edward.
"Gak apa-apa. Charly cuma takjub aja sama setiap rencana Papa. Amazing", jawab dokter tampan tersebut yang membuat Pak Edward tertawa.
"Aku bangunin mereka berdua ya, Pa. Biar bantuin Dita di dapur", ucap Charly sambil beranjak.
"Jangan, Nak. Kasihan. Dave dan Reza baru tidur jam empat subuh tadi. Mereka semalam suntuk sibuk ngurusin Papa yang sakit pinggang", jawab Pak Edward.
"Dasar orangtua. Makanya ingat umur, Pa. Lagian, ngapain juga pake acara tikk-tokkan di depan? Mana gerakannya kayak gitu pula. Pasti pake musik jedak-jeduk kan?", selidik Charly.
"Kamu kog tahu kalau semalam kami tikk-tokan?", tanya Pak Edward heran.
"Papa, CCTV ada dimana-mana. Dan CCTV kamar apartemen ini, terhubung ke handphone Charly", jawab Charly yang membuat Pak Edward menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yaudah deh, Charly ke dapur dulu ya, Pa, mau bantuin Dita siapin sarapan", ucap Charly lagi.
__ADS_1
"Masak yang enak ya. Oh iya, Papa mau kopi donk, Nak, tapi kalau ada pakai gula jagung ya", balas Pak Edward.
"Oke, nanti Charly buatin kopi untuk Papa", jawab Charly lalu berjalan menuju dapur.