
"Tidak ada lagi alasan untuk bertahan, Mas. Kamu sangat kasar dan jahat. Aku membencimu", ucap Dita, sambil membuang tangan Charly yang ada di pinggangnya.
Charly pun beranjak dari ranjang dan memakai kembali pakaiannya.
"Aku akan keluar dari kamar ini, bersihkan dirimu terlebih dahulu, setelah kamu, aku juga akan mandi", ucap Charly.
Padahal Charly bisa saja mandi di kamar mandi yang berada di dekat dapurnya, tapi entah kenapa dia hanya ingin mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
"Astaga", Charly yang saat ini duduk di sofa, mengusap wajahnya kasar lalu mengacak rambutnya seperti orang yang sedang frustasi.
Kenapa jadi Charly yang frustasi?
"Ada apa denganku sebenarnya?", gumam Charly.
Dua puluh menit kemudian, Dita keluar dari kamar.
"Aku akan mandi sebentar, jangan pergi kemana-mana", titah Charly ketika Dita duduk di sofa dengan wajah yang murung.
Ketika Charly masuk kembali ke kamarnya, hatinya kembali merasa campur aduk ketika melihat noda merah tanda hilangnya keperawanan sang istri karena ulahnya beberapa saat yang lalu. Ada rasa menyesal karena sudah memperlakukan Dita dengan seenaknya, rasa marah karena Dita terus saja minta berpisah darinya, namun ada juga rasa bahagia karena sudah menyiram lahar panas ke dalam rahim sang istri.
__ADS_1
Hemm, tentu saja kali ini di luar ekspektasi dan rencana Pak Edward ya.
Charly oh Charly, akuin saja perasaanmu. Keburu Dita pergi baru tahu rasa kamu.
Ketika Charly sedang mandi, Dita kembali ke kamar untuk mengemasi pakaiannya dan perlengkapan lain miliknya. Dengan sangat buru-buru dia berkemas, berharap ketika Charly selesai mandi, dia sudah tidak berada di dalam apartemen itu lagi.
Lima belas menit sudah Charly di kamar mandi dan Dita hanya tinggal menutup koper besar yang berisi pakaian dan perlengkapan lain miliknya.
Brruk! Brukk! Praangg!!
Tiba-tiba terdengar suara benturan sebanyak dua kali dan suara pecahan kaca dari dalam kamar mandi.
Dita yang baru saja berdiri hendak mendorong kopernya keluar, langsung berjalan cepat menuju kamar mandi dan menggedor-gedor pintu, berharap tidak terjadi sesuatu dengan Charly.
"Mas Charly, Mas, Mas, Mas Charly", Dita kembali menggedor pintu kamar mandi dan memanggil-manggil nama Charly.
Karena tidak juga mendapat respon dari sang suami, Dita yang semakin khawatir pun mencoba untuk menekan handle pintu, dan ternyata pintu kamar mandi tidak dikunci oleh Charly, sehingga Dita bisa masuk untuk memastikan keadaan Dokter tampan tersebut. Ketika baru saja Dita masuk sekitar tiga langkah, tubuhnya tiba-tiba ditarik oleh seseorang yang berdiri di balik pintu.
"Tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Jangan pergi dariku, Dita. Aku mohon", ucap Charly sambil memeluk Dita dari belakang.
__ADS_1
"Tadi suara apa, Mas? Apa kamu sedang mempermainkan aku?", tanya Dita namun Charly hanya diam dan tetap memeluk sang istri.
"Kamu gak tahu betapa khawatirnya aku, Mas. Aku pikir kamu jatuh di kamar mandi dan kepalamu terbentur. Aku panggil-panggil kamu, tapi kamu diam saja. Aku kira terjadi sesuatu sama kamu. Tapi ternyata kamu hanya mempermainkan aku", Dita menangis sejadinya.
"Maafkan aku, Dita", Charly melepas pelukannya dan memutar badan sang istri. Kini dia bisa melihat wajah cantik Dita.
"Aku benci sama kamu, Mas. Aku akan pergi. Aku akan bilang sama Pak Edward, kalau aku tidak bisa menjadi menantunya lagi. Aku akan meminta maaf kepadanya karena pasti aku akan membuatnya sedih dan kecewa", ucap Dita sambil menatap wajah Charly.
"Dita, lihat aku", kata Charly dengan lembut sambil memegang pundak istrinya dengan kedua tangannya yang berdarah.
"Tadi ketika aku keluar dari kamar mandi, aku melihat kamu sedang fokus mengemasi barang-barangmu ke dalam koper. Aku benar-benar frustasi karena kamu akan meninggalkanku. Makanya aku kembali masuk ke kamar mandi dan mencari cara agar bisa menarik perhatianmu", ucap Charly.
"Apa yang kamu lakukan, Mas?", tanya Dita yang tidak mengerti kenapa Charly harus bertingkah seperti ini.
"Aku membenturkan kepalaku ke tembok sebanyak dua kali dan aku juga meninju kaca washtafel, Dit", ucap Charly sambil menunjukkan tangannya yang terluka karena pecahan kaca yang dia tinju.
"Tapi kenapa kamu berulah seperti ini, Mas? Kamu tahu kalau ini bisa membahayakan kepalamu dan tanganmu", seru Dita yang kembali meneteskan air matanya.
"Aku gak mau kamu pergi, Dita", jawab Charly dengan menatap mata sang istri.
__ADS_1
"Kenapa?", Dita berharap Charly mengatakan isi hatinya bahwa dia mencintai Dita.
"A-aku..a-a-ku..."