
Di kamar Yura...
"Lebih baik aku cek sekarang, dari pada aku terus penasaran", Yura menuju kamar mandi sambil memegang test pack.
Lima menit kemudian Yura keluar dari kamar mandi dan....
"Ya Tuhan, dua garis samar", Yura reflek menutup mulutnya dengan satu tangan.
Wahhh.. selamat Yuraaaa...
Satu jam kemudian...
"Mas, bangun, mandi dulu sana, biar kita ibadah", Yura membangunkan Jerry yang tertidur lagi di sofa depan TV.
"Hey, kamu sudah bangun, Sayang. Sudah mandi?", tanya Jerry dengan suara khas orang bangun tidur.
"Udah, aku udah mandi, ga lihat aku udah cantik?", Yura tersenyum kepada Jerry.
"Istri aku kan selalu cantik", Jerry segera duduk lalu mencubit gemas pipi Yura.
"Tangan kamu gimana, Sayang?", Jerry mengelus lengan kiri Yura yang masih diperban elastis.
"Bengkaknya sudah berkurang, Mas", jawab Yura.
"Maafin aku ya, Sayang. Semua gara-gara aku", Jerry kembali menyesal.
"Mas, sudah ahh jangan minta maaf terus. Sekarang kamu mandi, biar kita ibadah. Sekarang sudah jam setengah delapan loh", kata Yura.
__ADS_1
"Oke dehh, Istriku yang cantik. Kamu tunggu disini ya, biar aku mandi sebentar", kata Jerry sambil berlalu membawa bantal, guling, dan selimut dari sofa menuju kamarnya.
"Mas, pagi ini kita sarapan roti tawar dan susu aja ya, karena hari ini aku gak masak buat sarapan", kata Yura ketika melihat Jerry menuruni anak tangga.
Jerry sudah sangat rapi dan wangi. Ketampanannya semakin terpancar membuat Yura semakin jatuh cinta.
"Iya, Sayang. Tidak apa-apa", Jerry mencium kening Yura.
"Kita berangkat yokk. Kamu gak ganti baju, Sayang?", ajak Jerry.
"Mau kemana, Mas?", Yura malah bertanya dan membuat Jerry bingung.
"Lahh.. katanya tadi mau ibadah", jawab Jerry sambil menggulung lengan kemejanya.
"Kita ibadah nya ikut live streaming aja ya, Mas, gak apa-apa kan?", Yura menjawab Jerry.
"Tapi kamu ganteng, Mas. Aku suka", Yura menggoda Jerry.
"Jelas donk, suami siapa duluuuu", Jerry mencolek hidung mancung Yura.
Setelah selesai ibadah, Yura kembali merasakan mual dan membuatnya berlari ke kamar mandi.
"Sayang, kamu muntah-muntah lagi", Jerry mengurut tengkuk Yura dengan lembut.
"Mas", kata Yura sambil menurunkan tangan Jerry dari tengkuknya.
"Kita ke rumah sakit aja ya, Sayang", Jerry mencemaskan istrinya yang dibalas pelukan oleh Yura.
__ADS_1
"Mas, bersiaplah, karena kamu akan menjadi Papa", kata Yura yang membuat Jerry terkejut dan mematung.
"Maass. Kog diam aja?", Yura melepaskan pelukannya.
"Sayang, kamu hamil?", tanya Jerry yang dijawab anggukan kepala oleh Yura.
Air mata Jerry menetes begitu saja tanpa dia sadari.
"Selamat, Mas. Ada anak kamu disini", Yura mengarahkan tangan Jerry untuk mengelus perutnya. Kemudian dia mengeluarkan test pack dari dalam saku celananya dan memberikannya kepada Jerry.
"Dua garis. Oh Tuhan, terimakasih", Jerry memeluk dan meghujani wajah Yura dengan ciuman.
"Aku janji akan selalu menjaga kamu. Aku janji tidak akan pernah membuat kamu sedih dan menangis lagi, Sayang", Jerry kembali memeluk Yura.
Jerry menghubungi orangtua dan mertuanya. Dia memberikan kabar bahagia mengenai kehamilan Yura. Dan sudah bisa ditebak bagaimana bahagianya mereka mendapat kabar tersebut.
Sekarang mereka berdua sedang menikmati sarapan pagi.
"Berhubung sekarang hari Minggu dan semua praktik dokter pada tutup, jadi kita periksakan kandunganku besok aja ya, Mas", kata Yura.
"Iya, Sayang. Lebih cepat lebih baik. Hehehe", jawab Jerry.
"Eh, Sayang. Jangan minum susu itu. Kamu sedang hamil, jadi kamu harus minum susu khusus ibu hamil. Untuk sementara kamu minum air hangat ini dulu ya, Sayang. Habis ini kita belanja ke supermarket untuk membeli semua kebutuhan ibu hamil. Kamu jangan pakai heels dulu ya. Jangan juga menyetir mobil. Dan ingat, kamu tidak boleh kecapean", Jerry memborong kalimatnya.
"Iya, Mas. Kamu jadi protektif sekali", jawab Yura.
"Harus donk, Sayang. Semua demi kamu dan anak kita", balas Jerry sambil mengelus pipi istrinya.
__ADS_1