Kembalilah, Sayang.

Kembalilah, Sayang.
Menangis Dalam Diam


__ADS_3

Saat ini sudah jam satu dini hari. Tiga jam sudah Yura mencoba untuk tidur, namun tidak bisa. Miring ke kanan, salah. Miring ke kiri, salah. Tidur telentang, salah. Ingin rasanya dia mencoba tengkurap, tapi apa daya, perutnya yang sudah semakin besar membuatnya tidak mungkin untuk menengkurapkan tubuhnya. Yura pun akhirnya memutuskan untuk duduk dan bersandar di headboard, dia memanjangkan kakinya. Air matanya menetes karena tiba-tiba teringat bagaimana Jerry yang selalu memijat kakinya setiap kali dia akan tidur. Jerry yang selalu mengelus punggung dan pinggangnya supaya dia bisa merasa rileks dan mendapat posisi nyaman untuk tidur. Jerry yang selalu mengelus kepalanya sampai dia memejamkan matanya. Jerry yang selalu mengajaknya berdoa bersama sebelum tidur. Jerry yang selalu mengelus dan mencium perutnya dan pasti mengajak anak mereka berbicara. Jerry yang tidak akan tidur sebelum Yura tidur terlebih dahulu. Yaa, sudah dua malam ini dia tidak merasakan kehangatan suhu tubuh Jerry di sisinya. Walaupun mereka tidur di dalam kamar yang sama, namun mereka tidak tidur di ranjang yang sama. Dilihatnya Jerry yang sudah memasuki alam mimpinya di atas sofa mereka yang lumayan besar.


"Aku sangat mencintaimu, Mas Jerry", gumam Yura dari atas ranjang.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, karena aku pun tidak bisa jauh darimu. Ingin rasanya aku membangunkanmu, tapi rasa gengsiku terlalu tinggi untuk mengatakan bahwa saat ini aku membutuhkan tanganmu agar bisa membuat aku tertidur", batin Yura yang membuat air matanya semakin mengalir.


Seperti mendengar isi hati Yura, tiba-tiba saja Jerry batuk karena merasakan kering di kerongkongannya. Dan itu membuat dia terbangun. Ketika Jerry berdiri ingin mengambil air minum yang berada di atas nakas, dia terkejut melihat Yura yang saat ini sedang duduk dan bersandar di headboard ranjang sedang memandang ke arahnya.


"Uhhuug.. uhuugg", Jerry kembali batuk.


Segelas air putih langsung habis diteguk oleh Jerry untuk meredakan kerongkongannya.


Karena hanya menggunakan lampu tidur, jadi Jerry tidak menyadari kalau ternyata Yura sedang menangis.

__ADS_1


"Kamu belum tidur, Sayang?", tanya Jerry dengan suara serak. Saat ini Jerry masih berdiri di dekat nakas.


Yura hanya menggeleng, tidak menjawab pertanyaan Jerry. Dia takut, kalau suaranya keluar, maka tangisnya akan pecah. Yaa, hatinya saat ini sedang sangat galau, karena sebenarnya dia ingin sekali dipeluk oleh Jerry, namun dia gengsi untuk mengatakannya. Yura hanya bisa memendam keinginannya itu dengan menangis dalam diam.


"Kamu kenapa belum tidur?", Jerry kembali bertanya kepada Yura dan kini dia duduk di pinggir ranjang. Lagi-lagi Yura hanya menggeleng sambil menarik nafasnya dalam-dalam.


"Sayang, are you OK?", tanya Jerry lagi sambil memegang kaki Yura.


"Sayang, apa aku melakukan kesalahan lagi?", tanya Jerry yang bingung karena istrinya tiba-tiba menangis saat dia mendekat.


"Maafkan aku kalau aku membuatmu marah karena aku duduk di ranjang ini, Sayang. Aku tadi terbangun karena kerongkonganku terasa kering. Aku hanya berniat untuk minum. Tapi karena aku melihatmu duduk bersandar di headboard, makanya aku mendekatimu dan ingin memastikan keadaanmu", ucap Jerry sambil memegang tangan Yura yang masih menutupi wajahnya.


Jerry berpikir bahwa Yura menangis karena marah melihat dirinya mendekat dan duduk di pinggir ranjang. Padahal sebenarnya Yura menangis karena sangat merindukan sentuhan dari Jerry.

__ADS_1


"Sayang, maafkan aku ya", ucap Jerry lagi.


Yura pun langsung memeluk Jerry erat, dia masih menangis sesenggukan.


"Papi, Mami gak mau jauh dari Papi", ucap Yura yang membuat Jerry terkejut.


"Sayang", Jerry membalas pelukan Yura.


"Kamu memanggilku Papi?", tanya Jerry dengan lembut sambil memeluk erat sang istri.


Yura menganggukkan kepalanya dan masih menangis.


"Aku merindukanmu, Papi. Sangat merindukanmu. Dua malam ini aku tidak bisa tidur karena kamu gak ada di sisiku. Ternyata aku gak sanggup kalau harus berlama-lama diam dari dirimu, dan aku pun gak bisa jauh dari kamu, Pa", ucap Yura.

__ADS_1


__ADS_2