
Setelah selesai sarapan pagi, Yura duduk di ruang tengah, di depan TV, sambil menonton acara gosip selebritis. Sedangkan Jerry, dia benar-benar melakukan semua pekerjaan yang biasa Bu Asih lakukan.
Yaa, Jerry saat ini sedang menyetrika, sembari mesin cuci sedang berputar untuk mencuci pakaian mereka.
"Mas, aku rasa kamu tidak perlu melakukan ini. Kita bisa menggunakan jasa laundry", Yura mendekati Jerry.
Jerry hanya tersenyum melihat istrinya. Tidak ada jawaban.
Sepanjang sarapan tadi pun, Jerry dan Yura saling berdiam diri. Mereka hanya fokus menikmati makanan mereka. Seperti apa yang Yura katakan tadi, bahwa dia masih malas untuk banyak berbicara dengan Jerry, oleh sebab itu Jerry memilih untuk diam, supaya tidak menambah rasa kesal di hati sang istri.
Yura pun kembali ke ruang tengah, bukan untuk menonton, namun dia hanya duduk diam memikirkan tindakan apa yang akan dia ambil selanjutnya. Apakah dia akan tetap memilih bercerai dengan Jerry, atau mungkin dia memaafkan Jerry dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki sikapnya yang sangat emosional. Biar bagaimanapun, Yura sangat mencintai Jerry. Tapi dia hanya manusia biasa, dia pun harus memikirkan dirinya sendiri. Dia tidak mau terus menerus dicemburui oleh suaminya sendiri setiap dia bertemu dengan lelaki lain, yang notabene adalah temannya. Apalagi setiap cemburu, suaminya itu pasti akan berkata dan bersikap kasar kepadanya.
Dua setengah jam kemudian, sekitar jam dua belas siang, Jerry sedang bersantai di ruang keluarga lantai dua, sambil bermain playstation. Sementara Yura berada di kamar, melakukan hobinya, yaitu membaca novel.
Ting Tong.. Ting Tong..
Ting Tong.. Ting Tong..
"Siapa yang datang sih? Lagi asik gini, ganggu aja", gumam Jerry sambil menuruni anak tangga untuk membuka pintu depan.
"Halooo, Bapak CEO tampanku, bagaimana kabarnya?", Ryan dengan antusias menyapa Jerry ketika pintu sudah dibuka.
"Ngapain kalian berdua kesini? Emang di kantor gak ada kerjaan?", tanya Jerry yang terkejut melihat kedatangan Ryan dan Dave.
"Mau makan siang donk. Sekalian mau lihat Bos kami yang sangat tampan, mau memastikan bahwa dia sedang baik-baik saja", jawab Ryan sambil mengangkat dua paper bag berisi ayam goreng dan spaghetti.
"Yaudah, ayo masuk", ajak Jerry.
"Langsung ke meja makan aja", titah Jerry kepada Ryan dan Dave.
"Jer, lu ada nasi kan? Soalnya kami cuma bawa lauk, hehehe", ucap Ryan.
"Hhmmm, nasi ada banyak tuh di magic com", jawab Jerry sambil berjalan menuju anak tangga.
__ADS_1
"Mau kemana, Jer?", tanya Ryan.
"Gue mau manggil Yura, biar kita makan bareng. Sekalian, biar Dave kenalan sama Nyonya CEO nya", ucap Jerry sambil menaiki anak tangga.
"Oke deh kalau begitu", jawab Ryan dengan mengangkat dua jempol tangannya.
"Sayang, kita makan siang dulu yok. Di bawah ada Ryan dan Dave", ucap Jerry.
"Dave?", tanya Yura.
"Ya, Dave, sekretaris pribadiku yang baru. Seorang laki-laki. Sesuai yang kamu mau, Sayang", jawab Jerry.
"Yok kita ke bawah. Mereka bawa ayam goreng dan spaghetti juga loh", tambah Jerry.
"Yaudah, ayok", Yura meletakkan novelnya di atas sofa dan berdiri.
"Sayang, aku mohon, di depan Ryan dan Dave, jangan tunjukkan kalau kita lagi ada masalah ya. Aku gak mau ada yang tahu tentang kesalahanku terhadapmu, pliisss", Jerry memegang tangan istrinya yang dibalas anggukan oleh Yura.
"Hai, Ry, tumben datang kesini", sapa Yura.
"Halo, Nyonya CEO ku yang paling cantik, kami sengaja kesini untuk makan siang. Hehehe. Maaf kalau kami mengganggu kemesraan kalian berdua", ucap Ryan yang membuat Jerry mengul*m senyumnya.
"Gak kog, Ry. Kalian gak mengganggu sama sekali", jawab Yura.
"Oh iya, kamu?", Yura melihat ke arah Dave.
"Kenalkan, Nyonya CEO, nama saya David Brotoseno, biasa dipanggil Dave. Saya sekretaris barunya Pak Jerry", Dave mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Yura.
"Hai, Dave. Nama saya Cyntiara Jenya, biasa dipanggil Yura. Gak usah panggil Nyonya CEO segala, itu mah bisaan si Ryan aja", jawab Yura sambil menerima jabat tangan Dave yang membuat Ryan tertawa mendengarnya.
"Oh iya, Bu Yura, salam kenal, Bu", balas Dave.
"Si Dave kog mirip banget sama Dokter Charly, ganteng banget", batin Yura lalu mengelus perutnya.
__ADS_1
"Yaudah, yok kita makan siang", ajak Jerry.
Kini mereka semua duduk di kursi makan dan menikmati makan siang sambil berbincang santai.
Satu jam kemudian...
"Jerry, Yura, kami balik ke kantor lagi ya. Terimakasih untuk waktu kalian. Gue tenang kalau lihat kalian baik-baik saja", ucap Ryan.
"Oke, Ry. Gue titip segala urusan kantor ya. Sambil lu ajarin Dave, biar dia semakin paham dengan tugas kerjanya", balas Jerry.
"Dave, tolong reschedule semua jadwal saya sampai Jumat nanti ya. Kalau kamu ada bingung, kamu bisa tanya sama Ryan ya. Dia jago dalam segala hal", kata Jerry sambil menepuk pundak Dave.
"Baik, Pak Jerry", jawab Dave singkat.
"Kami permisi ya, Pak Jerry, Bu Yura", Dave setengah membungkukkan badannya di depan Jerry dan Yura.
"Hati-hati ya, Ry, Dave", balas Yura.
Setelah Ryan dan Dave pulang, Jerry kembali ke ruang makan untuk membersihkan meja makan.
"Mas, biar aku yang bersihin mejanya", tawar Yura.
"Oke, Sayang, kalau begitu aku cuci piring dulu ya", jawab Jerry kemudian dia meninggalkan Yura, berjalan ke dapur.
Malam harinya, di kamar utama, ketika mereka akan beristirahat, Jerry membaringkan tubuhnya di sofa kamar mereka.
"Astaga, badanku sakit semua. Luar biasa memang menjadi pekerja rumah tangga ini", gumam Jerry.
"Sayang, selamat tidur ya. Jangan lupa berdoa", Jerry memecah keheningan di antara mereka berdua. Namun Jerry tidak melihat ke arah Yura. Dia sibuk mengelus pinggangnya yang terasa seperti mau patah.
Yaa, sejak tadi, setelah mereka makan malam, Yura dan Jerry langsung masuk ke kamar. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing.Tidak ada tegur sapa di antara mereka. Jerry membuka laptopnya, mengecek data keuangan kantor yang dikirim oleh Manajer keuangan tadi sore. Sedangkan Yura, dia asyik melihat perlengkapan bayi di market place. Berhubung usia kandungannya sudah tujuh bulan, jadi sudah boleh untuk mulai membeli perlengkapan bayi.
"Iya, Mas. Kamu juga jangan lupa berdoa", jawab Yura sambil melihat suaminya yang sedang merasakan sakit pada pinggangnya.
__ADS_1