
"Astaga, itu kan Dita", gumam Charly lalu dia berlari mengejar Reza yang kini sudah sampai di pintu rumah sakit.
"Dokter, tolong, ada yang pingsan", terdengar suara Reza memenuhi ruang IGD.
Dengan cepat Dokter jaga dan beberapa perawat di sana menangani Dita.
"Mbak Dita..", ucap seorang perawat yang merupakan teman sekerja Dita.
"Dia sangat lemah, suhu tubuhnya juga tinggi", ucap Dokter yang sedang memeriksa Dita.
Setelah Dita diberikan obat melalui cairan infus, Reza pun merasa sedikit lebih tenang.
"Mbak, apakah Dita harus dirawat inap?", tanya Reza kepada perawat yang ada di ruang IGD tersebut.
"Kita lihat reaksi obatnya dulu ya, Pak. Oh iya, Bapak siapa ya?", perawat tersebut balik bertanya.
"Oh, saya temannya Dita. Saya yang membawa Dita kesini tadi, karena dia pingsan di dekat gerbang rumah sakit", jawab Reza yang dibalas anggukan oleh perawat tersebut.
"Mbak, saya mau kembali bertugas, saya tinggalkan Dita disini gak apa-apa ya. Nanti siang saya kembali lagi kesini", ucap Reza.
"Oh iya, Pak..", kata perawat itu menggantung kalimatnya.
"Reza. Nama saya Reza, Mbak", ucap Reza lagi.
"Oh iya, Pak Reza. Kebetulan Mbak Dita salah satu perawat di rumah sakit ini. Jadi kami akan menjaganya", jawab perawat tersebut.
"Baiklah, saya permisi ya, Mbak. Titip Dita ya", kata Reza.
"Baik, Pak", ucap perawat tersebut.
Reza pun meninggalkan rumah sakit, karena dia harus kembali bertugas pagi ini. Sementara Charly, pergi kemana dia?
"Pa, kalau boleh, Dita hari ini mulai cuti ya", Charly ternyata pergi ke parkiran untuk menelepon Pak Edward, pemilik rumah sakit tempat Dita bekerja, yang saat ini sedang berada di luar kota.
"Justru maksud Papa, Dita gak usah bekerja lagi, Nak. Dia akan menjadi Nyonya Charly Brotoseno, biar dia fokus mengurus rumah tangga kalian saja", jawab Pak Edward.
"Kalau mengenai itu, terserah Dita, Pa. Aku gak bisa memaksa", ucap Charly.
"Yah, Papa pun tidak bisa memaksa, Nak. Biar itu menjadi keputusan kalian berdua nantinya", jawab Pak Edward.
"Tapi kamu kog tumben peduli dengan kapan Dita harus mulai cuti?", selidik Pak Edward.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa, Pa. Biar Dita fokus aja untuk pernikahan kami hari Sabtu nanti", jawab Charly.
"Udah dulu ya, Pa. Aku tutup teleponnya", kata Charly mengakhiri panggilannya dengan sang Papa.
"Semoga kamu sudah mulai menerima Dita di hatimu, Nak", batin Pak Edward.
Setelah selesai menelepon sang Papa, Charly pergi mengendarai motornya entah kemana. Mau kamu sebenarnya apa sih, Dokter Charly? Author bingung sendiri.
Satu jam kemudian, tepatnya jam sembilan pagi, Charly kembali ke rumah sakit tempat Dita dirawat. Ternyata tadi Charly hanya mengganti motornya dengan mobil.
"Selamat pagi, Dokter Charly", sapa seorang dokter jaga IGD.
"Iya, pagi juga. Dita nya lagi sibuk gak ya? Hari ini jadwal dia di IGD kan?", Charly bersikap seolah dia belum tahu keadaan Dita.
"Maaf, Dok, Mbak Dita kan lagi sakit", jawab dokter jaga tersebut.
"Sakit? Maksudnya?", tanya Charly meyakinkan, seolah dia benar-benar tidak tahu keadaan Dita.
"Tadi pagi Mbak Dita pingsan, Dok. Ada polisi tadi yang gendong dia ke sini", jawab dokter itu.
"Jadi sekarang Dita dimana? Masih di IGD atau sudah masuk kamar rawat inap?", tanya Charly.
"Mbak Dita ada di sebelah sana, Dok. Dia masih belum sadar, tapi kondisinya sudah membaik" jawab dokter jaga tersebut sambil menunjuk lokasi dimana keberadaan Dita saat ini.
"Baik, Dok. Kami segera siapkan", balas Dokter jaga tersebut.
"Dan kalau ada yang mau membesuk, tolong bilang kalau saat ini Dita tidak boleh dibesuk tanpa izin dari calon suaminya", titah Charly.
"Siap, Dok. Nanti saya sampaikan kepada tim yang lain", jawab Dokter jaga tersebut.
Yaa, semua tenaga medis dan karyawan di rumah sakit ini tahu kalau Charly adalah anak dari Pak Edward Brotoseno. Hanya saja, Charly memang lebih memilih untuk mengabdi di rumah sakit lain, dibanding rumah sakit Papanya sendiri. Karena dia tidak mau terlalu bergantung kepada orangtuanya. Dan semua juga sudah tahu kalau Dita adalah calon istri Charly. Bukan Dita yang cerita, melainkan Pak Edward sendiri yang mengumumkannya.
Di rumah Pak Yudo...
"Halo, Sayang, hari ini jadi kan kesini? Mama kangen banget sama kalian", ucap Bu Mery melalui sambungan telepon kepada Yura.
"Jadi donk, Ma. Yura dan Mas Jerry juga kangen sama Papa dan Mama. Apalagi Mas Jerry, katanya udah gak sabar mau menagih oleh-oleh", jawab Yura kepada Ibu mertuanya.
"Oleh-oleh untuk kalian melimpah, Sayang. Apalagi untuk cucu Mama, sudah Mama siapkan oleh-oleh spesial", kata Bu Mery antusias.
"Terimakasih, Mama. Oh iya, Mama lagi apa?", tanya Yura.
__ADS_1
"Mama lagi santai aja, Sayang, sambil nonton acara gosip. Hehehe. Tua-tua begini, Mama tetap gak boleh ketinggalan gosip selebiriti. Harus tetap update", jawab Bu Mery yang disambut tawa oleh Yura.
"Papa ke kantor, Ma?", tanya Yura lagi.
"Iya nih, Papa kalian itu memang gila kerja. Sama aja kayak Jerry. Pas di Korea aja, Papa itu tetap kerja, Nak. Ampun dah Mama", ucap Bu Mery.
"Oh iya, Jerry mana, Nak?", tanya Bu Mery.
"Mas Jerry lagi ada meeting, Ma. Ini aku lagi di kamar yang dibuat Mas Jerry khusus untuk aku istirahat. Mas Jerry maunya aku tetap ikut ke kantor, Ma, walaupun hanya rebahan aja di kamar ini", jawab Yura.
"Jerry terlalu sayang sama kamu, Nak. Dia terlalu khawatir kalau jauh dari kamu. Mama sangat senang mendengarnya. Yasudah, sampai ketemu nanti sore ya, Sayang", ucap Bu Mery.
"Oke, Ma. Aku tutup teleponnya ya, Ma", ucap Yura lalu mengakhiri panggilan telepon dari Ibu mertuanya.
Senyum manis terus mengembang di wajah cantiknya.
"Beruntungnya aku punya mertua seperti Papa Yudo dan Mama Mery", batin Yura lalu dia kembali mengangkat novel yang tadi dia letakkan di atas kasur ketika menerima panggilan telepon dari Ibu mertuanya.
"Aku lanjut baca Novel lagi ahh", gumam Yura sambil melanjutkan hobinya membaca Novel.
Sekitar jam dua siang...
"Mam, lagi ngapain?", tanya Jerry yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang cukup banyak dan langsung menghampiri Yura yang sedang menyaksikan drama korea di kamar ruang kerja Jerry.
"Hai, Papi. Udah beres kerjaannya hari ini? Mami lagi nonton drakor, biasalah, Pa", jawab Yura.
Papi mau peluk Mami", ucap Jerry sambil memeluk sang istri yang sedang duduk dan merebahkannya di ranjang yang cukup ditiduri oleh dua orang.
"Papi capek banget, Mam", ucap Jerry lagi sambil memejamkan matanya.
"Yaudah, kamu istirahat dulu, Sayang. Sini biar Mami elus kepalanya, biar Papi tidur", ucap Yura yang masih berada dalam pelukan Jerry dan mencoba untuk membebaskan tangannya agar bisa mengelus kepala sang suami.
"Papi tidur siang sebentar ya, Mam. Nanti jam setengah empat banguni Papi ya", kata Jerry dengan suara yang lemah, khas orang yang sedang mengantuk berat.
"Iya, Sayang", jawab Yura sambil mengelus kepala sang suami hingga Jerry benar-benar tidur dengan lelap.
Enak bener jadinya pemilik perusahaan ini, mau tidur siang di kantor pun bebas. Hahaha.
"Kamu tidur begini aja ganteng banget, Pa. Gimana aku gak makin jatuh cinta sama kamu", bisik Yura yang tidak lagi didengar oleh Jerry.
"Walaupun sebenarnya Mami lebih suka kalau di rumah. Tapi demi agar kamu tidak mengkhawatirkanku, dengan senang hati aku menghabiskan waktu seharian di dalam kamar ini, dengan fasilitas yang tidak kalah dengan bioskop dan toko buku", batin Yura yang membuat dia tersenyum sendiri, lalu mencium pipi Jerry.
__ADS_1
Yaa, Jerry menyediakan sangat banyak novel di kamar yang ada di ruang kerjanya itu, dan juga Smart TV layar datar sebesar 60 inchi agar Yura bisa puas apabila menonton drakor yang sering membuatnya baper. Hehehe.