
Sebelum menjemput Raka, Riki membeli m beberapa kaleng minuman soda, dan menyembunyikan nya, Iya tak mau sampai Raka mengetahui nya, Raka memang suka dengan minuman bersoda, tapi iya tak boleh mengkomsumsi nya, iya pun turun di salah satu mini market yang ada di pinggir jalan raya.
Riki turun dari mobil nya dan menutup pintu mobil nya kembali, saat itu, iya bertabrakan dengan seorang wanita, wanita itu memakai masker dan topi untuk menutupi wajah nya, tapi dari sorot mata nya Riki merasa tak asing.
Wanita itu masih menatap Riki, dan memicingkan mata nya, kemudian berlalu begitu saja, Riki masih terpaku sambil mengingat pemilik sorotan tajam tersebut.
"Alena " batin nya tanpa sengaja menyebut nama tersebut.
"Apa benar itu Alena? tanya Riki dalam hati, bukan kah Alena harus nya masih di penjara," batin nya.
"Harus ku selidiki terlebih dahulu, tapi aku tak lagi menyimpan nomor Rangga," ucap nya pada diri sendiri.
"Bagaimana pun aku harus waspada, aku harus memperingatkan Arie."
Saat akan menjemput Raka, Raka sudah menelpon, pulang sekolah iya langsung ke rumah Arjuna, dan Riki pun memberi ijin.
"Aku harus segera menemui Arie, sebelum semua terlambat."
Iya pun menuju kantor Arie, tanpa sungkan iya langsung masuk keruangan Arie, yang dulu merupakan ruangan nya.
"Selamat siang Pak Direktur," sapa Riki ramah.
"Eh Selamat siang Pak Presdir," balas Arie yang menghampiri Riki dan lasung memeluk nya.
Arie tak begitu kaget dengan kedatangan Riki, karna Tiara sudah menceritakan tentang kedatangan nya.
Mereka pun duduk di sopa yang ada di dalam ruangan tersebut.
Riki memperhatikan keadaan sejelilinganya yang tak berubah, hanya beberapa perabotan dan funiture yang berbeda sejak di tinggal kan nya hampir lima belas tahun yang lalu.
" Apa kabar Mas? " tanya Arie memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Baik Rie, tapi aku ngak mau menanyakan kabar mu, karna aku sudah tahu, kau pasti baik- baik saja, terlihat dari wajah mu yang ceria," canda Riki.
"Bagaimana kabar istrimu Mas, apa kau punya anak lagi dari pernikahan mu?"
Riki tersenyum simpul," Kau sama saja dengan Mama ku, Aku malu mengakui kalau aku orang yang selalu gagal dalam berumah tangga, bahkan tak hanya sekali, sejak di kalimantan aku sudah tiga kali menikah dan semuanya gagal," ujarnya sambil tertawa geli.
"Kau serius Mas, tiga kali,? Arie kaget.
"Lalu apa penyebab nya? " tanya Arie.
"Entalah aku juga ngak tahu apa yang salah padaku, andai aku tahu, pasti sudah ku perbaiki," jawab nya santai.
"Kau memang brengsek Mas, kau mafia cinta, maka nya kau selalu gagal," canda Arie menepuk bahu Riki.
"Mungkin saja Rie, semua kesalahan ada padaku, nyata nya, tak ada wanita yang betah mendampingiku," tuturnya.
"Oh Ya Rie, kedatangan ku kemari, ada hal yang penting dan sangat serius, "ujarnya.
"Apa itu Mas?"
"Mas, ngak usah gegabah, kita minta perlindungan dengan Allah, karna iya lah sebaik- baiknya pelindung, kita harus tetap waspada, mungkin saja, Alena sudah berubah selama di penjara," tukas Arie.
"Rie, Alena itu sakit, iya ngak akan bisa berubah."
"Kalau gitu aku tahu obatnya Mas, kau nikahi saja dia, bukan nya dari dulu dia tergila-gila padamu," tutur Arie sambil meledek Riki.
"Pria brengsek sepertiku, menikahi wanita brengsek seperti dia? apa jadinya ?" tanya Riki bercanda.
"Ya, jadi duo brengsek," sahut Arie dan mereka pun tertawa pecah.
Meski merasa senang, namun masih ada ganjalan di hati Riki, iya masih khawatir tentang Alena.
__ADS_1
"Alena tak hanya bisa menyakiti Tiara, tapi juga anak-anak mereka. Aku harus menyuruh seseorang untuk mengawasi Alena," batin nya.
Sementara itu, Tiara sudah menjemput anak-anaknya, dan kali ini Raka juga ikut bersama mereka.
Sesampainya di rumah, mereka sudah di suguh kan makan siang, setelah mengganti baju, mereka pun menuju meja makan.
Saat itu Raka melihat kehangatan keluarga mereka, ada bunda yang selalu mendampingi dan saudara yang saling menyayangi, dan itu tak pernah ada di rumahnya, saat pulang kerumah, iya hanya makan dan bermain sendiri, hanya ada pembantu yang melayaninya, Raka sedikit iri, ingin rasa nya punya keluarga seperti mereka, ada Mama, papa dan saudara- saudaranya.
Lamunan Raka terhenti ketika Tiara menegur nya.
"Raka ayo makan," tutur Tiara dengan lembut, mendengar tutur kata Tiara yang lembut, iya pun rindu pada Mama nya, Raka tak pernah bertemu dengan Mama nya selama lima tahun terakhir, karna Mama kini tinggal jauh, mengikuti ayah tirinya.
"Iya Bunda, jawab Raka," iya pun makan dengan lahap nya.
Setelah makan mereka ngobrol di meja makan.
"Raka bagaimana keadaan Mama kamu?" tanya Tiara.
"Bunda kenal dengan Mama Raka?" tanya nya balik.
"Iya sayang, mama kamu kan sahabat bunda dan ayah Sakina," paparnya.
"Mama baik-baik saja bunda, tapi sudah lima tahun Raka ngak pernah bertemu dengan Mama," ucap nya lirih meneteskan air mata.
Tiara pun menghampiri dan memeluknya.
"Raka ingin seperti teman- teman Raka, punya orang tua yang lengkap, dan punya saudara yang selalu ada menemani Raka, Rasanya hidup Raka tak lengkap, Raka selalu sendiri, jika ada Papa, pasti ngak ada mama, dan jika bersama mama, pasti ngak akan ada papa, kenapa mereka harus berpisah bunda? di saat Raka sakit, Raka ingin sekali di peluk oleh keduanya, tapi itu tak pernah terwujud, sejak Raka masih kecil, saat mereka bertemu, mereka selalu ribut dan saling menyalah kan, tanpa pernah peduli perasaan Raka yang sesungguh nya," tutur nya menangis di pelukan Tiara, tak hanya Tiara Sakina dan Arjuna yang terharu pun ikut memeluk Raka.
"Kami di sini adalah keluarga kamu Raka, Sakina, Arjuna dan Mas Aziz adalah saudara-saudara kamu Raka, bahkan jangan sungkan mengganggap bunda dan Ayah sebagai orang tua kamu," tutur Tiara.
"Iya Raka, Kak Juna, Sakina, dan Mas Aziz adalah saudara kamu, dan selamanya kita akan bersaudara, selamanya kita akan bersama dan saling menjaga," ucap Arjuna yang semakin memeluk erat Raka.
__ADS_1
"Iya kak Raka, Sakina juga senang punya saudara lagi, Sakina juga sayang sama kak Raka, jangan nangis lagi ya, Sakina juga ikut sedih," kali ini giliran Sakina memeluk Raka erat.
"Terima kasih Bunda, kak Juna dan Sakina, Raka bahagia bisa berada di antara kalian.Raka jadi bersemangat untuk melakukan pengobatan pada penyakit Raka, Selama ini, Raka selalu putus asa, karna selalu merasa sendiri dan tak ada yang peduli pada Raka, tapi kini Raka menemukan arti keluarga yang sesungguh nya," tutur Raka haru.