Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Season 2 episode 4


__ADS_3

Raka masuk ke ruangan nya, dan di sana sudah ada Arjuna yang duduk di kursi kebesarannya.


Melihat Raka yang tersenyum, ada parasaan ingin tahu oleh Arjuna.


"Dari mana kamu Raka?" tanya Raka.


"Dari menemani Evelyn makan siang Kak," jawab Raka sambil tersenyum.


"Kayak nya seneng banget kamu?"


"Gimana ngak seneng, hari ini aku bisa ngerjain gadis bule itu, Kakak tau ngak tadi, Evelyn datang kesini sebenarnya mencari kamu kak, tapi karna kamu lagi meeting, terpaksa aku meladeni nya, aku coba menghindarinya, dan berlaga akan pergi makan siang, tapi dia malah mau ikut aku, ku pikir jika aku pakai motor, dia ngak mau ikut, eh ternyata dugaan ku salah, dia malah senang, aduh nekat juga ni bule, pikir ku, eh sekalian aja ku kerjain dia, aku bawa dia makan sate sama ketoprak, awalnya dia ngajak aku makan direstoran westren, tapi ku bilang padanya lidah ku ngak biasa makanan westrn, akhirnya, iya mau juga ku ajak makan ketoprak, dan kakak tahu ngak? setelah makan ketoprak, Evelyn beberapa kali ke toilet, aku jadi ngerasa bersalah kak, jangan-jangan Evelyn sakit perut karna makan ketoprak lagi," tutur nya sambil tertawa.


Arjuna pun ikut tertawa," Kamu jahat baget Raka, gimana kalau terjadi sesuatu sama dia? nanti aku juga yang kena imbasnya," Arjuna sambil menggelengkan kepalanya.


"Kak, Evelyn sebenarnya gadis baik Kak, cuma kamu nya aja yang ngak respeck sama dia," ujar Raka.


"Dan malam minggu nanti iya mau ngajak kamu nge-date, kalian juga butuh waktu untuk saling mengenal," tambah Raka lagi.


Malam minggu pun tiba,


Arjuna sudah siap untuk ngedate bersama Evelyn, Arjuna merasa gugup, karna ini pertama kalinya, iya makan malam berdua bersama Evelyn.


Mereka pun sampai di sebuah restouran Perancis, kedua nya duduk, dan Evelyn langsung memesan makanan khas Negri menara eifel tersebut, salah satu nya, Rotatuille dan beef burguignon dan tak lupa sepiring nasi untuk Arjuna.


Menunggu hidangan di sajikan Evelyn mencoba untuk menggali lebih dalam hal yang pribadi dari calon suami nya tersebut.


"Arjuna hobi kamu apa?" tanya Evelyn, sebuah pertanyaan bodoh, karna iya juga tak tahu dari mana harus memulai pembicaraan nya, sementara Arjuna sendiri ngak akan bicara, jika tak di ajak bicara.


"Hobi? aku ngak punya hobi," jawab Arjuna santai.


"Haduh kacau nih orang," batin Evelyn.


"Kalau makanan kesukaan kamu apa? jangan bilang ketoprak ya, aku sampai sakit perut memakan nya, " ujar Evelyn sambil mencoba bercanda.


"Apa ya? aku suka semua makanan nusantara, kamu sendiri?" tanya Arjuna balik.


Dan Evelyn pun menyebut kan nama-nama makanan yang Arjuna sendiri merasa asing.


Makanan pun tersaji, tanpa banyak bicara mereka pun makan, namun ada yang aneh dengan Evelyn, iya terlihat lahap sekali memakan makanan nya, hingga membuat Arjuna heran.


"Kamu lapar sekali ya?" tanya Arjuna.


Evelyn hanya tersenyum, sebenarnya iya kesal sama Arjuna hingga iya melampiaskan nya dengan melahap makanan tersebut.

__ADS_1


"Dasar pria membosankan, tempat seromantis ini, tapi dia sendiri ngak ada romantis-romantis nya, ngak di ajak ngomong, ngak juga ngomong, terbayang jika harus menghabis kan seumur hidup ku bersamanya," gerutu Evelyn dalam hati ya.


Setelah makan malam, Arjuna langsung mengantar Evelyn pulang, dan lagi-lagi Arjuna hanya diam.


"Sebel nya lihat si Arjuna, sok kecakepan, sok cool, ngak ngambung banget sama aku, OMG, kenapa aku harus di jodoh kan dengan orang seperti dia."batin Evelyn masih menggerutu.


Sudah jam istirahat makan siang, Rangga pun keluar dari ruangan nya, dan bertemu dengan Arjuna.


Rangga sedikit kaget dengan kedatangan Arjuna,


" Selamat siang Pak," sapa Rangga.


"Tidak usah terlalu formal Rangga, kita hanya berdua di sini, kedatangan ku cuma mau mengantar undangan ini, karna kamu salah satu tamu spesial ku," ujar Arjuna


"Undangan apa? "Rangga belaga tidak tahu.


"Pertunangan ku, dua minggu lagi, dan jangan lupa, kau harus bawa pasangan, karna ada pesta dansa di sana," tutur Arjuna, suaranya semakin lirih saat menyebut pesta dansa.


"Sepertinya kau tak senang dengan pesta tersebut? " tanya Rangga.


"Aku bahkan sangat tidak setuju, tapi apa boleh buat, ini semua sudah di rencana kan sama calon mertuaku," jawab Arjuna datar.


"Jangan lupa Rangga, kau salah satu teman terbaiku," ujar Arjuna, iya pun berlalu.


Rangga pulang kerumah nya, dan langsung mencari Sakina,


"Sakina " panggilnya, saat iya melihat Sakina melintas di di depan kamar nya.


"Ada apa Pak?" tanya Sakina.


"Sakina kau bisa berdansa?" tanya Rangga, hati-hati.


"Ngak bisa, " jawab Sakina.


"Kalau begitu, nanti malam saat kau mengantar Aira ke kamar ku, akan ku jelas kan pada mu." Rangga.


Sakina membawa Aira ke kamar Rangga.;Rangga pun sudah menunggu kedatangan Sakina.


Sakina masuk dan meletakan Aira yang sudah tertidur di atas tempat tidur, tapi Rangga menutup dan mengunci pintu kamar nya.


Sakina sedikit heran, tapi Rangga mendekatinya dan berbicara pelan pada nya.


"Sakina kau mau kan menemaniku ke pesta tunangan Bos ku?" tanya Rangga sedikit gugup.

__ADS_1


"Pesta?" tanya Sakina ragu.


"Iya, dan di sana akan ada pesta dansa, sebenarnya sangat menggelikan sekali mendengar pesta dansa, tapi apa boleh buat, aku tak punya pilihan selain membawa mu," ujar Rangga.


"Tapi kenapa saya Pak, saya ngak pernah ke pesta, apalagi berdansa, nanti saya hanya bikin malu Bapak saja," tutur nya polos.


"Kali ini saja, kamu tolong saya, ya, masalah dansa nanti kita sama-sama belajar, karna aku sendiri ngak tahu berdansa," tutur nya.


"Tapi...," Sakina ragu.


"Sudalah Sakina, kali ini kamu harus mau, jika tidak saya akan laporkan kan kamu, ke agency," ancam Rangga.


Sakina hanya diam, "Tapi Pak saya ngak punya baju pesta, sepatu dan lain-lainnya, jadi..., "kata-katanya terhenti, seketika di sambar Rangga.


"Jangan banyak alasan kamu, semua biar aku yang urus," tegas Rangga, dengan sedikit memaksa.


"Sekarang kamu berdiri tegak," ucap Rangga, Sakina pun mengikuti.


Rangga meraih kedua tangan Sakina, kemudian di letakan di dadanya, iya menarik Sakina agar lebih dekat dan berhadapan langsung dengan nya.


Sakina kaget dan mencoba melepas kan tanggan Rangga.


Tapi Rangga kembali menarik nya, ternyata Rangga mengukur tinggi badan Sakina dengan tinggi badan nya.


"Ternyata kamu kurang tinggi, berapa tinggi badan kamu," tanya Rangga.


"158 Pak," jawab Sakina.


"Pantesan", iya pun mengambil sepatu heel di dalam lemari nya, dam menyuruh Sakina nenggunakan nya, tinggi heel nya sekitar 10 cm.


Sakina mengenakan nya, baru saja melangkah, iya sudah hampir jatuh, untung saja Rangga langsung menangkap tubuh nya, dan secara tak sengaja Rangga kini memeluk Sakina.


"Hati-hati Sakina, sepatu itu harganya lima juta," ujar Rangga, dan Sakina pun terkejut.


"Pantesan saya ngak bisa memakainya Pak, biasanya saya hanya memakai sepatu seharga 50.000," ujar sakina jujur.


"Sekarang kamu belajar jalan menggunakan sepatu itu dulu," perintah Rangga.


Meski merasa keberatan, Sakina tetap melakukan perintah Rangga.


Tapi baru satu langkah, iya kembali jatuh karna tak bisa menyeimbangkan tubuhnya, Sakina memang tak pernah memakai heel, baik sepatu atau pun sendalnya.


Tapi Rangga tak menyerah, iya pun menggandeng tangan Sakina agar bisa berjalan dengan sepatu itu, Sakina seperti bayi yang baru belajar berjalan, sesekali terdengar tawa keduanya di kamar, dan sepasang telinga telah menguping dari luar kamar Rangga.

__ADS_1


__ADS_2