
Pembicaraan Leo dengan Arjuna melalui handphone di dengar oleh Evelyn, Evelyn pun mengikuti kemana arah Leo.
Evelyn hanya ingin membuktikan, bahwa ia bukan lah pengkhianat bagi keluarga nya.
Semua sudah di atur sedemikian rupa, restauran tempat mereka pun, sudah di set dengan rapi dan khusus satu hari itu, mereka menyewa tempat itu, segala kerusakan yang akan timbul nantinya, akan di ganti rugi oleh pihak Arjuna. Semua petugas restauran tersebut di liburkan, kini tim Haris dan beberapa angota dari kepolisian yang menyamar menjadi pelayan restsuran, mereka di lengkapi dengan rompi anti peluru.
Hiden camera di tempat kan beberapa titik, termasuk pada bagian kerah jas yang akan Arjuna pakaikan, Arjuna juga menggunakan rompi anti peluru, sebagai pengaman.
Arjuna sengaja tak memberi tahu Raka dan Sakina, Arjuna juga sudah siap, jika kali ini ia yang akan menjadi korban.
Yang terpenting baginya, keselamatan kedua adiknya, dan anggota keluarga lainya.
Polisi juga sudah siap dengan tim busernya.
Pukul delapan pagi, Arjuna sampai kekantor, tak ada yang salah dari nya, ia tetap melakukan rutinitas seperti biasanya, tentu dengan pengawasan dari hidden camera.
Seperti biasanya juga, Monika mengantarkan berkas yang akan di serah kan pada Arjuna, untuk di tanda tangani.
Tak seperti biasanya, tatapan Monika hari ini berbeda terhadapnya, namun Arjuna mencoba bersikaf biasa.
"Pak ini ada berkas yang harus di tanda tangani," Monika memberi berkas yang ada di tangganya.
"Jangan panggil Pak dong sayang, saat kita berdua," tutur Arjuna, coba berakting merayu Monika.
Monika hanya tersenyum, ia pun menghampiri Arjuna dan duduk di pangkuan Arjuna, kali ini Arjuna yang gugup, ia tak pernah sedekat itu terhadap wanita.
Arjuna enggan menatap mata Monika, sedangkan Monika mengangkat dagunya agar Arjuna terngadah.
Sayang sekali, wajah tampan ini, harus ku habisi, lihat lah Tiara, kau pasti menjerit di neraka, satu- satunya keturunan mu, akan mati di tangan ku, sebenarnya aku menyayangi mu, tapi apalah arti cinta jika aku tak bisa memiliki mu, maka tak ada yang bisa memiliki mu, batin Alena.
Arjuna hanya tersenyum kearah Monika, "Sayang aku punya tempat spesial untuk kita makan siang berdua."
"Tempat yang sudah ku siapkan hanya untuk kita berdua, aku sengaja menyewanya hanya untuk kau dan aku," tutur nya.
"Wah so sweet, Kalau begitu tunggu apalagi, aku sudah tak sabar," tutur Monika dengan senyum liciknya.
Arjuna pun bangkit, ia dan Monika keluar dari ruanganya.
__ADS_1
Monika menggandeng erat tangan Arjuna, mereka berjalan beriringan dengan mesra.
Semua mata tertuju pada Arjuna dan Monika, mereka menduga bahwa Arjuna dan Monika ada hubungan khusus, bahkan ada yang menyayangkan jika lelaki sesempurna Arjuna, bisa terpikat dengan gadis bernama Monika, desas desus pun mulai bermunculan, berbagai spekulasi dan pandangan mengiri langkah mereka.
Semua tim sudah siap, Rangga di tugas kan untuk menjaga Raka, agar tak terlibat, Leo ikut membantu Haris untuk melindungi Arjuna.
Leo tak sadar ,ternyata Evelyn mengikutinya, mulai dari kantor dan hingga ke restauran, ia ingin melihat Alena dengan mata kepalanya sendiri, sang ibu kandung yang membuangnya.
Arjuna memasuki tempat parkir, ia pun menunggu aba-aba untuk turun.
Polisi dengan pakaian preman pun sudah siap, menunggu pergerakan, tak hanya itu, para angota kepolisian, sudah menyiapkan ambulan, lengkap dengan dokter jaga dan pertolongan pertama, karna mereka menghadapi penjahat internasional.
Akan menjadi kebanggaan tersendiri, jika bisa melumpuh kan bandar Narkoba internasional sekelas Martin.
Martin juga sudah siap, pada awalnya, mereka tak menyadari adanya polisi, setelah Arjuna turun dari restoran, mereka bermaksud menembakinya.
Rencana kedua kubu sudah matang, tapi sepandai pandainya tupai melompat, akhirnya akan jatuh ke bawah juga.
Keberadaan Martin sudah ketahui polisi, ia pun sudah siap menembakan senjatanya kearah Arjuna.
Eksekusi di mulai, Martin dengan cepat membidik sasaranya, ia pun segera melaksanakan eksekusinya, peluru sudah meluncur dengan cepat, secepat kilatan cahaya, tapi ternyata bukan Arjuna yang terkena peluru tetapi Evelyn.
Evelyn yang melihat seseorang akan menembaki Arjuna dari belakang, langsung berlari menghampiri Arjuna dan memeluknya, peluru bersarang tanpa ampun pada bagian pundak Evelyn, seketika ia jatuh.
Arjuna langsung menoleh kebelakang saat terdengar bunyi tembakan, ia pun langsung menyambar tubuh Evelyn, yang tumbang.
Melihat Evelyn yang tertembak, Alena pun berteriak, ia mencoba berbalik dan mendekati Evelyn namun sayang, anak buah Martin menembakan senjatanya kearah Alena, kemudian mereka berusaha untuk lari dengan mobil yang sudah di siapkan, tapi ternyata mobil itu sudah di kuasai oleh pihak kepolisian, mereka pun berlari berkejar-kejaran dengan pihak kepolisian, setelah beberapa kali tembakan peringatan di lepaskan, mereka masih tak mau berhenti, suasana sepanjang jalan tersebut memang lenggang, karna memang sudah di rencanakan.
Dengan satu tembakan di kaki, mereka berhasil melumpuhkan beberapa orang anak buah martin, sementara Martin meski kakinya terkena peluru, ia masih bisa berlari, akhirnya polisi kembali menembaki sebelah kakinya, Martin pun terkapar, ia berhasil di ringkus dengan mudah dan tanpa perlawanan.
Sementara Alena yang terkena peluru, ia berusaha mendekati Evelyn.
Arjuna memeluk Evelyn," Kenapa kau lakukan ini Evelyn?"tanya Arjuna menangis.
"Kita satu keluarga Arjuna, kita harus saling melindungi, ingat lah aku pernah berhutang nyawa padamu, saat kau mendonorkan ginjal untuk Raka, hari ini aku bahagia, karna aku bisa membayarnya," tutur Evelyn dengan lirih.
"Tapi bukan seperti ini Evelyn, apa yang akan ku katakan pada Raka, jika terjadi sesuatu pada mu?" tanya Arjuna panik ia pun menangis.
__ADS_1
"Katakan saja aku mencintainya, dan jika aku tak selamat, aku ingin Raka tetap bahagia, Arjuna ada satu hal yang belum Raka ketahui, aku tengah mengandung anaknya," ucap Evelyn, ia pun menutup matanya.
"Evelyn!" seru Arjuna , ia pun menangis memeluk Evelyn yang sudah tak sadar.
Arjuna langsung memeluk Evelyn, ia membawanya kedalam ambulan yang sudah di persiapkan, sementara Alena, karna kehilangan banyak darah ia pun tewas di tempat.
Polisi sudah menyisir di TKP, tak ada korban lain terkecuali Alena, dan anak buah Martin, kini mereka semua di larikan di rumah sakit untuk menjalani operasi pengangkatan peluru yang bersarang di kaki mereka. terkecuali Martin, saat akan di bekuk Martin coba merampas pistol milik salah seorang anggota kepolisian, karna ketahuan, ia pun di tembak mati.
Semua sudah diringkus, Martin dan Alena harus tewas secara mengenaskan, kini hanya tinggal nasib Evelyn, Evelyn kehilangan banyak darah, dan menjalani operasi untuk mengangkat peluru yang bersarang di tubuhnya.
Raka, Sakina, Rangga berjalan menuju ruang operasi, Sakina dan Raka terlihat begitu sedih mendengar berita Evelyn, apalagi Raka ia begitu menyesal.
Sakina langsung memeluk Arjuna, "Kak juna tak apa-apa kan?" tanya Sakina sambil memeriksa tubuh Arjuna, ia pun menangis dan memeluknya kembali.
"Bagaimana keadaan Evelyn kak?" tanya Raka dengan tangisnya.
Arjuna pun menuntun kedua saudarnya untuk duduk di kursi tunggu, ia memeluk kedua saudaranya.
"Kita berdoa saja untuk Evelyn, Evelyn telah mengorbankan dirinya untuk melindungi Kak juna," tuturnya haru.
Raka dan Sakina pun menangis.
"Satu lagi Raka, pesan Evelyn untuk mu, jika ia tak selamat ia menyuruh Kak Juna untuk menyampaikan, bahwa ia sangat mencintaimu, dan kini dia tengah mengandung anak mu, Raka," tutur Arjuna .
Seketika Raka menangis menyesali sikaf nya terhadap Evelyn, apalagi ia sudah menuduh Evelyn yang bukan-bukan.
Terima kasih sudah membaca karya author, mohon tinggalkan:
🍅like
🍎komentar dan
🍎vote.
Mampir juga di novel author yang lain dengan judul:Mencintai mu dalam gelap.
.
__ADS_1