
Tiara pulang kerumah nya dan berharap ada Riki di sana, ternyata rumah nya masih saja kosong, sama seperti saat iya tinggal kan.
Tiara merapikan kasur nya, dan berharap Riki akan datang pada nya malam ini, Tiara meniti kan air mata nya ketika iya melihat kemeja kerja Riki yang di kenakan nya kemarin.
Iya mengambil kemeja itu, dan mencium nya, Masih terasa harum, sama seperti harum nya tubuh Riki ketika iya memeluk Tiara, Tiara tak kuasa menahan kesedihan dan kerinduan nya pada sang suami.
Iya membaringkan tubuh nya di atas kasur sambil memeluk kemeja itu, sesekali iya kembali mencium nya.
Tiara mengingat saat-saat romantis yang di lakukan nya saat bulan madunya, bagaimana Riki mencium nya saat senja, hingga waktu berganti malam. "Mengapa semua yang indah harus berlalu dengan sekejap saja," pikir nya dalam hati.
**
Arie meminta seorang suster untuk membuka infus nya, iya ingin cepat pulang dan menemui Tiara, Arie menjadi khawatir karna sudah beberapa kali iya menelpon Syntia, namun tak di angkat oleh nya.
"Mau kemana Rie," tanya ibunya.
"Bu, Arie mengkhawtir kan Tiara Bu, iya sendirian, dengan kondisi nya yang seperti itu, Arie takut Tiara dalam keadaan bahaya." tutur Ariei
"Rie, tapi baru saja kamu siuman, dan pasti kamu belum pulih benar, bagaimana jika sesuatu pada mu, Nak?" tanya ibu nya.
"Bu, Arie tidak apa-apa, Arie semakin tidak tenang, Arie mengkhawatir kan Tiara, Bu."
"Ibu pulang saja, Arie minta tolong sama ibu untuk menjaga Aziz," pinta Arie pada ibunya.
"Baik lah Nak, tapi kamu harus hati-hati, dan ingat kamu disana untuk menjaga Tiara, bukan untuk merusak nya," tegas ibunya.
"Bu, apa ibu meragukan karakter Arie, Arie memang mencintai Tiara, tapi Arie tak pernah mencari kesempatan dan memafaat kan keadaan nya, Arie hanya kasihan pada Tiara." ucap Arie tegas.
Arie berlalu dari ibu nya, setelah meminta restu dan mencium tangan ibu nya.
Kepala Arie terasa berat, tapi iya menguatkan langkah nya untuk menemui Tiara.
Arie sampai di rumah Tiara iya pun menggedor pintu rumah Tiara.
**
__ADS_1
Riki terbangun pada sore hari, kepala nya terasa berat, iya pun menuju kamar mandi.
Riki tak ingin lagi mengingat semua kenangan tentang Tiara, iya tak ingin mendengar nama nya lagi.
"Iya harus bangkit, rasa nya pria seperti nya akan sangat mudah mencari pengganti istri nya," batinya,
Meski terasa sakit, namun Riki mencoba, membakar rasa cinta itu dengan api kebencian.
Iya harus belajar membenci Tiara, Agar iya tak pernsh berharap lagi pada nya. Riki mencoba keluar iya pun membuka pintu rumah nya.
"Syntia," sebut Riki dengan nada tak senang. Syntia datang menemui Riki.
"Apa kedatangan mu kemari, atas permintaan wanita itu," Riki enggan menyebut nama Tiara.
Syntia seperti nya senang, karna Riki kini terlihat membenci Tiara, iya bahkan tak mau menyebut nama nya.
"Ini kesempatan ku," batin Syntia.
"Ngak Mas, kedatangan ku kesini untuk meminta maaf," ujar Syntia lirih.
"Mas, sebenar nya aku sudah tahu hubungan Arie dan Tiara, mereka telah lama menjalin kasih di belakang mu, tapi aku tak mampu untuk bersuara, karna mereka berdua mengancam ku," ucap nya berdusta.
Riki hanya terperangah menatap Syntia, iya seolah tak percaya, tapi apa yang di lihat nya kemarin cukup membenar kan kata-kata Syntia.
Syntia senang karna Riki mulai memakan umpan dari nya.
Riki semakin geram, namun iya coba menutupi rasa cemburu nya, karna Riki sebenarnya masih mengharapkan Tiara kembali pada nya, Iya sangat mencintai Tiara.
Syntia pun langsung memeluk Riki," Mas aku sudah pernah bilang pada mereka, untuk menghentikan semua ini, tapi mereka tak mendengarkan ku, malah kini mereka semakin berani, aku hanya kasihan pada mu, Mas. Kau hanya di manfaat Tiara untuk mendapatkan cinta Arie," tutur Syntia semakin menjadi.
Riki tak kuasa lagi menahan derita nya, iya pun tersimpuh di lantai, air mata nya menetes, tak mengira mereka akan sekejam itu.
Padahal Riki sudah mencintai nya dengan tulus, dan mereka pun berjanji untuk sehidup semati, tapi kenyataan nya tak seperti itu.
Riki semakin jatuh dalam luka terdalam nya, iya pun menangis, karna mengingat kenangan indah bersama Tiara.
__ADS_1
Iya menangis dalam diam nya, iya tak kuasa untuk menerima kenyataan yang sebenar nya.
Syntia memulai aksi nya, iya pun mendekati Riki dan mencoba untuk menggoda nya.
"Mas, Aku buatin minum ya biar kamu sedikit tenang," ujar Syntia.
Riki hanya diam tatapan mata nya pun kosong. Iya kembali menghapus air mata nya, baru kali ini Riki menangis, hati nya begitu terluka karna di khianati orang yang paling di cintai nya.
"Mengapa kau kakukan ini Tiara, baru saja aku ingin membawa mu ke rumah ini, rumah yang besar untuk anak cucu kita tinggal di sini, tapi seperti nya itu tak mungkin lagi," ucap Riki pada diri nya sendiri. Dan iya pun kembali menangis.
Syntia keluar membawa dua gelas es jeruk segar, iya memberi Riki satu gelas dan yang lainya di minum sendiri.
"Minum Mas, " Syntia memberi langsung pada Riki, dan tanpa curiga sedikit pyn iya menghabis kan nya.
"Dan Syntia juga meminumnya habis.
Syntia senang karna iya tlah berhasil menjebak Riki. "Sebentar lagi, kamu akan jatuh dalam pelukan ku Mas," batin nya.
Riki sedikit pusing, dan iya tahu obat nya sudah bekerja, Syntia mendekati Riki, iya pun mulai meraba wajah dan mencium bibir Riki, dan ternyata Riki pun membalas nya.
Syntia telah memberi obat penambah gairah pada minuman nya, tak hanya untuk Riki, tapi iya juga meminum nya, iya berharap iya bisa meladeni asmara Riki.
Mereka sudah terpengaruh oleh obat tersebut, Keduanya sudah lepas kendali, bahkan Syntia rela melepas kegadisan nya untuk Riki.
Iya sengaja melalukan ini, iya ingin agar Riki tak lari dari nya, dan dengan begitu, iya bisa memiliki nya.
Syntia sudah berubah, Arie bahkan sudah pernah mengingat kan nya, iya rela mengkhianati kedua sahabat nya, demi merebut Riki.
Syntia memang bukan pelaku dari fitnah tentang Arie dan Tiara.
Tapi iya mencoba mencari kesempatan dalam peristiwa tersebut, iya hanya sedikit memercikan api pada Riki, agar Riki hangus terbakar api cemburu dan membenci Tiara.
Hati Riki yang kini rapuh akan sangat mudah di kendalikan oleh nya.
Entah Berapa lama permainan itu berlangsung, kini mereka berdua sudah terkapar lemas tak berdaya.
__ADS_1