Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Depresi


__ADS_3

Riki menghampiri mereka, iya coba menarik tangan Tiara dan mencium nya.


"Aku menyesal Tiara," ucap Riki sungguh-sungguh.


Tapi Tiara tak bergeming, iya tetap berada dalam rangkulan Arie.


Riki pun berlutut, "Tiara maaf kan aku," hanya itu kata-kata yang terfikir di benak nya.


"Tiara, aku tinggal kan kalian berdua," bisik Arie di telinga Tiara.


"Jangan Rie, aku masih butuh tempat bersandar," ucap Tiara sangat lirih.


"Tiara kau bisa lakukan apa saja pada ku, kau bisa menghukum ku, apa saja asal kau maaf kan aku," Riki perlahan menetes kan air matanya, tapi Tiara tetap diam.


"Maaf Tiara aku khilaf," ucap Riki dengan sangat menyesal.


Mendengar kata khilaf dari Riki tubuh Tiara bergetar iya semakin membenam kan wajah nya dalam pelukan Arie, iya hanya bisa menangis tertahan.


Melihat reaksi Tiara, Riki tak putus asa iya tetap berlutut sambil mencium lutut Tiara.


Tapi tak sedikit pun Tiara menoleh nya, bahkan kini iya semakin memeluk Arie dengan erat, Arie merasakan getaran tubuh Tiara, karna menahan tangisan nya.


Tiara menjerit dalam hati nya, menggukap kan kekecewaan nya, tanpa sadar iya pun menggigit bibir nya hingga robek, iya menggenggam kuat tangan Arie karna menahan rasa nya, tak sepatah kata pun keluar dari mulut Tiara, hanya terdengar deru nafas nya yang terengah-engah.


Tiara tak kuasa menahan himpitan batin nya, hingga tanpa sadar iya melukai tangan Arie dengan kuku nya, Arie menangis terdiam, air mata nya tak kunjung reda, luka batin Tiara pasti sangat dalam fikirnya.


Tiara masih saja terengah-engah, iya semakin kuat memeluk Arie, namun beberapa saat saja, pelukan itu mulai terasa renggang seiring ambuk nya tubuh Tiara saat hempasan nafas terakhirnya..


"Tiara," pangil Arie.


Begitupun Riki yang panik saat Tiara kembali pingsan, saat membalikan tubuh Tiara, darah segar mengucur karna Tiara sendiri yang menggigit bibir nya.


Riki mengambil bantal dari dalam kamar, sementara Arie membaringkan tubuh Tiara.


Tiara seperti nya dehidrasi dan kekurangan oksigen akibat terlalu lama membenam kan wajah nya dalam pelukan Arie.


Riki mencoba memberi nafas buatan untuk istri nya, berkali-kali namun tak ada reaksi.


Nadi di pergelangan hampir tak teraba, Riki dan Arie pun langsung membawa Tiara kerumah sakit.


Arie yang membawa mobil, sementara Riki menopang tubuh Tiara.


Riki yang merasa bersalah, terus menangisi dan mencium tangan Tiara.

__ADS_1


"Maaf kan aku Tiara," ucap nya berkali-kali sampai Arie bosan mendengar nya.


"Mas harus nya kamu jagan datang dulu tadi, biar kan Tiara tenang, sebelum kedatangan kamu, Tiara baik-baik saja, iya jadi semakin down ketika kamu mengakui aib mu sendiri."


Tiara langsung di bawa di ruang UGD, dan memakai oksigen, tampak kelelahan di wajah sayu Tiara, wajah nya yang cantik kini tertutupi dengan derita nya.


Arie dan Riki masih di sana menunggu, mereka gantian berada di sisi Tiara.


Tiara masih juga belum sadar, hingga harus di bawa keruangan ICU, EKG mencatat detak jantung Tiara dengan irama yang lemah.


Kesokan hari nya, Tiara sudah mulai sadar tapi iya tak bicara sedikit pun, seperti nya Tiara begitu trauma.


Tiara di pindah kan di ruang perawatan.


Tiara seperti kehilangan jati diri nya, iya hanya diam, seperti tak mendengar dan dan tak melihat,tatapan mata nya kosong.


Tiara seperti mayat hidup yang hanya menggerakan bola mata nya, iya tak mau bicara, apalagi makan, dan Riki sangat khawatir, apa lagi Tiara tengah mengandung, meski di beri vitamin dalam infus nya tetap saja kondisi sikis Tiara akan juga mempengaruhi janin nya.


Riki sangat setia mendapingi nya, selama masa perawatan nya, iya yang memandikan dan menyuap kan Tiara saat iya makan.


Riki berharap Tiara akan segera pulih dan melihat kesungguhan Riki dalam mengurus nya.


**


"Aku ngak mau Rie," cetus Syntia.


"Syn, ngak ada pilihan Syn, kau tak lihat betapa terluka nya Tiara, Syn."


"Aku tahu ini tak sepenuh nya salah Riki, karna niat kamu dari awal memang jahat Syn, kamu iri sama Tiara, iya kan Syn?"


"Iya Rie, aku cemburu sama Tiara, karna semua orang selalu nembandingkan aku sama dia, kamu juga Rie, saat aku mengharap cinta kamu, kamu tetap memilih Tiara kan, selama ini aku sabar Rie, tapi aku ngak mau ngalah lagi, apa pun yang terjadi, jika Mas Riki tidak mau menikahi ku, maka iya akan melihat mayat ku di depan rumah nya," tutur Syntia.


"Astafirullah hal azim Syn, cinta sudah membutakan mata kamu Syn, "


Kata-kata Arie terhenti ketika iya mendapat telpon dari Riki.


"Hallo Mas," sapa Arie.


"Rie, kamu ke sini Rie, Bantu aku bicara pada Tiara, Rie, Tiara seperti nya depresi, iya tak mau makan dan ngak mau bicara, mungkin dengan kamu, iya bisa terbuka." pinta Riki.


"Iya Mas, sebentar lagi aku kesana."


"Kamu dengar sendiri Syn, Tiara sampai depresi, apa kamu masih punya hati?"

__ADS_1


Arie menatap tajam pada Syntia, iya pun berlalu,


Syntia mendengar penuturan Arie, bukan nya merasa iba pada Tiara, tapi semakin membencinya.


Arie mendatangi rumah Riki, di sana sudah ada Ibu mertua Tiara yang sedang menyuapi nya makan.


"Mas, gimana keadaan Tiara?" tanya Arie.


"Ya seperti yang ku ceritaan, iya ngak mau makan, ngak mau ngomong sama aku, malah sekarang Mama juga ikutan marah dan ngak mau bicara pada ku," tutur Riki.


"Kamu ajak Tiara bicara Rie, aku akan berikan apa pun yang iya mau, asal dia ngak diamin aku kayak gini, jika memang Tiara ngak bahagia sama aku, aku rela melepas kan nya," tutur Riki sedih.


"Gitu aja kamu nyerah,Mas. Andai Tiara itu cinta sama aku, pasti sudah ku rebut dia dari kamu, Mas, saking cinta nya dia sama kamu, dia bahkan rela menerima kamu dan membagi cinta nya pada Syntia."


"Tiara begitu kecewa karna apa? karna iya terlalu mencintai kamu, Mas. "


"Saat sama kamu Tiara selalu nurut, tapi waktu sama aku dulu Tiara tuh keras kepala, hanya aku yang menuruti nya, tapi semudah itu kau melepas nya.."


Arie pun menemui Tiara.


"Tiara aku bawa foto kita waktu kecil Tiara, kamu lihat kan Tiara, begitu polos nya kita waktu itu, ngak ada beban apa pun yang kita rasakan.


Tiara mulai menunjukan reaksi nya iya pun melihat nya.


Arie senang melihat reaksi Tiara.


"Dan ini foto kita menggendong Aisyah Tiara."


"Aku tak pernah menyangka, jika iya menjadi istri ku, Tiara."


"Tapi kini iya tlah pergi Tiara, aku tak bisa memeluk atau pun mencium nya lagi."


"Harus nya aku lebih sedih dari mu, lihat lah Tiara, suami mu masih di sini, kau masih bisa memeluk nya, jika kau memang mencintai nya kau harus bisa memaaf kan sebesar apa pun salah nya, karna begitulah cinta, iya seperti pedang bermata dua, satu sisi kita bahagia karna nya, dan satu sisi kita juga akan menderita karna nya."


"Mas Riki juga mencintai mu, semua kesalahan tak sepenuh nya pada nya, keadaan kalian hanya di mamfaat kan oleh Syntia, Tiara."


"Akan ku bawa dia padamu Tiara, peluk lah dia selagi kau bisa memeluk nya." ucap Arie lirih.


Arie keluar dan memanggil Riki.


Riki masuk dan langsung memeluk Tiara, dan tanpa di sadari Tiara juga memeluk nya dan mereka pun larut dalam haru.


Arie pun keluar untuk meninggal kan mereka.

__ADS_1


__ADS_2