
Menangis lah Arjuna, tangisan mu tak akan sedikit pun, membuat kau terlihat lemah.
***Sejak ia pergi dari hidupku, ku merasa sepi, dia pergi tinggalkan ku sendiri, di sini tanpa satu yang pasti, aku tak tahu harus bagaimana, aku merasa tiada berkawan selain dirimu, selain cintamu.
Kirim aku malaikat mu, biar jadi kawan hidupku, dan kan ku temukan jalan yang kau pilih kan untukku, kirim aku malaikat mu, karna ku sepi berada di sini, dan di dunia ini, aku tak ingin sendiri.
Arjuna berlari ketepi pantai dan berteriak, perasaan apa ini, ia sendiri tak mengetahuinya, rasa sesak memenuhi seisi dadanya,
Ia kembali berteriak, di sudut pantai yang sunyi dan sepi, suara nya menggema memecah kesunyian pantai itu, dan di sahut dengan hempasan gelombang pasang yang mengganas, seolah ikut marah merasakan derita Arjuna.
"Kirim kan aku malaikat mu, karna ku sepi berada di sini dan di dunia ini aku tak mau sendiri." Arjuna.
Flashback,
"Rangga, syarat untuk melamar adikku, kau harus hafal surah Yassin dan Al Mulk," ujar Mas Aziz, setelah hapal kau boleh mengajukan syarat ke dua dan aku beri waktu seminggu."
"Ngak perlu Mas, saat ini aku sudah hapal kedua surah tersebut," Rangga pun melafaz kan nya, dengan tadjwid yang benar.
"Alhamdullilah," ucap Aziz, yang kedua aku ingin tahu apa alasanmu ingin menikahi adikku?" tanya Aziz kembali.
"Alasan pertama aku memcintai dia, yang kedua ingin menjalankan sunah rasul, yang ketika, aku ingin memilik rumah tangga yang sakinah, mawardah dan warohmah, yang selanjutnya, aku yakin Sakina adalah jodoh ku," jawab Rangga yakin.
Mendengar jawaban Rangga, Aziz pun tersenyum," Aku suka jawaban mu, sebenarnya, aku hanya ingin tahu seberapa besar ke sungguhan mu, untuk menikahi adik ku."
"Maklum saja Sakina adalah adik perempuan ku, satu-satu nya, Aku ingin agar pria yang mendampingginya, adalah seseorang yang bertanggung jawab, dan mampu membimbing nya."
"Jadi, apa lamaran ku di terima?" tanya Rangga, dengan penuh semangat.
Aziz, tersenyum dan menggangguk berranda setuju.
"Alhamdullilah, terima kasih ya Mas."
"Jadi kapan rencana pernikahan kalian ?" tanya Aziz.
"Rencananya bulan depan, Insya Allah." Rangga.
Aziz kemudian melihat kearah Arjuna, "Arjuna apa ada hal yang ingin kau sampaikan kepada calon adik ipar mu ini?" tanya Aziz.
"Pertanyaan barangkali?" tambah Aziz, yang melihat Arjuna tidak merespon.
"Tidak Mas, aku sudah kenal Rangga sudah lama, aku juga tahu ia pria yang baik," jawab Arjuna datar.
Rangga merasa senang, ia pun mengeluarkan kotak cincin dan menyerahkannya pada Aziz.
"Mas, aku ingin agar aku dan Sakina di ikat dengan cincin ini," pinta Rangga.
__ADS_1
"Maksud mu, tunanggan?" kalian kan sudah mau menikah, untuk apalagi bertunanggan?" tanya Aziz heran.
"Agar Sakina merasa yakin, bahwa aku memang serius kepadanya," ucap Rangga, namun matanya tertuju pada Arjuna, karna menurut Rangga, di antara mereka, hanya Arjuna yang terlihat tidak suka, atas hubungannya dengan Sakina.
Aziz pun menerima kedua cicin, satu cicin ia sematkan di tanggan Rangga, satunya lagi ia sematkan di tangan Sakina.
Mereka semua terlihat bahagia, terkecuali Arjuna , yang terlihat tanpa ekspresi, mungkin ia sendiri binggung, harus bahagia atau sebaliknya.
Mereka pun kembali ngobrol, "Arjuna Bagaimana dengan Mu?Apa kau belum punya rencana menikah?" tanya Aziz, Arjuna pun kaget dengan pertanyaan Aziz.
"Belum Mas," jawab Arjuna singkat.
"Tapi kenapa? kau sudah mapan, dan cukup umur untuk menikah."
Arjuna sendiri binggung harus menjawabnya," Belum ada calonnya Mas," jawab Arjuna asal.
"Kalau Mas Aziz, yang mencarikan jodoh untuk mu, kau mau kan?" tanya Aziz.
Arjuna semakin binggung, ia hanya melihat kearah Aziz yang sedang menunggu jawabanya.
"Kamu tenang saja, Mas, pasti pilihkan wanita yang soleha untuk mu, Mas Aziz punya banyak kenalan para ustadz, Dai, dan Pak kiayi, dan tentu saja putri mereka putri yang terjaga kesuciannya, dan tak sembarang orang bisa menyentuhnya," papar Aziz.
"Ia nanti Juna pikir kan," jawab Arjuna.
Setelah sampai, Arjuna pun kembali pergi, kali ini ia pergi sendiri, membawa perasaan yang masih tak di mengerti olehnya.
Arjuna menuju pantai, di keheninggan nya ia pun berteriak, seolah ingin melepaskan penatnya perasaan yang kini menjeratnya.
Arjuna termanggu dalam kesepiannya kembali, kali ini ia harus kembali merelakan sesuatu yang berhaga darinya untuk orang lain.
Dua hari berselang,
Evelyn terbangun dari tidurnya dan di lihatnya ada Raka di sampingnya, ia pun merapatkan tubuhnya, ketubuh Raka,
Evelyn merasa ada yang aneh pada Raka, tubuhnya nya sebagian terasa dinggin dan sebagian terasa hanggat, jantungnya pun berdetak dengan lemah.
"Sayang, Sayang,"Panggil Evelyn sambil menepuk pelan pipi Raka.
Tapi Raka tak juga bangun, Evelyn kembali membangunkan Raka, namun Raka tak kunjung bangun, Evelyn menyala kan lampu kamarnya, setelah di amati, wajah Raka pucat kekuningan.
Evelyn panik, ia pun berlari menuju kamar Arjuna.
"Arjuna, Arjuna," pangil Evelyn sambil mengetuk pintu kamar Arjuna.
Arjuna membuka kan pintu, sambil mengucek mata nya.
__ADS_1
"Ada apa Evelyn, malam-malam begini kau membanggunkanku," ujar Arjuna.
"Tolong Raka, Arjuna, ia tak sadarkan diri," jawab Evelyn dengan panik, ia pun menangis.
Mereka pun langsung menuju kamar Raka, setelah melihat dan memeriksa keadaan Raka.
"Ayo kita bawa Raka ke rumah sakit, Evelyn."
"Kau siapa kan pakaian Raka, aku akan membanggunkan Mang ujang, dan menyuruh Pak Iwan untuk menyiapkan mobil," Mereka pun bergegas.
Sesampai di rumah sakit, Raka langsung mendapat perawatan, setelah di USG, baru di ketahui, Raka mengalami gagal ginjal, untuk sementara, Raka harus menjalani cuci darah, sambil menunggu tindakan selanjutnya.
Keesokan pagi nya,
Arjuna dan Evelyn, menemui Dokter yang merawat Raka.
"Bagaimana dengan adik saya, Dok?" tanya Arjuna.
"Pasien mengalami gagal ginjal, ginjalnya mengalami kerusakan, dan jalan satu-satinya hanya dengan operasi transplantasi ginjal," Papar Dokter.
Arjuna kaget, Evelyn bahkan sampai menangis.
"Maksud Dokter, Pasien harus segera mendapatkan donor ginjal."
"Donor ginjal Dok?" tanya Arjuna sedikit ngeri.
"Ia, tapi untuk mendapatkan donor ginjal dari orang yang masih hidup sangat sulit, tapi jika menunggu dari donor orang yang meninggal, akan butuh waktu yang agak lama, karna sudah banyak antria pasien yang lainya," papar Dokter.
"Tapi, apa setelah cangkok ginjal, Raka akan kembali pulih seperti sediakala?" Arjuna
"Tentu saja, jika penangananya cepat, tak hanya bisa menyelamatkan hidup pasien, tapi juga akan memulih kan keadaannya kembali, meski seumur hidup ia harus meminum obat, tapi ia akan kembali menjalani hidup normal."papar Dokter.
Setelah pembicaraan dengan Dokter selesai, mereka pun keluar.
Air mata Evelyn menetes, kali ini ia sedang berada di hadapan Arjuna.
"Arjuna, tolong Raka, tolong lah suami ku Arjuna, karna hanya kau yang bisa menolongnya, ginjal mu pasti cocok dengan Raka," Evelyn memohon, ia pun menangis.
Arjuna menarik nafas panjangnya, sebagai manusia, tentu ia akan merasa takut dan gugup, jika di hadapkan pada situasi ini, tapi di sisi lain, ini semua demi kesembuhan Raka, sejenak Arjuna diam dan meneteskan air matanya.
"Tanpa kau pinta, aku pasti melakukannya Evelyn, kau tenang saja, suami mu pasti selamat, dan tak hanya ginjalku, jika ia butuh jantung ku, dengan suka rela aku akan mengorbankanya, tutur Arjuna lirih, sebenarnya ia pun merasa takut.
"Terima kasih Arjuna," suatu saat aku akan membalas semua perbuatanmu." Evelyn pun memeluk Arjuna.
Sementara Arjuna hanya mengganguk dengan tatapan mata kosong.
__ADS_1