Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
Hari yang baru


__ADS_3

Azan subuh terdengar nyaring, Arie sudah siap dengan baju koko, sarung dan peci nya, iya langsung masuk kekamar dan membangunkan Tiara.


"Bun, bangun bun, sholat subuh dulu nanti tidur lagi." Arie mengoyang kan tubuh Tiara.


"Nanti aja, masih ngantuk," jawab Tiara


"Bun, sholat subuh tuh wajib, nanti ayah ikutan dosa juga, kalau kamu ngak sholat."


Dengan perasaan malas Tiara pun bangkit dan langsung menuju kamar mandi, iya pun mandi dan sholat subuh.


Tiara berkali-kali menguap, iya masih merasa kan ngantuk dan lelah, Iya pun mencoba untuk kembali tidur.


Tapi terdengar suara orang sedang memasak sesuatu di dapur, Tiara bermaksud untuk melihat siapa yang subuh-subuh sudah memasak di dapur.


Iya keluar dari kamar, ternyata Arie sudah memasak nasi dan sekarang iya sedang mencuci piring, Tiara pun menghampiri nya.


"Yah, kamu ngapain sih?, masih subuh Yah," tanya Tiara sambil menguap.


"Udah kalo masih ngantuk tidur lagi saja, bun, Ayah sudah biasa, mengerkan kan semua ini.


"Biar bunda saja Yah, ini kan kerjaan seorang istri,"


"Ngak mesti juga seorang istri mengerjakan semua nya, bun, nanti kamu kaget mengerjakan semua, dari seorang ratu jadi babu, biasa nya upik abu jadi cinderlela, kalau kamu, cinderlela jadi upik abu," canda Arie.


Benar juga kata Arie, fikir Tiara, iya ngak akan sanggup mengerjakan semua nya sendiri, apa lagi kini iya harus mengasuh dua anak mereka.


Setelah selesai dengan pekerjaan rumah nya, Arie pun bersiap untuk kerja, Arie belum mendapat panggilan kerja lagi, jadi iya tetap ngojek, sambil menunggu panggilan kerja.


Arie menghampiri Tiara di kamar,


"Bun, Ayah cuma punya uang segini, kamu atur dulu ya, untuk keperluan rumah hari ini," ucap Arie sambil menunjukan uang seratus ribu, dan Tiara melihat sisa uang dompet Arie cuma ada dua puluh ribu.


"Yah, bunda masih pegang uang kok, itu buat ayah aja, di jalan, siapa tahu ada apa-apa di jalan, ngak megang uang kan susah," tutur Tiara.

__ADS_1


"Ayah tahu bun, kamu punya banyak uang, tapi ini sudah kewajiban ayah sebagai kepala rumah tangga, ayah tahu ini ngak cukup, tapi akan ayah usahakan, jangan lihat nilai nya ya, bun, untuk mencari uang segini ayah butuh waktu seharian," ucap Arie kepada Tiara.


Tiara terharu iya langsung memeluk suami nya, "Terima kasih ya, yah, Bunda ngak akan menyia- nyia usaha dan kerja keras kamu, " tutur Tiara haru.


"Terima kasih ya Bun, atas pengertian nya," Arie pun mengecup kening Tiara.


***


Sementara Syntia, sudah membuat kopi untuk Riki, iya pun sudah menyiapkan pakaian kerja nya, meski Syntia tahu Riki tak pernah mengganggap nya ada, namun iya tetap bertahan karna cinta nya pada sang suami, Syntia juga tak pernah berniat untuk meninggalkan Riki.


Riki turun ke lantai bawah dan langsung di sambut oleh Mama," Riki kamu pulang kerja, kamu jangan keluyuran lagi, Mama akan perkenalkan kamu dengan anak tante Indry yang baru pulang dari Sydney."


Syntia yang mendengar perkataan Mama, langsung angkat bicara.


"Jadi Mama mau menjodoh kan Mas Riki?" tanya Syntia panik.


"Tentu saja, Mama melihat Riki tidak bahagia selama menjalani pernikahan dengan kamu, lagi pula kamu hanya istri siri nya."


"Dan satu hal lagi, kamu ngak bisa memberi keturunan lagi kan," ucap Mama sinis.


Syntia tak bisa berkata apa-apa lagi, iya pun langsung naik ke lantai atas dan menuju kamar nya.


Syntia kembali menangis karna tak ada orang yang menggangap keberadaan nya di rumah itu.


"Saat ini Mas Riki saja tak perduli pada ku, apalagi jika nanti iya punya istri, pasti aku akan lebih menderita lagi." Syntia.


"Ya tuhan, sampai kapan aku harus menanggung kutukan ini, aku mengakui kesalahan ku yang telah merampas kebahagian orang lain, tapi apakah kesalahan ku terlalu besar, hingga harus ku tanggung seumur hidup ku." Doa Syntia.


Iya pun kembali mendekati Raka, Kalau saja bukan karna Raka, mungkin iya sudah lari dari rumah ini bahkan dari dunia ini.


***


Sore hari nya, Riki langsung pulang seperti yang di perintah kan ibu nya, dan ternyata sudah ada tamu yang datang.

__ADS_1


Riki langsung menghampiri Mama dan kedua tamu tersebut.


"Riki, ini tante Indri teman bisnis Mama, dan ini anak nya serly." Mama memperkenal kan.


Riki pun berabat tangan pada kedua nya, mereka pun ngobrol berempat, sementara Syntia hanya bisa melihat mereka dari lantai atas.


Setelah kedua tamu tersebut pulang, Mama langsung menanyakan pendapat Riki tentang anak Tante Indry.


"Gimana Riki, cantikan anak tante Indry," tanya Mama.


"Cantik, Ma," jawab nya singkat, iya pun langsung naik ke atas menuju kamar nya.


Saat masuk, Riki melihat Syntia yang menangis menggendong Raka.


Iya pun menghampiri nya,


"Kenapa kamu nangis, Syn, apa yang terjadi pada Raka?" tanya Riki sedikit khawatir.


"Raka baik-baik saja Mas, hanya saja aku ingin membawa nya pulang ke rumah orang tua ku," ucap Syntia lirih, karna saat itu iya sangat sedih.


"Aku akan merawat dia sendiri, dan jika kau merindu kan nya, kau boleh melihat nya kapan saja kau mau," ucap Syntia yakin, karna iya sudah tak sanggup lagi menghadapi semua ini, apalagi Riki, akan di jodoh kan Mama nya.


"Tidak Syn, Raka tak boleh keluar dari rumah ini, sudah cukup Arjuna jauh dari ku, apalagi keadaan Raka seperti itu, aku akan semakin khawatir," cegah Riki.


"Tapi Mas, aku juga ngak sanggup berada di sini, tak ada yang mengganggap keberadaan ku disini, apalagi jika kau menikah lagi, kau pasti punya anak dan kau akan bahagia, sementara aku, hanya pajangan bagi mu, tak ada yang akan peduli dengan perasaan ku," ucap Syntia.


"Mas, kau bisa menikah kapan saja, aku juga ngak punya kekuatan apa-apa karna aku hanya istri siri mu, aku juga sadar kau tak pernah menginginkan ku, kita bercerai saja, sekarang aku menunggu talaq dari mu, mungkin setelah ini kita sama-sama bisa merasakan bahagia," ucap Syntia.


Riki terdiam sejenak, iya pun merasa iba pada Syntia.


Syntia pun langsung membawa Raka, Riki juga binggung harus berbuat apa, Raka membutuh kan iya dan Syntia, mengingat keadaanya seperti itu, tak mungkin Riki tega melepaskan Raka, untuk jauh dari nya.


"Tunggu Syn, kamu jangan kemana-mana, kasihan Raka, iya hanya akan menjadi korban keegoisan kedua orang tua nya."

__ADS_1


"Tetap lah di sini, kita rawat Raka, sama-sama, dan aku juga akan memberikan nafkah batin untukmu," ujar Riki.


Syntia pun menggangguk, sebenar nya iya pun berat berpisah dari Riki.


__ADS_2