
Tiara lari dan menangis di sudut sebuah ruangan gedung, iya begitu menyesali kenapa iya membiarka laki-laki lain menyentuh nya, Tiara juga tak tahu kenapa saat bercumbu dengan Riki, iya begitu bergairah, dan tak sama saat iya melakukan nya pada Arie.
"Kenapa aku ini, kenapa aku mau saja di perlakukan seperti itu oleh Mas Riki, padahal suami ku jauh lebih baik, kenapa aku tak bisa mencintai nya sungguh-sungguh, aku masih saja mencintai Mas Riki," batin Tiara.
Tiara kembali menyesal, sejenak iya pun menangisi kejadian itu.
"Aku sangat merasa bersalah pada Arie, padahal iya percaya sepenuh nya padaku, dan hubungan kami semakin harmonis akhir-akhir ini, tapi aku malah kembali berkhianat pada nya."
"Ya tuhan maafkan lah aku, karna aku berkhianat pada suami ku," tangis Tiara.
"Apa aku harus jujur dan meminta maaf dengan nya, tapi Apa yang harus ku katakan pada Arie, jika aku..., ah sudalah, aku sembunyikan saja semua ini, dan akan melupakan kejadian ini," batin nya.
Setelah cukup tenang, Tiara pun kembali ke pesta nya, namun mata nya masih terlihat sembab, iya pun merapikan make up nya kembali.
Sementara Riki juga menyesali perbuatan nya," Maaf kan aku Rie, aku tak sengaja, aku tak bisa mengendalikan perasaan ku saat bersama Tiara." batin Riki.
Arie terus mencari keberadaan Tiara, karna iya tak melihat Tiara sejak tadi, iya pun bermaksud untuk turun ke bawah, tapi saat mendekati tangga iya pun berpapasan dengan Tiara.
"Dari mana Bun, Ayah khawatir, karna sejak tadi Ayah ngak melihat bunda?"
"Bunda ke toilet yah, Bunda ingin pulang, karna rasa nya bunda ngak enak badan," jawab Tiara bohong.
Arie pun melihat wajah Tiara tak lagi segar, Sepertinya kamu memang kelelahan Bun,
"Kita pamit dulu Yuk," ajak Arie.
"Ngak usah, Ayah saja yang pamit, Bunda pusing," ujarnya bohong.
"Arjuna di bawa juga ya Yah," ujar Tiara lirih.
Arie pun berpamitan pada Riki dan Ayah nya.
"Mas, aku pulang dulu ya, Tiara kata nya ngak enak badan, "ujar Arie.
Riki terdiam, "Apa karna kejadiaan tadi?" tanya Riki pada diri nya sendiri.
"Mas," Arie membuyarkan lamunan Riki.
"Oh iya, ngak apa-apa, acara nya juga sebentar lagi selesai." jawab Riki.
Di dalam mobil Tiara hanya diam, iya bahkan tak menghiraukan Arjuna yang menangis.
"Bun," seru Arie, dan langsung membuyarkan lamunan Tiara.
"Kenapa Yah?" tanya Tiara kaget.
__ADS_1
"Kamu ngak denger ya, Arjuna nangis, kamu mikirin apa sih Bun?"
"Ngak Yah kepala bunda pusing Yah," Tiara kembali berbohong.
"Ya tuhan kali ini aku harus berbohong lagi pada suami ku," keluh Tiara dalam hati.
Sesampai nya dirumah Tiara langsung mengganti baju nya dan menghapus make up nya.
Iya pun langsung merebahkan diri, keatas kasur, untung saja Arjuna sudah tidur, pikir nya.
Tiara merasa lelah dengan pergulatan batin nya, iya merasa sangat berdosa pada Arie, iya ingin jujur, tapi iya takut Arie tak kan mempercayai nya lagi, dan hubungan mereka bisa saja merenggang.
Tapi jika tak di beri tahu, rasa nya iya tak sanggup menanggung rasa bersalah nya kini, iya seperti di kejar-kejar oleh dosa.
"Baru saja aku belajar mencintai Arie kembali, kenapa aku harus bertemu dengan Riki kembali, harus nya aku tak ikut pesta itu," sesal Tiara.
Setelah sholat, Arie pun berbaring di samping Tiara, iya memijat lembut kepala Tiara.
"Masih pusing Bun," tanya Arie dengan lemah lembut.
"Ya, Tuhan Arie baik sekali, iya bahkan memijat kepala ku, yang tak sakit, padahal aku tahu Arie sendiri sudah lelah, dari subuh iya membantuku mengerjakan pekerjaan rumah, iya pun bekerja seharian di kantor, dan malam nya, kami pergi lagi, tak terbayang lelah nya Arie saat ini, tapi aku malah berbohong dan mengecewakan nya." batin Tiara.
"Sudah mendingan Yah, sekarang Ayah tidur saja, Bunda juga tahu Ayah juga capek sekali hari ini," ujar Tiara sambil memeluk Arie.
*****
Selesai sholat subuh iya pun kembali berbaring.
"Aduh kok jadi pusing beneran ya? Apa karna aku kualat sama suami ku, karna berbohong pada nya," batin Tiara.
Arie yang baru pulang dari Masjid langsung kekamar mengganti baju nya, dan dilihat nya Tiara masih berbaring.
"Udah sholat Bun,?" tanya Arie.
"Udah yah, tapi kepala Bunda pusing," kali ini Tiara tak berbohong karna kepala nya memang pusing.
Arie langsung memijat kepala dan bahu Tiara, seketika itu Tiara pun ingin muntah karna di pijit.
Tiara berlari menuju kamar mandi, dan memuntahkan semua yang ada di perut nya, seketika itu iya terkulai lemas.
Arie pun mengangkat tubuh nya dan kembali ke kasur.
"Bun apa kamu ngak hamil," tanya Arie curiga.
"Hamil Yah, kok Ayah lebih tahu dari Bunda sih, kayak nya ngak, semalam Bunda baik-baik saja," tutur nya.
__ADS_1
"Kita tes saja, nanti pulang kerja, Ayah bawa kebidan ya, untuk sementara Bunda ngak usah mengerjakan pekerjaan berat, biar Ayah saja yang melakukan nya," tutur Arie.
Sepulang dari kerja Arie langsung membawa Tiara kebidan.
Di dalam mobil,
"Bun, kalau kamu hamil, kayak nya Ayah harus cari orang untuk membantu kamu mengasuh Arjuna dan Aziz."
"Bunda masih bisa sendiri Yah," jawab nya.
"Kamu pasti repot, karna mereka lagi aktif-aktif nya, nanti kamu kelelahan trus terjadi sesuatu bagaimana Bun," ujar Arie.
"Terserah Yah," jawab Tiara.
Mereka pun memeriksa kan kehamilam Tiara, keduanya sudah tak sabar menunggu hasil.
Tak berapa lama kemudian, hasil nya pun keluar.
"Selamat Bapak, istri anda positif hamil dua minggu," ucap Bidan.
Arie dan Tiara pun bahagia, mereka pun berpelukan di depan bidan tersebut.
"Anak pertama ya?" tanya bidan
"Ngak kok, anak ke tiga," jawab Tiara bahagia.
Mereka pulang dengan perasaan bahagia, Tiara memeluk dan bersandar di lengan Arie, Arie pun tak henti-henti nya membelai rambut tiara dan mencium ubun-ubun nya.
Ya, Tuhan semoga ngak ada masalah lagi dalam rumah tangga ku, kini aku mengandung benih lelaki yang sangat baik dan sangat mencintaiku, semoga rumah tangga ku akan menjadi sakinah kembali." batin Tiara.
Dan semoga saja dengan kehamilan ku kini, aku bisa kembali mengubur rasa cinta ku pada Mas Riki.
Sementara Riki masih merasa bersalah dengan kejadian di pesta.
"Sepertinya aku harus menikah agar aku bisa melupakan Tiara," batin nya.
Iya pun menghampiri Mama.
"Ma, Riki siap kok untuk menikah," ucap Riki secara tiba-tiba.
Mama pun kaget sekaligus senang.
"Iya Riki nanti Mama carikan wanita yang baik untuk mu," ujar mama.
Iya pun memeluk Riki, "Ini baru anak Mama," tutur nya sambil memeluk putra semata wayang nya, iya pun kembali mencium pipi Riki, saat itu Riki di buat seperti anak kecil oleh Mama nya.
__ADS_1
"Oh, ternyata ini yang bikin Mama suka marah-marah, ternyata iya ingin agar aku segera menikah, Mama memang ngak pernah berubah," batin Riki..