
Tiara melepas kan sendiri infus yang di pasang di pergelangan tanggan nya, Iya begitu merasa risih, karna tak bisa bergerak bebas.
Meski tubuh nya masih lemah namun iya coba paksakan berjalan menemui Aisyah, Tiara mencoba mencari kamar di mana Aisyah di rawat, dan tak sengaja iya melihat Arie baru saja keluar dari sebuah ruangan. Tiara pun masuk ke ruangan tersebut, dan memang benar Aisyah tengah terbaring di atas kasur.
Aisyah tertidur kala itu, dan Tiara tak berani untuk membangun kan nya, Tiara menetes kan air mata ketika melihat Aisyah, tubuh kecil nya semakin kurus dan wajah nya pun terlihat pucat.
Tiara hanya diam di samping Aisyah iya hanya memperhatikan Aisyah yang sedang tidur, tak terbayang kan bagi Tiara, bagaimana menderita nya Aisyah dengan penyakit nya.
Arie yang keluar kemudian masuk ke kamar itu dan melihat Tiara yang sedang duduk di samping Aisyah.
"Tiara," sapa Arie pelan.
"Shuut " Tiara menempel kan jari telunjuk nya sebagai isyarat agar Arie tidak berisik.
Arie pun diam dan duduk di atas kasur tempat Aisyah tidur. Tangan Tiara terasa gatal ingin sekali iya mengusap kepala Aisyah dan mencium kening nya.
Tiara pun melakukan nya, Iya mencium kening Aisyah dan mengusap rambut nya.
Kemudian iya pun bangkit dari kursi nya dan hendak pergi.
Mereka berdua hanya diam sesekali memandangi wajah Aisyah, tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Tiara atau pun Arie.
Tiara pun keluar dan Arie mengikuti, mereka bermaksud untuk berbincang di luar.
"Gimana keadaan Aisyah sesunguh nya Rie?" tanya Tiara.
"Aisyah sedang hamil Tiara," jawab Arie.
"Beberapa hari belakangan ini, iya tak nafsu makan dan sejak mengetahui bahwa diri nya hamil, Aisyah tak pernah lagi menyentuh obat-obatan nya, dan itu yang membuat sakit nya semakin parah," ungkap Arie dengan perasaan sedih.
"Rie, meski Aisyah belum terlalu dewasa, tapi iya seorang calon ibu, dan naluri seorang ibu akan selalu melindungi anak nya. mungkin itu yang dirasa kan Aisyah, hingga iya rela tersiksa karna penyakit nya, dari pada iya harus mengkomsumsi obat-obatan yang berbahaya bagi janin nya."ungkap Tiara menjelas kan.
"Aku pernah menyaran kan agar Aisyah menggugur kan janin nya, dengan alasan kesehatan nya, aku ngak tega Tiara melihat Aisyah terus-terusan menderita," ucap Arie menjelas kan dengan air mata yang menetes.
"Aisyah itu wanita soleha Rie, dari kecil iya sudah dididik dengan ilmu agama dengan sangat baik, Jadi Aisyah ngak akan mau membuang rezeki yang di titipkan tuhan pada nya,"ujar Tiara lagi.
"Aku tahu Tiara, aku juga sebenar nya ngak mau membuang darah daging ku, tapi melihat penderitaan Aisyah, seperti nya memang tak ada cara lain."
Kata-kata Arie terhenti ketika iya melihat seorang laki-laki yang mengdekati mereka.
"Tiara, aku sudah cari kamu kemana-mana, ternyata malah di sini,"ujar Riki sambil menarik tangan Tiara.
Tiara kaget karna kedatangan Riki.
Riki menarik tangan Tiara agar menjauh dari Arie, dan melihat wajah nya yang cemberut, Tiara tahu Riki sedang cemburu pada Arie.
"Arie aku pamit dulu, sampaikan salam ku kepada Aisyah."ucap Tiara kepada Arie.
__ADS_1
Arie hanya mengganguk, dan Tiara pun berlalu dari hadapan nya, tapi mata Arie tetap melihat kearah Tiara yang kini menggandeng mesra tangan suami nya.
Arie merasa cemburu atas apa yang dilihat nya, ternyata meski menikah dan hidup bahagia bersama Aisyah, nyata nya Arie tak bisa melupakan rasa cinta nya terhadap Tiara.
**
Pulang kerumah Riki masih saja cemberut, iya hanya tidur di samping Tiara dan membelakangi nya.
"Mas, kamu masih marah ya?" tanya Tiara pada Riki dan Riki hanya diam saja.
"Mas, aku tuh paling ngak suka, kalau aku ngomong tapi di cuekin." Tiara kembali bicara, tapi Riki masih diam.
Dengan emosi Tiara membalik tubuh Riki dan kini Riki berhadapan langsung dengan Tiara.
"Apa sih kamu?" Riki menepis tangan Tiara.
"Kamu kenapa sih Mas, selalu ngajak aku bertengkar?" tanya Tiara yang semakin emosi.
"Kamu kan mulai duluan, kamu bela-belain membuka infus mu dan menemui mantan pacar kamu kan Tiara," tutur Riki dengan geram.
"Mas, aku kesana bukan untuk bertemu Arie, tapi melihat keadaan istri nya."
"Tiara aku tuh sebelum nya belum mengenal kamu, tapi aku berusaha untuk menerima kamu, tapi kamu malah seperti ini sama aku."
"Mas, kamu harus tahu terlebih dahulu tentang aku, dan masa lalu ku, sebelum kamu buka hati untuk menerima aku."
Riki pun diam mendengar kata-kata Tiara. Dan Tiara memulai cerita nya.
"Mas, aku kenal Arie sejak aku masih kecil, karna Arie itu tetangga ku dan iya teman sepermainan ku."
"Saat umur ku delapan tahun, ayah dan ibu ku berpisah, aku ikut ibu ku dan Nanda ikut ayah ku."
"Saat itu aku merasa kan getir nya hidup, aku selalu di tinggal sendiri di rumah ku, karna ibu ku bekerja, maklum saja sejak berpisah dari ayah ku, ibu ku lah menjadi tulang punggung keluarga ku."
"Aku sering bermain di rumah Arie, terkadang sampai malam, karna menunggu ibu ku pulang dari bekerja."
"Aku dan Arie menjadi seperti saudara, aku makan apa yang iya makan dan terkadang aku menginap di rumah nya, saat ibu ku sedang ada shif malam.
"Pergi sekolah kami bersama, pulang sekolah kami pun bersama dan kami mengaji bersama di rumah orang tua Aisyah."
"Saat istirahat, biasa nya aku dan Arie bermain dengan Aisyah yang masih berusia dua tahun, saat itu aku dan Arie menyayangi Aisyah seperti adik kandung kami sendiri."
"Mungkin karna selalu rindu akan saudara ku, jadi aku menganggap Aisyah seperti adik ku sendiri, begitu juga Arie, karna iya anak tunggal iya menganggap aku dan Aisyah seperti adik nya."
"Aku dan Arie kadang kala kami bermain dan berpura-pura jadi suami istri dan Aisyah jadi anak nya,tak ada rasa antara aku dan Arie waktu itu,mungkin itu hanya kepolosan kami saat masih kecil."
"Saat aku Smp, aku pun mulai mengenal cinta, aku merasakan ada perasaa yang berbeda terhadap Arie."
__ADS_1
"Aku yang dulu nya acu tak acu terhadap penampilan ku, malah berubah, aku selalu memperhatikan penampilan ku, rasa nya aku ingin terlihat cantik di depan nya."
"Aku merasa Arie bersikap biasa saja pada ku, karna sejak ayah nya meninggal Arie berubah, iya menjadi pendiam."
"Iya tak pernah lagi bermain pada ku bahkan terkesan menghindar, Arie banyak menghabis kan waktu nya untuk nembantu ibu nya bekerja."
"Saat aku Sma baru lah Arie menyatakan cinta nya pada ku,tentu saja aku langsung menerima nya,karna aku melihat tak ada sedikit pun cela pada diri Arie."
"Mengetahui aku dan Arie pacaran, ibu ku sangat tidak setuju, iya pun pindah dari kota ini dan tinggal di rumah nenek ku."
"Meski tlah jauh namun tak berarti aku dan Arie putus kami tetap menjalin hubungan LDR, tentu saja tanpa sepengetahuan ibu ku."
"Namun akhir nya hubungan ku dan Arie ketahuan juga, dan ibu ku mengganti handphone ku dan nomor ku."
"Aku tak lagi menyimpan nomor Arie, hingga aku kuliah,aku terus saja di kekang oleh ibu ku, iya amat protek terhadap ku dan membuat ku merasa tidak nyaman."
"Aku tak di perboleh kan pacaran oleh ibu ku, tapi itu yang membuat aku nekat, aku menerima beberapa orang laki-laki yang menyatakan cinta nya pada ku, meski tak di perboleh kan keluar namun aku menjalin hubungan di telpon."
"Aku tak bermaksud mempermain kan mereka, aku hanya merasa ingin mencari hiburan yang tak ku dapat di rumah."
"Ibu terlalu menyanyangi ku, hingga aku seperti mutiara yang berharga yang di simpan nya dengan rapi dan tersembunyi."
"Lama tak berjumpa dengan Arie, tapi tiba-tiba ita datang untuk melamar ku, tentu saja ibu langsung menolak nya."
"Alasan yang sederhana, karna aku belum selesai kuliah, aku dan Arie pun kembali menjalin hubungan."
"Hingga aku selesai kuliah Arie kembali datang dan melamar ku, saat itu Arie sudah bekerja denga gaji yang lumayan."
"Tapi lagi-lagi ibu menolak nya, dengan berbagai alasan, saat itu aku tidak terima dengan perlakuan ibu ku, dan mengancam akan bunuh diri jika iya tak merestui hubungan kami."
"Ibu pun akhir nya setuju dengan Arie, namun iya mengajukan mahar yang besar kepada Arie untuk bisa menikahi ku,Arie pun menyanggupi nya, dengan gaji Arie yang di dapat kan nya, butuh waktu dua tahun bagi Arie untuk bisa menunai kan mahar yang di ajukan ibu ku."
"Aku akan menikah dengan nya ketika syarat yang di ajukan ibu ku sudah siap. Arie kemudian mengikat ku dan kami pun bertunangan."
"Kebetulan aku mendapat kerja di sini, jadi ibu juga meminta Arie untuk menjaga ku."
"Sudah satu setengah tahun, dengan kegigihan Arie iya bisa mengumpul kan uang untuk pernikahan kami, dan kami pun sudah menentukan tanggal pernikahan kami."
"Namun sebelum pernikahan itu terjadi, Arie harus menyelesai kan kontrak nya dan harus mengawasi pembangunan jalan tol antar propinsi yang akan rampung tiga bulan lagi."
"Arie pun pergi meninggal kan ku, dan tak lama setelah kepergiaan Arie, peristiwa di hotel pun terjadi, dan aku kembali harus mengubur mimpi ku dan juga mimpi Arie untuk membina rumah tangga bersama." Kata-kata Tiara mulai terbata-bata, dan kali ini ada butiran air mata yang menetes di pipinya.
Karna kecerobahan ku, aku sendiiri yang yang mengubur impian kami, aku lah membuat perjuangan Arie selama bertahun-tahun menabung menjadi sia-sia, tak terbayang betapa kecewa nya Arie pada ku saat itu," ungkap Tiara dengan sedih dan kecewa.
Tiara pun menangis dan air mata nya kini semakin deras, Riki sendiri hanya diam mendengar penuturan Tiara dan tak tahu harus berkata apa.
.
__ADS_1