Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka

Ketika Takdir Menyatukan Aku Dan Mereka
season 2 episode 16


__ADS_3

Pernikahan Raka tinggal seminggu lagi, Arjuna sudah sibuk mengurusi semua nya, ia juga telah menandatangani perjanjian antara ia dan Ayahnya Evelyn.


Arjuna sengaja tak menyuruh Raka ikut campur, karna ia tak inggin Raka kelelehan, bahkan ia tak memberi ijin kepada kedua adiknya untuk keluar dari rumah.


Arjuna semakin protektif, ia tak mau terjadi sesuatu pada Raka, ia juga tak mau Sakina betemu dengan Rangga kembali.


Keduanya kini hanya bisa menghabiskan waktu bersama, tak ada yang berani menentang keputusan Arjuna, karna Arjuna adalah kepala keluarga di rumah itu, setelah Oma sakit, sementara Evelyn, seminggu sebelum pernikahan ia juga harus di pingit untuk menjalani ritual pra nikah.


Raka menghampiri Sakina yang ada di balkon rumah, Sakina terlihat murung kala itu.


"Dek, kamu kenapa beberapa hari ini kayaknya murung?"


"Sakina bosan kak, karna harus berada terus-terusan di rumah, seperti terpenjara," jawab nya dengan muka sayu.


"Kamu kangen ya sama Rangga?"


Dengan sedikit malu, Sakina pun menggangguk.


"Kakak ngak bisa berbuat apa-apa Dek, mungkin Kak juna hanya ingin melindungi kita, terkadang kakak sendiri sedih melihat Kak juna yang selalu sibuk, sibuk urusan kerja, sibuk mengurus pernikahan Kak Raka, kasihan Kak Juna Dek, di usia nya sekarang, ia harus menanggung banyak beban, apalagi setelah Oma Sakit, Semua keputusan kini harus di pikirkan nya sendiri, jika saja Papa masih ada, Kak juna pasti tak kan seperti ini, ia pun tak lagi bisa menikmati masa muda nya, ia juga harus jadi seorang Ayah dan Ibu bagi kita Dek, jika kita tak bisa membantu nya, dengan menuruti perintahnya kita sudah mengurangi bebannya, Kak juna semakin kurus saja, waktu istirahatnya pun berkurang, Kak Raka takut terjadi sesuatu pada nya, kak Raka sebenarnya ingin membantu nya, tapi ia larang, ia begitu menyayangi kita Dek, hingga ia tak pernah memikirkan kebahagian nya sendiri," Raka menutup penuturan nya dengan titik air mata.


Sakina juga merasa sedih, dengan keadaan Arjuna, Sekarang Arjuna jarang sekali bersama mereka, karna terlalu sibuk, mengurusi perusahaan Kakek nya, juga menggantikan kedudukan Raka di perusahaan Papa nya, belum lagi ia kini sering ke luar kota dan pulang sudah larut malam.

__ADS_1


Meski ia rindu bertemu Rangga, tapi ia tetap menuruti perintah Kakaknya.


Sejak sore Sakina sudah sibuk di dapur,ia ingin memasak sendiri untuk Arjuna, Raka pun membantu nya untuk menyediakan masakan kesukaan Kakaknya, Opor ayam dan rendang daging sapi, semua itu akan ada di sajian saat mereka lebaran, semua keluarga berkumpul, Ayah Ibu, dan Kakak-kakaknya, mereka merasa bahagia, kala itu, saling menyayangi dan saling mengerti, tak pernah sekali pun ada pertengkaran di rumah mereka, Ayah dan Ibu, yang sabar dan selalu harmonis dan anak-anak yang saling menjaga dan melindungi, tak ada kecemburuan di antara mereka bertigau meski sebenarnya mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, Sakina dan Aziz saudara se Ayah, sedangkan Sakina dan Arjuna saudara seibu, bahkan Arjuna dan Aziz mereka tak ada hubungan darah langsung, tapi tetap saja saling mengerti dan saling menjaga, itu lah yang kini membuat Sakina meneteskan air matanya, mengapa takdir begitu mudah merampas kebahagian mereka, bahkan Sakina harus terpisah dari kakak-kakaknya, yang selama kedua orang tua nya masih ada, ia dan Arjuna tak pernah terpisah, kemana pun Arjuna pergi, ia selalu membawa Sakina bersamanya, bahkan Arjuna rela tak bermain dengan teman-teman sebayanya, demi menjaga adik kesayangannya, cinta yang begitu tulus yang di ajarkan kedua orang tua mereka, Sakina pun mengerti dan memahami jika Arjuna tak ingin jauh dari nya lagi.


Acara memasak pun selesai, untung ada Raka saudara tirinya, yang selalu mengajaknya bercanda, dan bercerita hingga Sakina tak pernah merasa bosan dirumah, meski sebenarnya Raka punya hati terhadap Sakina, dan sebalik nya Sakina pun demikian, Sakina kecil memang menyukai Raka, dan berharap suatu saat ia bisa menjadi pacarnya, setelah dewasa mereka sama-sama mengerti bahwa tali persaudaran akan lebih erat ikatanya dari pada jalinan sepasang kekasih.


Saat membereskan dapur, selesai memasak, dengan iseng Raka mencolet kan mentega di pipi Sakina, awalnya Sakina tak merespon ia membiarkan saja, sambil mengelap mentega di pipi sebelah kanan nya, tapi baru mengelap mentega sebelah kanan pipinya, Raka sudah mencoletkan mentega kembali di pipi kirinya, dan begitu terus selama terjadi selama berkali-kali, setiap sakina membersihkan pipi kanan nya Raka kembali mengotori pipi kiri nya dan sebalik nya pula, jika ia membersihkan pipi kirinya Raka kembali mengotori pipi kanan nya, karna kesal Sakina mengambil mentega yang di tanggan Raka, lalu memoleskan nya keseluruh wajah Raka, kemudian ia timpali dengan tepung roti, wajah Raka kini seperti alien, dan melihat wajahnya di kaca mereka pun tertawa bersama dan berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah mereka.


Di kamar mandi Sakina kembali jahil, ia menyiram air di sekujur tubuh Raka, dan tak mau kalah Raka pun membalas nya, mereka saling melempar air dengam gayung, seperti anak kecil, mereka bisa menikmati waktu bersama.


Kedua nya menggigil kedinginan karna baju mereka basah, Raka tanpa sungkan membuka pakaiannya dan hanya menyisakan celana boxer nya.


"Sakina gosokin punggung kak Raka," pinta Raka, ia pun mengosokan bagian belakang tubuh Raka.


Apakah aku akan kembali kehilangan orang yang ku sayangi, batin Sakina, air mata pun menetes perlahan.


Raka heran kenapa Sakina memeluk nya, iya pun menarik tubuh Sakina dan menarik ke hadapanya, Sakina yang kini berada di hadapan Raka, kembali memeluknya, ia merasa tak rela jika harus kehilangan Raka.


Setelah mengganti pakaianya, Sakina menemui Raka di kamar nya, wajah Raka saat itu pucat, Sakina menghampiri Raka yang bersandar di atas kasurnya, tanpa sungkan iya memeluk Raka, Raka pun menyambut pelukan hangat Sakina.


"Kak Raka jika kak Raka menikah, kak Raka akan tinggal bersama kami di sini kan? Sakina tak ingin jauh dari Kak Raka," ujar Sakina dalam pelukan Raka.

__ADS_1


"Ngak Dek, kak Raka tetap di sini kok, sampai Kak Raka menghembus kan nafas terakhir Kak Raka," ucap nya sambil meneteskan air mata.


Mendengar penuturan Raka, Sakina semakin sedih, ia pun bangkit dan mencium pipi Raka.


"Jangan pergi lagi Kak, sudah banyak yang pergi dari hidup Sakina, Ayah, Ibu, Papa Riki, dan sekarang Kak Raka juga akan pergi," ucapnya sedih.


"Ada yang bilang, bintang yang paling terang adalah bintang yang paling cepat redup nya, sekarang Kak Raka bahagia, Kak Raka punya segalanya, punya kamu, punya Kak Juna dan punya Kak Evelyn, kalian semua menyayangi Kak Raka, dan jika tuhan mengambil Kak Raka saat ini juga, Kak Raka juga sudah siap," ujar nya sambil mencium pipi Sakina.


Arjuna masuk ke kamar Raka, dan melihat mereka yang saling memeluk, tak ada kecurigaan apa pun pada pada Arjuna terhadap mereka, meski mereka berdua tak ada hubungan darah.


"Kak Juna" sapa Sakina.


"Ada apa nih?" tanya Arjuna yang melihat mereka seperti bersedih, tapi mereka tak menjawab hanya tersenyum.


"Kak Juna, Sakina dan Kak Raka," sudah menyiapkan makan malam, Ayo kita makan," ajak nya.


Mereka pun turun bersama, dan langsung makan malam bersama, tampak kebahagian terpancar dari wajah mereka semua.


Selesai makan, Mang ujang menghampiri mereka,


"Ada tamu, Mas Juna," Mang ujang.

__ADS_1


Mereka bertiga pun melihat tamu yang di maksud Mang Ujang dan ternyata tamu tersebut adalah Rangga.


Sakina senang bukan main, tapi melihat Rangga, Arjuna menyuruh Raka, membawa Sakina kekamarnya, walau berat Sakina pun menuruti, ia tak tahu apa yang di di bicara kan mereka, Sakina yang sedih hanya bisa memeluk Raka.


__ADS_2