
Haris masuk ke ruangan Arjuna,
" Selamat siang Pak?" sapa Haris.
"Bagaimana Haris ? dengan perkembangan kasus kecelakaan yang menimpa Ayah, bunda, dan Papa ku?"
"Aku sudah berhasil menemukan bukti baru, yang ada keterkaitanya yang kejadian menimpa kedua orang tua mu, Aku curiga dengan seorang wanita yang pernah di penjarakan ayahmu."
"Seorang wanita yang kini di juluki, Lady Drugs. Suaminya adalah gembong narkoba internasional, mereka selama ini hidup no maden, berpindah dari satu negara ke negara lain". Papar Haris.
"Awalnya aku binggung apa hubungan Ayah mu dengan kasus yang menjeratnya, ternyata, Ayahmu sengaja membongkar kasus kematian seorang gadis bernama dara, dan berhasil memenjarakan Alena," sambung Haris
Haris adalah detektif swasta yang di sewa Arjuna, untuk menyelidiki kecelakaan yang mengakibat orang tuanya meninggal.
"Meski pelaku telah di temukan, dan di penjara, tapi otak pembunuhan berencana itu belum terungkap." Haris.
"Tersangka tak pernah memberi informasi, siapa sebenarnya otak dari pelaku tragedy yang menimpa orang tuamu." papar Haris lagi.
"Dan sekarang, mereka kembali ke Indonesia, aku rasa ia masih punya dendam terhadap keluarga mu, Pak " ungkap Haris.
"Kali ini aku sendiri yang harus menghentikan nya, Aku hanya ingin keadilan untuk orang tua ku, apa pun resikonya. keluarga ku harus terbebas dari ancaman wanita itu, selamanya," ucap Arjuna yakin.
***
Sudah dua hari Rangga dan Sakina mendekam dalam kamar, ini semua atas permintaan Rangga, ia ingin menghabislan waktunya bersama Sakina, dan tak ada yang boleh mengganggunya, mereka keluar hanya pada saat makan, setelah itu kembali lagi kekamar.
Waktu nya makan siang.
Rangga dan Sakina keluar dari kamar, dengan rambut yang masih basah, terlihat sekali mereka habis mandi, dan bukan kali ini saja mereka keluar dengan keadaan seperti itu, tapi sudah dua hari ini, mereka keluar, hanya untuk makan dan selalu keluar dalam keadaan seperti itu. Karna sudah berpengalaman, Nyonya Lily pun bisa menebak berapa kali mereka melakukanya sehari.
Dasar apa ngak bosan berduaan terus di kamar, kayaknya waktu dulu, waktu aku pengantin baru, ngak segitu amat, sejak ada Sakina, Rangga mulai ngak peduli pada ku, batin Nyonya Lily.
Sakina menyendok nasi ke piring Rangga, ia melayani kebutuhan suaminya dulu, baru ia duduk.
Sementara Lily melihat mereka dengan mencibir, seolah cemburu dengan menantunya itu.
Baru dua hari Sakina berada di rumah itu, Lily sudah merasa Rangga sudah tak memperhatikanya, ia hanya sibuk dengan istrinya, batin Llily.
Selesai makan, Sakina membawa Aira masuk ke kamar mereka, ini sengaja di lakukanya, agar Rangga tak terlalu intense terhadapnya.
Saat sedang bermain dengan Aira, Sakina mendapat telpon dari Evelyn.
"Assalamualaikum, Kak Evelyn," sapa Sakina.
"Wa,alaikum salam, Sakina."
__ADS_1
"Ada apa Kak Evelyn, tumben kok nelpon Sakina."
"Kak Evelyn kangen saja sama kamu Sakina, rumah sepi banget ngak ada kamu, Kak Evelyn sendiri di rumah saat Raka dan Arjuna bekerja."
"Kita jalan yuk Sakina, ajak anak kamu sekalian juga boleh," ajak Evelyn.
Sakina tertawa kecil, "Maaf Kak Evelyn, Sakina sudah dua hari di sekap dalam kamar, sama Rangga, ngak boleh keluar," ucap Sakina sambil tertawa kecil.
"Ah segitunya Rangga, lihat saja nanti, jika besok kamu ngak di perbolehkan keluar juga, biar Kak Evelyn yang menculik kamu," canda Evelyn.
"Eh Sakina, jangan lupa ya, malam minggu nanti kamu nginep disini, kita akan kepesanteren Mas Aziz, katanya sih, Arjuna mau di jodohin sama, saudara kembar dari calon istri nya Mas Aziz," papar Evelyn.
"Serius Kak, Kok bisa?" tanya Sakina.
"Ya bisalah, anything is possible." Evelyn.
"Ia juga sih," Sakina.
"Ya sudah Sakina, Kak Evelyn, pulang kerumah orang tua Kak Evelyn, dulu, Kak Evelyn, mau mencuri dokumen kontrak Dedy sama Arjuna, kalau dokumen nya kita musnahkan, Dedy ngak akan bisa menuntut Arjuna lagi, dan Arjuna akan bebas menikahi gadis mana pun yang ia suka," papar Evelyn.
"Terima kasih ya Kak Evelyn, Kak Evelyn, ternyata peduli dengan keluarga Sakina."Sakina pun terharu.
"Sama-sama Sakina, kita kan keluarga, jadi ngak usah sungkan, lagi pula Arjuna, itu sudah banyak berkorban untuk Raka, selain itu ia juga saudara Kak Evelyn." Evelyn pun menetup telponnya.
Evelyn sudah siap dengan rencananya, karna hari masih siang, Dedy pasti masih ada di kantor, aku akan bebas memasuki ruang kerjanya, batin Evelyn. ia pun pergi dari rumahnya, menuju ke rumah orang tuanya.
"What! jadi kau menikahkan putri ku dengan cucu Radja Prawira, Ed?" Alena.
"Ia Alena, hanya itu cara satu-satunya agar kita bisa menguasai harta mereka, dan kita bisa membalaskan dendam Ayah kita," papar Edward.
"Aku tak sudi punya menantu dari keluarga Radja Prawira."
"Kenapa? Jangan bilang Evelyn itu, anak dari mantan kekasimu mu, Riki Radja Prawira?" tanya Edward kepada adiknya.
Alena diam sesaat.
"Jawab Alena!" bentak Edward.
Tidak, aku melahirkan Evelyn, sebelum aku kembali ke indonesia dan bertemu Riki, Karna rasa cinta ku pada Riki, aku rela menelantarkan Evelyn, untung saja kalian mau mengganggap Evelyn sebagai anak kalian, aku menyesal, mengejar cinta seorang pria, tapi ia sedikit pun tak pernah mencintaiku," Papar Alena dengan geram.
"Itulah bodoh nya kau Alena, karna ambisimu, keluarga kita hancur, dan ayah sampai meninggal akibat serangan jantung di penjara, kau sendiri, harus merasa dingginya dinding penjara, selama lima belas tahun." Edward semakin memanasi Alena.
"Dengan susah payah aku kembali membangun bisnis ini, aku bahkan sempat menjadi kaki tanganya Radja Prawira, dan agar mempererat kekerabatan kami, aku dan Radja Prawira menjodohkan Evelyn dengan cucu nya yang bernama Arjuna , tapi dengan bodohnya Evelyn malah memilih Raka, adiknya Arjuna." Edward masih emosi, ia benci pada keluarga Radja Prawira.
"Aku pikir, aku akan gagal menguasi harta mereka, jika Evelyn menikahi Raka, tapi Arjuna datang sendiri dan ia sendiri masuk perangkap ku," papar Edward dengan senyum liciknya.
__ADS_1
"Aku tak sudi anakku, menikah dengan anak Tiara," ucap Alena geram, sepertinya ia masih dendam dengan Tiara.
"Raka bukan anak dari Riki dan Tiara, tapi dari pernikahan nya dengan wanita lain yang bernama Syntia," Edward menjelaskan.
"Apa? bukan anak Tiara?" Alena seolah tak percaya.
"Brengsek, aku setengah mati mengejar-ngejar cinta Riki, tapi tak sedikit pun ia membalasnya, alasanya karna ia hanya mencintai Tiara, tapi kenapa ia bisa punya anak dari wanita lain?" tanya Alena dan langsung tertuju pada Edward, seolah minta penjelasan.
"Itu berarti wanita itu lebih licik, dan lebih pintar dari mu," jawab Edward.
Alena menatap tajam ke mata Edward, sepertinya ia tak terima dengan penghinaan Edwart.
"Kalau begitu di mana putri ku?" tanya Alena.
"Baru sekarang kau mengakui Evelyn, anakmu, bahkan Evelyn sendiri tak tahu jika kau adalah ibu kandungnya, Evelyn hanya tahu, aku dan Risma orang tuanya."
"Sudah lah Ed, harus berapa kali kau menggungkit kesalahanku, aku pulang ke indonesia untuk menemui putriku."
"Kau boleh menemuinya, tapi jangan pernah beri tahu Evelyn, kau ibunya, rencana ku bisa berantakan." Edward menatap Alena tajam."
Evelyn sudah sampai di kediaman orang tuanya.
"Hello Momy," Evelyn memangil ibunya, ia pun langsung masuk kedalam rumah yang terlihat sepi.
Evelyn pun mendengarkan ada orang yang bicara di ruang kerja Dedy nya, seperti sedang bertengkar.
Evelyn masuk tanpa mengetuk pintu.
Ia heran melihat ada seorang wanita yang mirip denganya.
Begitupun kedua orang itu, mereka kaget dengan kedatangan Evelyn.
"Evelyn?" Suara Alena lirih.
Air mata Alena menetes, ketika ia melihat Evelyn sudah dewasa.
"Who is she, Dad?" Evelyn
"She is my sister, you aunt." Edward sedikit gugup, ia takut Evelyn mendengar pembicaraanya dengan Alena.
Evelyn hanya diam, ia tak tahu harus berkata apa, ia tak pernah melihat wanita asing itu.
"Come and hug me, please." Alena merentangkan tangganya.
" I miss you so much, " Alena terpaku ia dan meneteskan air matanya.
__ADS_1
Evelyn pun menurut, ia mendekati Alena dan memeluknya.
Alena terbawa suasana, tapi ia tak berani mengungkapkan jika Evelyn adalah anak kandung nya, Evelyn hanya terdiam dan tak tahu harus berbuat apa, wanita ini terasa asing di matanya, tapi begitu terasa dekat di hatinya.