
Setelah pulang dari Bali Tiara merasakan meriang," Kamu kenapa sayang,?" tanya Riki, ketika melihat Tiara menyelimuti tubuh nya dengan selimut tebal.
"Ngak apa-apa cuma meriang," jawab nya.
"Besok kita kedokter saja," saran Riki.
"Ngak mau mas, nanti aku di infus lagi," jawab nya sambil menarik selimut tebal nya.
"Ya sudah kamu isrirahat saja."Riki pun mendekap Tiara.
**
Pagi hari Riki pun bersiap untuk berangkat, Iya pun membangunkan Tiara.
"Sayang aku pergi dulu, ya."
"Mas kamu kenapa ngak membangunkan aku sih?"
"Aku kasihan melihat kamu, kamu terlihat lelah sekali."
"Nanti kamu telpon Syntia untuk menemani kamu di rumah, karna hari ini aku pulang agak malam."
"Syntia sudah pulang kerumah nya Mas, aku bisa jaga diri sendiri kok."
"Ya sudah, aku usaha kan pulang lebih awal, kamu jaga diri ya, jika ada orang yang ngak kamu kenal, jangan di buka kan pintu," pesan Riki pada Tiara
"Iya Mas" jawab nya.
**
Selepas sholat magrib Tiara pun melepas mukena nya, iya mendengar ada ketukan pintu iya pun keluar dan membuka kan pintu.
Arie berjalan kaki dari masjid menuju rumah nya, saat melintas ada sebuah mobil di pinggir jalan yang membuka pintu dan mengenai Arie.
Arie pun jatuh, ada seorang laki-laki yang keluar dari mobil dan menghampiri nya.
***
Riki sedang dalam perjalanan pulang, iya sudah beberapa kali menghubungi istri nya untuk menanyakan kabar nya.
__ADS_1
Berulang kali Riki menelpon, namun tak ada jawaban, iya pun semakin khawatir, Riki pun menaikan kecepatan laju mobil nya.
Riki mencoba berkali kali lagi menelpon Tiara, namun sama saja tak ada jawaban, karna iya berada dalam kecepatan tinggi dan menggunakan handpone nya, Riki hampir menabrak pohon, untung ya tak terjadi sesuatu pada nya.
"Hampir saja," ucap nya.
Iya pun berusaha menenang kan diri,dan mengurangi laju mobil nya agar terhindar dari hal yang tak di ingin kan.
Riki sampai di rumah pukul sembilan malam tapi keadaan rumah terlihat sepi dan gelap.
Iya pun mengklakson mobil nya, namun tak ada respon, Riki semakin curiga iya pun membuka pintu rumah yang ternyata tak di kunci, iya semakin penasaran, apa kah yang terjadi pada Tiara, pikir nya, hingga iya tak mengangkat telpon dan membiar kan pintu rumah tak di kunci.
Riki pun masuk ke kamar, betapa kaget nya dia.
Iya pun membangunkan Tiara, dengan kasar iya menarik tubuh Tiara.
"Bangun Tiara," bentak Riki dengan emosi. Tiara yang tersadar langsung bangkit dan duduk di atas kasur.
Tapi Riki langsung memberi tamparan keras kepada Tiara, hinga iya tumbang lagi di atas kasur dan mengenai seseorang yang tlah tidur di samping nya.
Darah segar mengucur dari hudung dan mulut nya, tapi kini iya tahu alasan nya kenapa Riki berbuat demikian pada nya.
Tapi Riki yang emosi, kembali menampar wajah nya.
"Berani nya kau Tiara, apa seperti ini perbuatan kamu selama aku tak di rumah."
Tiara sudah menangis, "Mas sungguh aku ngak tahu kenapa Arie ada di sini."
Riki pun langsung pergi tapi Tiara menarik tangan nya, "Mas dengar kan aku dulu, Mas, Kamu boleh pukul aku sesuka hati kamu, tapi jangan tinggal kan aku," tutur Tiara yang menangis terisak.
Riki tak peduli, iya tetap keluar meski kini Tiara berlutut di kaki nya," Mas tolong dengar kan aku sekali saja,"ucap nya.
"Aku tak mau mendengar apa pun dari mu Tiara, dan malam ini juga aku jatuh kan talak pada mu," ucap Riki dengan berapi. Tiara pun histeris iya tak percaya semudah itu Riki menjatuh kan talak nya. Riki pun pergi, Tiara yang tak mampu berdiri, iya pun mencoba menarik kaki Riki kembali, tapi Riki tak peduli meski Tiara terseret karna menarik kaki nya.
Riki keluar dari rumah itu, iya begitu emosi, iya bisa saja membunuh mereka jika iya tetap di sana, Riki tak mampu menahan air mata nya, iya tak menyangka jika Tiara berkhianat pada nya.
Riki membeli beberapa minunan keras dan membawa nya kerumah baru nya, iya pun meneguk nya hingga iya mabuk dan tak sadar kan diri.
Tiara mencoba bangkit, iya menyapu darah yang mengalir di hidung dan bibir nya, tamparan itu tak lagi terasa sakit bagi nya, kini Riki telah pergi, iya telah menyangka bahwa iya dan Arie telah berbuat zina.
__ADS_1
Tiara kembali ke kasur nya dan kembali menangis tapi kemudia iya melihat Arie yang tak kunjung bangun mendengar keributan nya dengan Riki.
Tiara mendekati Arie," Rie bangun Rie," Tiara mengoyang-goyangkan tubuh Arie.
Namun setelah beberapa kali Arie masih tak merespon, iya pun mengambil air dan memercikan nya kemuka Arie, namun Arie tetap tak merespon, Tiara pun bingung dan kehabisan cara untuk nembangun kan Arie.
Tiara semakin khawatir, iya terus membangun kan Arie sambil menangis karna iya takut terjadi sesuatu pada Arie.
Dengan segala daya nya Tiara menopang tubuh Arie dan membawa nya kedalam mobil, Tiara panik kala itu, bahkan sebelum nya iya tak pernah mengedarai mobil nya sendiri, Tiara beberapa kali hampir menabrak namun iya mencoba fokus sambil berdoa, sesekali pun iya memangil nama Arie dan mengoyang kan tubuh nya.
Sesampai nya dirumah sakit, Arie langsung mendapat penanganan, iya langsung di bawa keruang ICU karna tak sadar kan diri, di duga Arie di bius dengan dosis tinggi.
Tiara gelisah dan khawatir iya kini tak lagi memikir kan hubungan nya dengan Riki iya justru memikir kan keadaan Arie yang sedang koma.
Tiara mencoba menghubungi Syntia dan menyuruh nya memberi tahu tentang keadaan Arie.
"Rie, bangun Rie,"pinta Tiara pada Arie.
"Rie, kamu harus sadar Rie, kasihan anak kamu Rie," ucap Tiara berkali-kali.
Tiara mengenggam erat tangan Arie, tapi sedikit pun Arie tak merespon dan Tiara begitu sedih melihat keadaan Arie.
Tiara merasa kan pusing iya pun terlelap di samping Arie, begitu banyak pertanyaan di kepala nya, hingga tak sangup lagi iya untuk berpikir.
Keesokan pagi nya ternyata sudah ada pak Herman dan ibu nya Arie, mereka semalaman menunggu di luar, karna tak di perboleh kan masuk, karna di ruang ICU hanya bisa di jaga satu orang dan Tiara berada di sana menjaga Arie semalaman.
Tiara keluar untuk mencari udara segar sambil mencoba menghubungi Riki, iya pun bertemu dengan Pak Herman dan ibunya Arie.
"Tiara, bagaimana keadaan Arie ?" tanya ibu nya.
"Arie masih belum sadar Bu," jawab Tiara lirih.
"Tiara bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Pak Herman.
"Tiara juga ngak tahu Pak, saat Tiara bangun Mas Riki menemukan Tiara tidur bersama Arie, dan karna masalah ini Mas Riki telah menjatuh kan talak nya pada Tiara, pak," tutur Tiara lirih dan iya pun menangis.
Tiara merasa kan sakit kepala dan merasa ingin muntah, dengan segera iya berlari ke toilet dan muntah disana.
Setelah puas memuntah kan isi perut nya iya pun merasa lemas, iya mencoba keluar dari toilet dan pingsang di pintu toilet, untung Pak Herman berhasil menangkap tubuh nya hingga iya tidak tumbang di lantai.
__ADS_1