
Riki sedikit kewalahan dengan kerjaan nya, iya pun bermaksud mencari asiten yg bisa di percaya untuk mengurusi proyek nya.
"Siapa yang cocok dan bisa di percaya," ucap nya pada diri sendiri, iya pun mengecek daftar kontak nya, tanpa sengaja iya melihat foto Tiara dan Arjuna,
"Sudah seminggu aku ngak bertemu Arjuna," ucap nya pada diri nya sendiri.
"Tapi aku malas bertemu mereka, kenapa ya aku harus berpisah dengan orang-orang yang ku cintai," tutur Riki.
"Apa ini juga karma bagi ku, karna dulu aku sering mempermain kan perasaan perempuan." batin nya.
Riki keluar untuk makan siang di sebuah restoran, tanpa sengaja iya bertemu dengan Arie.
"Rie,!" Panggil Riki.
Arie yang tadi nya mau jalan, iya pun berhenti.
Arie mendekati Riki yang memanggil nya,
"Ada apa Mas?" tanya Arie.
"Kamu dari mana Rie?" tanya Riki.
"Habis ngantar penumpang, Mas"
"Oh iya Rie, kita makan siang yuk, ada yang ingin aku bicara kan sama kamu," ajak Riki.
Arie berfikir sebentar, sebenar nya iya tak enak harus menolak ajakan Riki, tapi Tiara sudah menunggu nya di rumah.
"Ayo, Rie" ajak Riki dengan sedikit memaksa.
"Iya Mas, tapi sebentar aku telpon Tiara dulu iya pasti sudah menyiapkan makan siang untuk ku," ujar Arie.
Ada sedikit kecemburuan di hati Riki,"saat iya menyebut nama Tiara, iya bahkan tak ingin bertemu Tiara dan Arjuna dahulu, karna iya masih mencintai nya.
Setelah menelpon Tiara, mereka pun masuk dan memesan makanan.
Sambil menunggu makanan tersaji, mereka pun mengobrol.
"Rie, kamu belum dapat kerjaan?" tanya Riki.
"Belum Mas, belum ada panggilan."
"Rie, kamu mau ngak Rie, kerja sama aku, kebetulan aku butuh Asisten yang dapat aku percaya, untuk menangani proyek ku Rie, terus terang aku kewalahan, lagi pula siapa yang dapat ku percaya lagi selain kamu," Rie, papar Riki.
Arie tertawa kecil, "Aku Mas? kayak nya aku ngak bisa Mas, takut ngecewain kamu lagi, Proyek kamu, kan proyek besar sementara aku biasa hanya jadi konsultan untuk proyek kecil-kecilan." tolak Arie secara halus.
"Udalah Rie, kamu terima saja, lagian aku butuh orang yang bisa ku percaya, karna proyek ini ngak main-main Rie."
__ADS_1
"Aku banyak kerjaan Rie, apa lagi sebenrar lagi Papa ku mau pensiun, dan aku di suruh menggantikan nya."
"Aku ngak punya saudara, apalagi teman yang bisa ku percaya, selain kamu Rie, Aku ngak percaya dengan orang selain dengan kamu Rie," ucap Riki tulus.
"Nanti aku pikirin Mas," jawab Arie.
"Ngak usah dipikir lagi Rie, lagian sarjana kayak kamu kan sayang kalau hanya jadi pengaspal jalanan, sudah mau saja, besok kamu datang kekantor aku, pakai baju yang rapi dan berdasi, karna kamu resmi jadi assisten pribadi aku Rie," ucap Riki yakin.
Arie hanya melongok dan menggelenkan kepala nya, seperti nya Riki memang tak memberi kesempatan untuk nya menolak.
Melihat Arie yang terbengong, Riki pun angkat bicara lagi, "Sory Rie, jika sedikit memaksa, Kalau ngak gitu kamu pasti menolak," ucap Riki, yang seolah tahu dengan pikiran Arie.
Dan mau tak mau Arie pun setuju.
"Ok Rie, besok aku tunggu jangan terlambat nanti, kalau terlambat langsung ku kasi SP satu ya," canda Riki.
"Siap bos," balas Arie.
Pulang kerumah Arie langsung menemui Tiara, dan dilihat nya Tiara sedang sibuk hingga, saat Arie pulang dan waktu hampir magrib Tiara belum mandi.
"Bun, kok tumben istri ku tang cantik ini, masih kucel, biasa nya kalau ayah datang, sudah di sambut bak bidadari," canda Arie.
"Bidadari apa nya, bunda dari tuh sibuk, mesin cuci rusak lagi, jadi terpaksa bunda ngucek sendiri, lihat aja kuku-kuku bunda jadi patah," keluh Tiara.
"Iya bun, besok selesai sholat subuh, biar ayah yang nyuci, jadi bunda ngak repot," ujar Arie.
"Bukan begitu yah, Arjuna tadi rewel banget, jadi bunda ngak sempat ngapa-ngapain, tadi yang masak saja ibu," jelas Tiara.
Arie hanya mengangguk," Sudah bun kamu mandi, sebentar lagi Magrib, biar Arjuna ayah bawa jalan dulu."
Arie pun membawa kedua putra nya jalan-jalan menuju rumah Pak Herman.Karna Aziz sudah bisa berjalan, iya nemimpin Aziz dan menggendong Arjuna .
Sambutan hanggat langsung di dapat Arie ketika berada di rumah mertua nya tersebut.
Bu Laila langsung menghampiri dan menggendong Aziz.
"Masuk Rie," ajak Ibu.
Setelah mengucap salam Arie pun masuk.
"Tiara mana Rie?", tanya Bu Laila.
"Lagi mandi bu, karna kerepotan, Arjuna rewel jadi Arie bawa jalan, biar Tiara bisa mandi."
"Memang repot Rie, apa lagi, Arjuna dan Aziz sama-sama masih kecil, dan Tiara pastinya belum terbiasa dengan keadaan nya sekarang, jadi maklum saja Rie, kamu harus lebih banyak bersabar Rie," nasehat Bu Laila.
"Insyaallah Bu," ucap Arie.
__ADS_1
"Rie, kalau di ijin kan, biar Ibu saja yang mengasuh Aziz, lagi pula Ibu kesepian anak-anak ibu pada jauh semua, dan Aziz selalu mengingat kan ibu pada Aisyah?" pinta ibu Laila.
"Arie ngak keberatan bu, apalagi rumah kita dekat, tapi Arie juga harus jaga perasaan Tiara, sekarang Arie ngak bisa ambil keputusan sendiri, bagaimana pun Tiara ibu sambung Aziz sekarang Bu," jawab Arie.
"Iya Rie, Ibu paham "
Arie pulang hanya membawa Arjuna,
"Aziz mana Yah?" tanya Tiara.
"Sama mbah nya," jawab Arie.
"Bun, tadi Ibu Laila meminta ayah, agar bisa mengasuh Aziz, Bun, menurut kamu gimana Bun?"
"Yah kamu ngak percaya ya sama Bunda?" tanya Tiara ngambek, iya pun langsung masuk kekamar nya.
"Aduh ngambek lagi," ucap Arie pada dirinya sendiri.
"Biarin saja lah, nanti bentar juga hilang ngambek nya, kalau di bujuk terus, nanti makin manja," batin Arie
Setelah sholat isya, Arie pun merebahkan tubuh nya di samping Tiara, sedang kan Tiara masih meneteki Arjuna .
Arie mengusap lembut rambut Tiara, dan sesekali mencium nya, tapi sedikit pun Tiara tak bereaksi.
"Bun, kalau punya masalah itu harus nya di ungkap kan, bukan cuma diam-diaman, jika seperti itu, mana Ayah tahu Bun, mau kamu apa?"
"Lagi pula Ayah hanya menyampaikan permintaan Bu Laila saja, kalau kamu ngak setuju, ngak perlu marah Bun," ucap Arie dengan sabar.
Tiara tergugah dengan kata-kata Arie, Arie memang benar, masalah kecil tak perlu di perbesar, Iya selalu saja marah pada Arie,meski karna hal yang sepele.
"Apa karna aku menikahi Arie bukan dasar cinta, hanya tak ingin mengecewakan nya, lalu aku bersikaf seenak ku sendiri," batin Tiara.
"Harus nya aku sudah siap dengan semua ini, tak perlu terus mengeluh dan tetap mempertahan kan ke egoisan ku sendiri," batin Tiara.
Iya pun berbalik arah, menghadap Arie,
"Maaf ya Yah, Bunda selalu saja egois, dari dulu sampai sekarang, Ayah terus yang mengalah, mungkin karna Bunda tahu Ayah terlalu mencintai Bunda, hingga Bunda jadi keras kepala, sekali lagi Maaf ya Yah," tutur Tiara.
"Syukur lah Bun, tanpa harus di jelaskan panjang lebar akhir nya kamu mengerti," ucap Arie di hadapan Tiara, sambil membelai rambut panjang nya.
"Bun, Arjuna sudah tidur Bun?"Arie
"Sudah Yah," jawab Tiara singkat.
"Kalau gitu, giliran Ayah dong Bun ditiduri," bisik Arie mesra di telinga Tiara.
Tiara yang mengerti pun, langsung mengarah kan Arie keatas tubuh nya.
__ADS_1