
Raka dan Arjuna langsung menuju panti asuhan, bermaksud untuk menemukan jejak Sakina, menurut informasi dari pihak panti, Sakina pindah ke kota x untuk bekerja, dan itu merupakan kota tempat tinggal mereka.
Pihak panti hanya memberi informasi, bahwa Sakina bekerja di salah satu agency penyaluran baby sister.
Tanpa menunggu lagi, mereka pulang dan berencana akan mencari satu persatu agency penyaluran baby sister di kota mereka.
Arjuna ingin turun sendiri mencarinya, iya pun mendatangi beberapa jasa penyalur baby sister namun hasil nya masih nihil.
Tentu saja tak semudah yang di bayangkan, karna dari pihak agency tentu tak mau memberi informasi sembarangan, mereka lebih suka menutupi nya, demi kepentingan mereka sendiri.
Hari sudah sore, sudah seharian mereka mencari, namun belum juga menemukan hasil nya, pencarian akan di lanjutkan esok hari.
Arjuna duduk di dalam mobil, terlihat sekali kegelisahan di wajah nya.
"Kak kau kenapa?" tanya Raka yang melihat Arjuna gelisah.
"Sakina ada di kota ini, tapi kita belum menemukan jejak nya, aku kesal sekali Raka."
"Sabar saja Kak, besok kita cari lagi," Raka coba menenangkan Arjuna.
"Tenang, bagaimana bisa tenang, jika adik ku tersayang harus menjadi pembantu, hanya untuk melanjut kan kelangsungan hidup nya," Arjuna kembali sedih.
"Kau lihat Raka, kita berada di rumah mewah, mobil mewah, mau apa saja tinggal bilang, sementara adik ku, harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan lebih menyedihkan iya harus menjadi pembantu,bagai mana jika majikan nya berlaku kasar, semena-mena terhadapnya, sementara aku kakak nya tak bisa menolongnya."
"Sakina ku bahkan tak pernah ku biarkan mencuci piring bekas nya makan, iya juga tak pernah mencuci sepatu nya, semua aku yang melakukan nya, meski Ayah dan Bunda selalu memarahiku karna terlalu memanja kan nya, tapi begitulah aku, aku terlalu menyayanginya, meski ku tahu itu juga tak baik untuk nya."
"Kau tahu Raka, Sakina tak pernah membereskan tempat tidur nya sendiri, semua aku yang mengerjakan nya, karna apa? karna aku terlalu memanjakan nya, terlalu menyayanginya, waktu Sakina sakit, aku bahkan juga ikut sakit, jika iya menangis, aku langsung datang untuk memeluk nya, dan sekarang adiku ku harus menjadi pelayan seseorang, melihat keadaan di panti tadi, aku semakin miris, bagaimana adiku bisa hidup dan bertahan di sana, di tempat yang asing dan hanya seorang diri, aku semakin merasa bersalah." Arjuna semakin sedih
Semenjak kejadian malam itu, Sakina berusaha untuk menghindar dari nyonya Lili, iya hanya membawa Aira main di kamar nya, untung saja Aira bayi yang manis, iya jarang sekali rewel, melihat Aira yang lucu, Sakina pun merasa tenang, baginya, kehadiran Aira cukup membuat nya terhibur, ada sebuah harapan kecil bagi seorang wanita bernama Sakina, suatu saat iya ingin menikah, dan mempunyai anak seperti yang lucu dan menggemeskan seperti Aira.
Sang nyonya yang akuh, terus saja mondar-mandir di depan kamar Sakina, seperti nya iya berusaha mencari-cari kesalahan Sakina, agar ia bisa mengusirnya dari sini.
Entah kenapa nyonya Lili, sangat tak menyukai Sakina, iya takut jika Rangga akan jatuh cinta pada Sakina dan menikahinya, iya tak kan setuju jika anaknya menikahi pembantu, harus nya lelaki ganteng seperti Rangga bisa mendapat wanita yang kaya, dengan demikian ia bisa hidup enak selamanya, tak seperti sebelum nya, sebelum menjadi General manager di salah satu perusahan Radja Prawira grup, Rangga hanyalah karyawan biasa dengan gaji standar UMR, tapi nasib Rangga sedikit beruntung karna iya menikah dengan Airin, dari Airin lah Rangga mengenal Arjuna .
Airin berasal dari keluarga yang berada, Ayahnya, sepupu dari Riki Radja Prawira, dengan demikian Airin dan Arjuna masih berkerabat dekat.
Cinta Airin pada Rangga, mampu membuat iya meninggalkan kehidupan nya yang mewah dan bergelimang harta, Airin jatuh cinta pada karyawan nya sendiri.
__ADS_1
Cinta mereka tak pernah di restui, namun cinta Airin pada Rangga pula yang membuat Airin sanggup meninggalkan keluarga nya.
Iya pun rela hidup sederhana bersama Rangga, tak ada keluarga yang membantunya, hanya Arjuna yang mau menerima Rangga bekerja, dan mengangkatnya salah satu posisi penting di perusahaan tersebut.
Orang tua Airin mengancam akan mencoret nama Airin sebagai salah satu ahli waris keluarga mereka, tapi Airin tak perduli, iya tetap kukuh akan menikah dengan Rangga.
Pengorbanan Airin yang sangat besar, itulah membuat Rangga, bersumpah untuk tidak mencintai wanita lain, selain itu, saat Airin sudah mengetahui kehamilan nya ada masalah, Airin tetap mempertahan kan kehamilan nya, hingga ia meninggal saat melahir kan Aira, itulah sebab nya, Rangga merasa tak ada wanita yang sanggup menggantikan posisi Airin.
***
Sakina sudah terlelap, namun iya tersadar ketika ada suara ketukan pintu, dan seseorang di luar sana sedang memanggil pelan namanya.
Dengan perasaan malas dan masih menguap, Sakina coba membuka pintu, dan iya pun menemukan Rangga di depan pintu kamarnya.
"Ada apa Pak?" tanya Sakina sambil mengucek-ngucek matanya, iya masih merasa ngantuk dan lelah.
"Sakina ikut aku, " Rangga menarik tangan Sakina pelan dan menuntun nya masuk ke kamarnya.
Sakina yang masih dalam keadaan setengah sadar hanya mengikuti, tanpa berani protes, Rangga kembali membawa Sakina ke kamar nya, menutup dan mengunci pintu kamarnya.
Mata Sakina terbelak kaget, ketika mengetahui ia sudah berada di kamar Rangga.
Sakina melirik jam dinding yang ada di kamar Rangga, iya pun kaget,
"Hah, ini sudah jam sebelas malam, apa masih mau latihan jam segini," ucap Sakina sedikit protes.
"Hus, jangan ribut, aku sengaja menunggu ibu ku tidur, agar iya tidak berfikir yang bukan-bukan tentang kita," ujar nya sedikit berbisik.
"Tapi aku ngantuk pak," iya pun menguap.
"Sakina, pesta itu seminggu lagi, dan besok kemungkinan aku ngak sempat, mau tidak mau, kita harus latihan secepatnya, ucap Rangga, iya menarik lembut tangan Sakina, agar Sakina berdiri.
Dengan perasaan malas Sakina pun berdiri, "Pakai sepatu itu," tunjuk Rangga pada sepatu yang sudah di siapkan nya, ya, sepatu seharga lima juta itu.
"Tapi Pak kenapa harus pakai sepatu itu lagi," protesnya.
"Karna kamu ngak tinggi, makanya kamu harus pakai sepatu itu, meski dalam keadaan latihan."
__ADS_1
"Ini sungguh menyiksa," batin Sakina.
Ia pun memakai sepatunya, sedang kan Rangga meredup kan lampu kamarnya, iya mengambil handphone nya kemudian memutar lagu romantis untuk berdansa,
Lagu Beautiful in White, mengalun sahdu di antara kesunyian malam.
Sakina berdiri dan Rangga kini berada di hadapan nya, Sakina sendiri masih menggunakan piyama bergambar Hello Kitty, semakin membyat nya cutte.
Rangga semakin mendekat dan sangat dekat, kini mereka berada di garis sejajar, lagu romantis itu masih mengalun mengiringi langkah Rangga, yang semakin mendekati Sakina.
Sebetulnya Rangga sendiri nervous, karna kini berada dekat sekali, bahkan tubuh mereka hampir merapat.
Rangga meraih salah satu tangan Sakina, dan menggengam nya dan satu tangan nya lagi kini berada di pinggang Sakina.
Sakina menolak dan coba menarik dirinya tapi Rangga menahan nya.
"Sakina percayalah padaku, aku tak berniat apa pun padamu, aku juga sebenarnya tak ingin melakukan nya, tapi demi menghargai bos ku, aku harus lakukan ini, kau mau kan membantuku?" ucap Rangga sambil menganggkat dagu Sakina, karna Sakina tertunduk menahan malu.
Sakina hanya mengganguk, ia percaya bahwa Rangga tak berniat jahat padanya.
Gerakan mereka seiring dengan lantunan musik pengiring, suasana kamar yang redup dan tenang di tambah lagi alunan musik romantis, mengingat kan Rangga akan mendiang istrinya, dimana iya juga pernah berdansa bersama Airin saat malam pengantin mereka, dengan lagu yang sama Beautiful in white, lagu yang di pilih Rangga, karna saat pernikahannya, Airin menggunakan gaun putih yang membuatnya semakin cantik.
Rangga terlarut terbawa suasana, teringat akan kenangannya bersama Airin, iya tanpa sadar menarik tubuh Sakina dan memeluknya, pelukan dan kehangatan yang begitu iya rindukan.
Tak di sangka, Sakina merebahkan kepalanya dan tersandar di dada Rangga, jantung Rangga berdetak kencang, sejenak iya berhenti bergerak..
"Apa Sakina menyukaiku," batin nya.
Karna kini, Sakina melingkar kan tanggan ke di bagian perut Rangga.
Rangga mengatur nafasnya, iya semakin gugup, tak tahu apa yang harus iya lakukan, sedang kan Sakina, masih berada dalam dekapan nya.
Musik masih mengiringi mereka, tapi Rangga hanya terdiam memaku, iya mempertahan kan keseimbanganya agar tak jatuh, karna coba menopang tubuh Sakina, ternyata Sakina tertidur dan terlelap dalam pelukan nya.
Rangga hanya tersenyum simpul, iya hampir mati karna menahan geer, iya sempat berfikir jika Sakina menyukainya, tapi ternyata iya terlelap hingga tak sadar memeluk Rangga.
Rangga meletakan tubuh Sakina yang telah pulas di samping Aira, sedangkan iya sendiri, harus tidur di kamar tamu.
__ADS_1
"Sakina, kamu memang polos, bisa-bisa nya kamu tertidur dengan cara seperti ini, seperti tak ada beban saja dalam hidup mu," tutur Rangga pada Sakina yang terlelap.